Assalamualaikum wr.wb.
   semoga sahabat2ku yang ada di depan com ini maupun
dibalik layar com ini berada dalam keadaan sehat wal
afiat adanya,amin...
   Dari sekian mail yang menanggapi mail saya ttg
lelaki Minang ini ada satu mail yang cukup menarik
perhatian saya,yaitu saudari Evi,yang datangnya justru
dari wanita,dgn memaparkan facta2  kebenaran yang saya
sampaikan,sementara ada yang menanggapinya dgn hati
yang kesal,setelah ia digelitik dgn fenomena2 yang
menyangkut dirinya.Begitulah watak manusia dalam
menilai dan memandang sesuatu itu dari sudut pandang
yang berbeda2.ada yang langsung mengklaim dan
memvonis,ada yang coba berintekasi lebih jauh,ada yang
menalarkan sesuatu itu lebih jauh lagi.rambut sama
hitam,tetapi pendapat berbeda2.
   Sekali lagi saya sampaikan pada teman2,bahwa
sedikitpun pada mulanya saya membuka cerita2 yg
mungkin suatu hal lelucon bagi seseorang hal tsb,ada
niat berbau pilitis,dan suatu misi(entah misi apa yg
dimaksud,saya yg bisa ngerti) dari balik cerita yang
saya bawa itu.apalagi yg saya sampaikan itu adalah
suatu pengalaman saya sendiri,sementara saat itu ada
pendapat dari teman2 saya yang "tulen"
Minang,diperkuat oleh majalah "Kartini"saat itu(sayang
saya tidak fotocopy isi berita tsb).
   Mengenai sifat pemalas,saya sudah menyampaikannya
dgn panjang lebar,tetapi mengenai,pelit,justru
sepanjang saya mengenal lelaki Minang dalam hidup
saya,mereka justru pemurah,sekali ketimbang
wanitanya(ini fakta pergaulan saya dgn lebih dari
seribu orang wanita Minang di Diniyyah ketika
itu,dapat dihitung dgn jari berapa orang yang
pemurah,begitupun ketika saya di Mesir dari dari
sekian banyak teman2 wanita saya yg berasal dari
Minang hanya beberapa orang saja yg pemurah,tetapi hal
ini juga terjadi pada wanita lain,terutama wanita
Malaysia,mungkin lebih parah lagi ketimbang wanita
Minang,jadi mengenai pelit saya ngak dapat berkomentar
apa2,karena itu semua tergantung dari sikon masing2)
   Dari lelaki kawin banyak,secara jujur saya
mengatakan,mungkin hal ini terjadinya pada masa bapak2
atau kakek2 kita yang terdahulu,tetapi setelah lelaki
Minang itu banyak yg merantau keluar,hal tsb,jarang
terjadi lagi.coba saja saudara2 perhatikan dgn
Bapak2atau kakek2,atau paman2 saudara,berapa orang
mereka punya istri.benar memang masing2 mereka punya
tujuan dan dzuruf(sikon) masing2,sampai ada yang
beristeri empat.(sekarang kita kembali bertanya lagi
sikonnya itu yang bagaimana,dalam Islam memang lelaki
diperbolehkan kawin sampai empat,tetapi,itukan ada
syarat2nya?emangnya setiap hukum Islam itu ada yang
enak kedengarannya,mata dibelalakkan,sementara ada yg
kurang pas dihati kita,mata dipicingkan?,
   Sekarang mengenai harta warisan,saya masih ingat
sekali,ketika buya Hamka,mengkritik habis2san mengenai
harta warisan ini.jelas bertentangan dgn hukum2
Islam,padahal katanya,adat Minang itu bersandikan
Syara,dan Syara,bersandikan Kitabullah,mana yang
bersandikan Kitabullah kalau semacam itu,warisan saja
jatuh pada wanita,dan anak dipangku kemenakan
dibimbing?(sekali lagi ingat!saya hanya ingin membawa
Minang itu kepada hukum2 Islam,karena memang selama
ini yang saya ketahui hal2 inilah yang selalu jadi
bahan ejekan daerah lain terhadap Minang Kabau,hal ini
saya rasakan sendiri,baik ketika saya masih di
Medan,maupun sampai sekarang saya hidup selalu ditanya
oleh ibu2 Diplomat yang diluar Minang (bagaimana
sebenarnya itu ibu Rahima Hukum2 Minang itu mengenai
harta warisan,kenapa jatuh kepada wanita,dan anak
dipangku kemenakan dibimbing,bagaimana membimbing
kemenakan,sedangkan anak saja kocar-kacir,kalau begitu
terus hukum yg ada di MInang,setiap paman harus
menanggung biaya keponakannya,enak dong yang jadi
Bapaknya,ada pamannya...dst..dst...)
   Dan mengenai warisan juga mengenai keponakan ini
dibenarkan oleh saudari Evi,disini saya justru balik
bertanya,kalau begitu,kapan Minang itu melaksanakan
Hukum2 Islam???kalau tidak setuju lantas ada sanksi
sosialnya.
    Saya sendiri bersuamikan orang Minang
tulen,mengakui secara jujur,suami saya itu pandai
berdiplomasi(utk menyampaikan sesuatu itu selalu dgn
kata2 yg halus dan sindiran),beradat sopan
santun,sangat pemurah sekali,baik terhadap saya
sendiri,anak2nya maupun oranglain,dan ini sesuai dgn
sikap saya sendiri yang senang bermasyarakat,ia
seorang lelaki yang sangat rajin terutama dalam
pekerjaannya di kantor(karena itu saya tdk
mengomentari mengenai lelaki Minang itu
pelit,pemalas,suka kawin banyak karena saya tahu itu
mengenai individual seseorang)saya hanya mengomentari
harta warisan dan keponakan itu saja yang ternyata
dibenarkan oleh saudari Evi.dan hal2 inilah yg selalu
dikecam oleh orang diluar Minang,dan selalu ditanyakan
teman2 saya,saya ngak mampu menjawabnya karena itu
merupakan suatu realitas hidup di Minang,hanya saja
saya sering bertanya dalam diri sendiri,bagaimana
sebenarnya yg dimaksud adat bersandikan
syara,,syara,bersandikan Kiatabullah,sementara ada
hal2 yg tidak sesuai dgn hukum2 Islam di Minang Kabau
ini???....silahkan kalau ada lagi yang ingin menjawab
dan mengomentari mail saya ini,padahal asal mula dari
cerita saya itu demi Allah saya tak ada maksud politik
maupun misi tertentu,tetapi ternyata hal ini
berkelanjutan terus,yah,ngak apa2 lebih baik hal ini
dijelaskan sejelas2nya,dgn argumen2 yg dapat diterima
oleh akal dan agama,itu yang saya tuntut sekarang dari
para pembaca.
--- Evi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 
> ----- Original Message -----
> From: rahim rahima <[EMAIL PROTECTED]>
> 
> > "Hati-hati,jangan sampai
> > kecantol dan kawin sama orang Minang,karena lelaki
> > Minang itu ngak dapat harta
> > warisanlah,pemalaslah,membiayai keponakannya
> meskipun
> > sudah kawin,serta yang tak kalah menarik dan yang
> > paling membuat wanita2 kecut dan gentar  utk kawin
> > bersama lelaki Minang pendapat yang satu
> > itu,yaitu,Lelaki Minang suka kawin banyak,meskipun
> > sudah kakek2 apalagi belum jadi kakek2 kali.
> >      Yang ingin saya garis bawahi disini
> > adalah,pertama itu bukan pendapat saya
> > pribadi.kedua,itu justru pendapat wanita Minang
> yang
> > justru mereka asli Minang(maksud saya mereka yang
> > benar2 lahir dan hidup di daerah Minag kabau sejak
> > dari kecilnya,sampai mereka dewasa,
> 

> saya
> tertarik untuk menggaris bawahi pula garis bawah
> anda, bahwa ada seorang
> perempuan minang " tulen" (maksudnya dari kecil
> sampai dewasa hidup dalam
> ikatan geografis, lokalitas dan emosional minang)
> memandang kenyataan sosial
> sekelilingnya dari sisi yang tidak menguntungkan
> bagi kalangsungan integrasi
> sosial komunitas minang.
> 
> Pertama, adalah benar bahwa lelaki minang tidak
> mendapat warisan harta
> pusaka berupa benda materi dari kaum kerabatnya.
> Kedua, adalah benar bahwa di minang berlaku
> pribahasa anak dipangku
> kemenakan dibimbing. Ini adalah fakta sosial yang
> bersifat umum dimana ia
> memaksa setiap lelaki minang untuk mematuhinya.Tak
> apa kalau mereka menolak
> karena ada sangsi sosial yang menunggu mereka> >
===============================================


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Send your FREE holiday greetings online!
http://greetings.yahoo.com

RantauNet http://www.rantaunet.com

Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
===============================================
Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3

ATAU Kirimkan email
Ke/To: [EMAIL PROTECTED]
Isi email/Messages, ketik pada baris/kolom pertama:
-mendaftar--> subscribe rantau-net [email_anda]
-berhenti----> unsubscribe rantau-net [email_anda]
Keterangan: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung
===============================================

Kirim email ke