Pak Ismet Yth, Terima kasih sebelumnya karena anda mau memberikan pengentahuan buat saya. Dalam pertanian organik, lahan (tanah) yang sudah terpolusi oleh senyawa pupuk kimia an-organik itu memerlukan konversi yang relatif cukup lama, karena begitu parahnya dampak perusakan tanah oleh kimia an-oganik dari pupuk pabrikan (PUSRI,dll) dan bersama unsur mikro lain dalam tanah membentuk senyawa berat. Cobalah kita perhatikan lahan yang sudah terkena pupuk jenis ini, dimana struktur tanahnya kelihatan padat dan sulit terurai dalam tanah.
Memang semua orang tahu bahwa tanaman selain butuh unsur makro (N,P,K) juga butuh unsur mikro, seperti Ca, Mg, Fe, Zn, dsb). Mengenai kandungan nutrien (unsur hara) yang terdapat dalam pupuk organik, bapak bilang kandungannya sangat kecil (N,P,K). Memang bila dibandingkan dengan pupuk kimia nutrien pupuk organik (dari kotoran ternak, kompos, bio-fertilizer)terasa sangat kecil. Nah, untuk klasifikasi beberapa kandungan nutrien yang ada dalam ternak, kompos, tanaman leguminosae, hijauan (gulma), bersama dengan orang IPB dan UGM telah kita peroleh persentase kandungan (%) nutrient kotoran ternak tersebut. Selain itu kita juga kerjasama dengan organisasi-organisasi pertanian organik di negara lain seperti JOA di Jepang, LEISA di Belanda, CSA di Kanada, dsb terutama dalam pertukaran informasi teknis pertanian organik, CETDEM di Malaysia, Biothai di Thailand, dsb. Oh ya pak Ismet, kebetulan dalam pengembembangan (ujicoba) pertanian organik ini, kita di PAN Indonesia tidak asal coba-coba saja. Artinya jauh sebelumnya kita bersama bebarapa pakar pertanian berkelanjutan (ahli tanah, ahli tanaman, ahli peternakan, dsb) telah melakukan riset. Dari merekalah kami tahu bahwa untuk mengembalikan kondisi tanah yang sudah tercemar oleh unsur kimia an-organik butuh waktu yang cukup lama karena saking parahnya dampak kimia an organik ini. Disamping itu, pada jaringan tanaman akan banyak mengandung unsur air, sehingga tanaman mudah terserang hama dan penyakit. Kita memperkenalkan konsep pertanian organik ini ke petani lebih didasarkan oleh kerusakan yang semakin parah oleh pertanian konvensional ini (revolusi hijau yang dipaksakan dengan tanaman monokulturnya). Kemudian, berkenaan dengan biaya produksi ditingkat petani semakin meningkat, akibat sebagian bahan pembuatan pupuk kimia tersebut masih diimport dari luar. Kemudian sejak 1998, subsidi pupuk dihapus, makin menyengsarkan petani yang sudah terbiasa (termanja) oleh pemakaian pupuk kimia pabrikan yang sangat praktis di berikan pada tanaman. Malah sering pupuk pabrik ini hilang peredarannya di tingkat petani. Entah diekspor ke negara lain, atau dijual pada perkebunan-perkebunan besar. Pak Ismet, coba bapak kalkulasikan berapa biaya yang dibutuhkan oleh seorang petani dengan lahan sehektar dan ditanam secara konvensional, lalu bandingkan dengan cara organik pada luas lahan yang sama. Mana yang besar biayanya, dan mana yang untung. Karena percobaan demikian telah kami lakukan dan hitung berkali-kali dan pertanian organik tetap untung. Cuma dalam pertanian organik peemakaian tenaga kerja cukup banyak dibandingkan cara konvensional, karena kita ngak pakai traktor (tidak sesuai standar keorganikan). Malah sekedar bapak ketahui, dalam pertanian organik, petani sebisa mungkin ngak keluar biaya, karena untuk pupuk, benih, pestisida, sebenarnya sudah tersedia di lingkungan pertanian itu sendiri. Untuk pupuk, bisa diperoleh dari kotoran ternak (NPK), legum (tanaman jenis kacang-kacangan yang banyak mengandung N), P bisa diperoleh dari batang-batang pisang yang sudah habis ditebang, dan K bisa diperoleh dari rendaman sabut kelapa, dsb. Sedangkan untuk pestisida, ada namanya pestisida nabati, yaitu pestisida yang diperoleh dari ekstrak atau ditanam (rapelent) bersamaan dengan tanaman inti. Tanaman tersebut seperti nimba, akar tuba, daun surian, dsb. Kemudian, sejak mode pertanian organik ini telah menjadi trend di negara-negara maju, dan negara berkembang, maka untuk di Indonesia sekarang sudah bermunculan pula jenis-jenis pupuk organik yang dibuat secara pabrikan yang kadar nutrient-nya sangat diragukan. Dan kami dari lembaga non profit, pertanian organik yang kami perkenalkan yaitu pertanian yang menghendaki petani tidak tergantung dari asupan luar bagi proses produksi pertanian organiknya. JAdi dianjurkan mereka bisa produksi pupuk sendiri. Terus pak Ismet, sebagai karyawan Pusri, anda memang harus loyal pada perusahaan dimana anda bekerja. Kan ngak mungkin bapak kerja di Pusri tapi menuruh orang bertani secara organik, mana laku itu pupuk. Bisa-bisa bapak dipecat atasan nantinya. Sama dengan debat kami dengan Dr Kartika Adiwilaga, dari Monagro (Monsanto), perusahaan biotek terbesar didunia seputar dampak negatif yang ditimbulkan oleh tanaman transgenik (rekayasa genetik) bagi manusia, dan lingkungan sekitarnya. Walau kita sudah menghadirkaan pakar dari London, Dr Mae Wen Hoo dengan argumen ilmiah yang jelas, tapi namanya membela perusahaan tempat dimana dia kerja, maka debat lebih sebagai debat kusir. Salam fendi KOTO -- GMX - Die Kommunikationsplattform im Internet. http://www.gmx.net RantauNet http://www.rantaunet.com Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3 =============================================== Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di http://www.rantaunet.com/subscribe.php3 ATAU Kirimkan email Ke/To: [EMAIL PROTECTED] Isi email/Messages, ketik pada baris/kolom pertama: -mendaftar--> subscribe rantau-net [email_anda] -berhenti----> unsubscribe rantau-net [email_anda] Keterangan: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung ===============================================

