----- Original Message -----
From: rahim rahima <[EMAIL PROTECTED]>
> "Hati-hati,jangan sampai
> kecantol dan kawin sama orang Minang,karena lelaki
> Minang itu ngak dapat harta
> warisanlah,pemalaslah,membiayai keponakannya meskipun
> sudah kawin,serta yang tak kalah menarik dan yang
> paling membuat wanita2 kecut dan gentar utk kawin
> bersama lelaki Minang pendapat yang satu
> itu,yaitu,Lelaki Minang suka kawin banyak,meskipun
> sudah kakek2 apalagi belum jadi kakek2 kali.
> Yang ingin saya garis bawahi disini
> adalah,pertama itu bukan pendapat saya
> pribadi.kedua,itu justru pendapat wanita Minang yang
> justru mereka asli Minang(maksud saya mereka yang
> benar2 lahir dan hidup di daerah Minag kabau sejak
> dari kecilnya,sampai mereka dewasa,
Sister Rahima,
Biasanya saya hanya tertarik untuk bersuara kalau ada posting di rantaunet
ini yang menempatkan perempuan dalam posisi yang tidak
menguntungkan.Hehehe...tapi kali ini lain, dikotomi lelaki-perempuan di
minang sekarang, tampaknya memakan korban kaum lelaki. Karena, mungkin
percaya pada kesetaraan dan selalu ingin hidup dalam perdamaian, saya
tertarik untuk menggaris bawahi pula garis bawah anda, bahwa ada seorang
perempuan minang " tulen" (maksudnya dari kecil sampai dewasa hidup dalam
ikatan geografis, lokalitas dan emosional minang) memandang kenyataan sosial
sekelilingnya dari sisi yang tidak menguntungkan bagi kalangsungan integrasi
sosial komunitas minang.
Pertama, adalah benar bahwa lelaki minang tidak mendapat warisan harta
pusaka berupa benda materi dari kaum kerabatnya.
Kedua, adalah benar bahwa di minang berlaku pribahasa anak dipangku
kemenakan dibimbing. Ini adalah fakta sosial yang bersifat umum dimana ia
memaksa setiap lelaki minang untuk mematuhinya.Tak apa kalau mereka menolak
karena ada sangsi sosial yang menunggu mereka. Tapi adalah TIDAK BENAR
kalau teman anda mengatakan bahwa lelaki minang itu pemalas dan doyan kawin.
Ini terlampau spekulatif. Dari mana ia mendapatkan data untuk membuat
pernyataan tesebut? Dari pengalaman pribadi? Dari melihat contoh di
lingkungan? Mungkin saja benar keduanya. Hanya ... tetap saja dia salah
karena predikat pemalas dan doyan kawin hanya dapat dikenakan pada individu
bukan pada kolektif. Saya tidak mengingkari kenyataan bahwa suatu masyarakat
memang memiliki ciri khasnya sendiri. Orang manado dan ambon dikenali
sebagai etnis suka yg dg pesta atau orang jawa yg dikenali dg sifat
nrimonya. Sebanyak orang manado yang suka pesta, sebanyak itu pula yang
tidak menyukai kehidupan hura-hura. Begitu pula dengan orang jawa yang
sabar. Sebanyak yang nrimo, sebanyak itu pula yang kalang kabut tidak
sabaran.Jadi sifat suka pesta dan nrimo dari kedua suku tersebut sama sekali
bukan representasi kolektif orang manado dan jawa. Mungkin ini hanyalah
akumulasi dari beberapa sifat individu yg kemudian di push untuk menunjukan
ciri khas suatu masyarakat secara mudah. Dan tentu saja ini berlaku bagi
predikat lelaki minang yg pemalas dan doyan kawin,sis.
Wassalam,
Evi
(yg pernah di taksir lelaki minang, patah hati oleh lelaki jawa, menikah dg
lelaki dari dataran china dan memberikan seluruh hidupnya pada dua calon
lelaki tampan keturunan minang-china.)
RantauNet http://www.rantaunet.com
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
===============================================
Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3
ATAU Kirimkan email
Ke/To: [EMAIL PROTECTED]
Isi email/Messages, ketik pada baris/kolom pertama:
-mendaftar--> subscribe rantau-net [email_anda]
-berhenti----> unsubscribe rantau-net [email_anda]
Keterangan: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung
===============================================