-----Original Message-----
From: Suraupyk [mailto:[EMAIL PROTECTED]] 
Sent: 15 Februari 2002 15:05
To: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
[EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]
Subject: artikel dari tabloid ummat surau


Kabau, Minang
Oleh : Yulfian Azrial

Pada hakekatnya, Tambo begitu terang menuturkan akar sejarah yang
sebenarnya. Bahwa para nenek moyang kita datang setelah redanya topan
Nabi Nuh. 
Artinya, dengan memahami sejarah dalam Tambo, kesatuan
sejarah dunia bakal utuh kembali. Sekaligus membuktikan
bahwa sejak awal, nenek moyang kita adalah muslim; karena
Adam As seorang muslim. Atau siapa yang berani bilang kalau Adam As non
muslim? Coba simak lagi QS 3 : 81,83, QS : 22:78. Sementara, bila nenek
moyang kita adalah Sultan Iskandar Zulkarnain. Alangkah tidak masuk
akalnya. Terutama karena keberadaan tarikh zaman Sultan Iskandar
Zulkarnain berabad-abad setelah topan nabi Nuh. 
Selain itu, tentunya anak Sultan Iskandar Zulkarnain
jumlahnya tentu lebih dari tiga orang. Sebagai seorang
kaisar yang memiliki permaisuri dan sejumlah selir, tentu sangat sulit
menghitung jumlah anaknya. 
Sang his-story memang telah sukses mengalihkan nama Nuh
sebagai Sultan Iskandar Zulkarnain(SIZ). Ini sungguh telah meracuni
keluhuran Tambo. Tambo yang semula dianggap sakral oleh para Minang,
yang diwariskan secara hati-hati berdasarkan pola sabarih bapantang
lupo, satitiak bapantang tingga, akhirnya ‘diracuni’ Belanda
dan sang his-story untuk kepentingannya. 
Maka yang mengakui Tambo versi Belanda (yang dalam catatan sejarah
disosialisasikan lewat para regent dan tuan lareh), tiba-tiba berubah
menjadi kabau, yang mau saja digiring ke mana.  Maka, sejak itu Tambo
jadi terkesan hanya sekadar Ota Ambo, cerita Tambahan Ambo atau karya
sastra lisan dengan Tambah-tambahan Bohong. 
Selanjutnya, para kabau dan pengikutnya digiring untuk melupa-lupakan
Bahwa Minangkabau itu adalah Tanah Asal, Tanah Pangkal yang dibahasakan
Van Der Thuk sebagai Phinang Khabu. Betapa jauh para kabau digiring ke
arah dhalalan ba’id. Sehingga ia mau saja dibisikkan kalau Islam
itu bermula sejak nabi Muhammad SAW, bukannya dari zaman Adam As.
Padahal kita sama mewarisi petuah nenek moyang bangsa Minangkabau yang
menyatakan ; kok sasek diujung jalan, babaliek kapangka jalan. 
Lebih celakanya, para kabau  ini akhirnya banyak pula yang berprofesi
sebagai his-strory.  Lalu dengan angkuhnya, berani mengatakan bahwa
Tambo hanya bermuatan 3 (tiga) porsen sejarah serta 97 lainnya sekadar
mitologi atau dongeng. Bisa jadi karena mereka hanya mampu memahami 3%
saja dari Tambo. Para kabau yang tersesat  ini sama persis seperti
‘sang mahaguru mereka’ yang notabene sangat
mengagung-agungkan metodologi ilmiah. Namun, lucunya  tanpa mali mereka
mengaku-nagku bahwa penemu Benua Amerika adalah Columbus. Lalu untuk
selanjutnya mengambil alih kepemilikan tanah yang mereka anggap tidak
bertuan. Padahal mereka tahu benar kalau orang Indian jauh lebih dahulu
menemukan benua Amerika itu, serta merekalah pewaris sah nagari itu. Ini
sama seperti saat para kabau begitu saja menerima bahwa ikan mujair itu
ditemukan oleh seorang petani Sunda yang bernama Pak Mujair. Padahal
nenek moyang kita telah sejak lama menamakan ikan itu sebagai ikan
mudiak aia karena sifat ikan itu suka berenang mundur. Begitu dahsyatnya
‘racun’ kolonial dan kaum imperialis dalam menjungkir
balikkan sejarah kita. Begitu banyak intervensinya ke dalam Tambo.
Bahkan dengan ‘membagi-bagi’ gelar Doktor dan Profesor merka
putarbalikkan sejarah kita. 
Begitu jahat memang, akibat dari sebuah rekayasa sejarah. Misalnya
seperti cerita adu kerbau antara orang Jawa dan orang Minang. Tentu saja
sambil mengelus kecerdikan orang Minang, yang kebanyakan masih bersifat
riya. Agar orang Minang lupa akan asal usul mereka. Hingga semakin lupa
pada Mina dan Ka’bah sebagai setting awal perkembangan manusia di
dunia ini. Mungkin karena cerita ini pula PT.Semen Padang yang berlogo
‘kerbau’ itu tidak boleh merayakan ulangtahun ke 90-nya
secara besar-besaran. Apalagi mengingat PT.Semen Padang adalah pabrik
semen tertua di Indonesia. Sedangkan para his-story, tampaknya ingin
memaksakan bahwa semen tertua itu adalah Semen Gresik. Lalu di dalam
Tambo versi para his-story diberikan pula cerita tentang kecerdikan
Dt.Parpatiah Nan Sabatang (Sutan Balun), lewat diplomasi anjingnya. Maka
berkat kelihaian para Snouck Hogranyeisme ini, maka seekor anjing bisa
menjadi pahlawan, sedangkan hukum qisas (tarik balas) menjadi najis di
ranah Minangkabau. 
Sama seperti upaya Barat lewat para ilmuwannya, yang
mengangkat Fir’aun sebagai pahlawan (kebudayaan), sementara dalam
Al-Qur’anul Karim, Fir’aun adalah proto type dari manusia
yang maha bejad dan maha laknat. 
Tampaknya memang selalu ada dua pilihan klasik bagi setiap
anak Minangkabau; menjadi Minang atau menjadi Kabau. Bagi
yang memilih identitas sebagai orang yang Minang, ia akan
teguh bersitumpu pada adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah. 
Sementara yang tak mampu lagi bersitumpu pada adat basandi syarak,
syarak basandi kitabullah, mau tak mau harus menerima nasibnya sebagai
kabau.  Pilihan yang begitu ekstrim. Sebagai kabau (kal an-‘am),
tentu nasibnya kian malang bila hidung telah dicocok orang. Apalagi bila
diberi tali. Tanpa daya, ia harus mengikut kalau digiring. Seperti untuk
mengakui superioritas Eropah dengan menyatakan ia adalah keturunan satu
dari tiga anak Iskandar Zulkarnain. Bukannya keturunan dari salah satu
kelompok yang dipimpin oleh tiga anak Nuh. Padahal siapa yang bisa
bantah kalau Yahudi dan bangsa Eropa itu secara genetik adalah keturunan
dari kabilah yang dipimpin Uncle Sam (Sam Bin Nuh), alias Si Maharaja
Alif. Hingga mereka hingga sekarang dikenal sebagai kaum Samiri. Lalu
siapa pula yang akan ingkar kalau ras Kuning itu adalah kabilahnya Han
(Ham Bin Nuh), atau Si Maharaja Dipang. Kemudian bangsa Melayu
(Austronesia) jelas adalah keturunan dari rombongan Yafizd Bin Nuh yang
bertolak dan berlayar dari Tanah Basa (Basrah). 
Jadi bukanlah sebuah snobisme bila orang Minang
menyederhanakan dunia ini hanya menjadi tiga kelompok. Lalu orang
Minangkabau (Melayu) yang menyebar dari wilayah Austronesia dalah salah
satu dari kelompoknya. Sekaligus ini menjadi bukti bahwa benang merah
sejarah dunia ini adalah Islam (monoteisme). Lalu paham yang
turun-temurun ada di Minangkabau sejak awalnya adalah paham monoteisme
ini (Islam), sehingga ketika penyempurnaan dilakukan Muhammad SAW, orang
Minangkabau dapat menerimanya dengan baik, dan penuh kearifan. 
Sehingga  jangan heran kalau di bawah menhir-menhir yang
oleh ahli purbakala diakui sebagai peninggalan zaman megalitikum (zaman
batu tua), sering didapatkan fosil manusia dalam posisi miring ke kiri
(menghadap ke kiblat atau ke Tanah Asal mereka). Apakah pemutaran
balikan fakta sejarah dalam Tambo hanya sampai di situ? Tentu saja
tidak. Kesakralan Bundo Kanduang malah juga dinistakan lewat penodaan
citra lewat cerita dalam Tambo. Akibatnya para Kabau digiring untuk
mengenal Ummul Kitab-nya (ibu dari segala Kitab), Al-Qur’an-nya,
Bundo Kanduang-nya sebagai seorang perempuan free seks yang memiliki
anak haram. Padahal di dalam sejumlah Tambo tegas-tegas dinyatakan bahwa
Bundo Kanduang adalah sebuah perangkat hukum. Yaitu perangkat hukum
tertinggi di Alam Minangkabau. Bila persoalan tidak selesai oleh Raja
Adat (baca : mufakat adat) maka persoalan akan diteruskan ke Rajo Ibadat
(baca : mufakat ulama). Bila tidak selesai oleh Raja Adat dan Raja
Ibadat, maka persoalan itu akan diteruskan kepada Raja Alam(baca :
mufakat umum). 
Bila ketiga raja tersebut tidak juga mampu menyelesaikan persoalan yang
tengah terjadi, maka persoalan tersebut akan di hadapkan kepada Bundo
Kanduang (Al-Qur’an). Jadi Bundo Kanduang adalah perangkat pemutus
dari hasil musyawarah dan mufakat ketiga raja tersebut, sebagaimana
tertuang dalam kata-kata adat bahwa orang Minangkabau itu ba Rajo ka
mufakaik, mufakaik ba Rajo ka nan bana, nan bana tagak sandirinyo,
itulah yang Qadim. Hanya Allah sajalah yang memutus perkara bagi
manusia, sesuai dengan QS 4: 59. 
Maka dihadapan Bundo Kanduang itulah segala persoalan
ditilik, dicermati dan dibahas. Makanya tegas-tegas
dikatakan dalam Tambo, bahwa kalau sudah dihadapan Bundo Kanduang, indak
ado kusuik nan tak  ka salasai, indak ado karuah nan tak bisa
dijaniehkan. Jadi, di MInangkabau Bundo Kanduang memegang kata, biang
cabiek gantiang putuih. Kato nan indak bulieh dibantah, bana nan indak
bulieh disabuik lai. Begitu agung dan besarnya pengaruh kekuasaan Bundo
Kanduang tersebut, sehingga ketiga Raja tersebut tidak berani menyanggah
putusannyap

Dimuat pada Tabloid Ummat Surau Edisi 01/Januari 2002
e-mail :
[EMAIL PROTECTED]
atau
[EMAIL PROTECTED]



RantauNet http://www.rantaunet.com

Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
===============================================
Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3

ATAU Kirimkan email
Ke/To: [EMAIL PROTECTED]
Isi email/Messages, ketik pada baris/kolom pertama:
-mendaftar--> subscribe rantau-net [email_anda]
-berhenti----> unsubscribe rantau-net [email_anda]
Keterangan: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung
===============================================

Kirim email ke