----- Original Message ----- From: fendi KOTO <[EMAIL PROTECTED]> To: <[EMAIL PROTECTED]> Sent: Friday, March 01, 2002 9:09 PM Subject: Re: [RantauNet] Organik versus konvensional >
Yth pak Fendi Koto, Pak Fendi Koto, kalau soal memberi ilmu sudah merupakan keinginanan saya, karena pemberian itulah yang nantinya akan diterima kembali ketika kita telah mati. Itu kata nabi. Saya terus terang meragukan akan kekhwatiran anda dan teman-teman anda tentang dampak yang begitu besar, seperti yang anda ungkapkan, tentang kerusakan akibat pupuk inorganik. Kalau seandainya kerusakan itu benar-benar terjadi, apakah pupuk itu harus divonis untuk tidak dipakai ? Bukankah pelaksanaan pemupukan itu yang harus dikaji dulu. Bagaimana metodenya, seberapa banyak yang dipakai, apakah pemakaian pupuknya sudah tepat dengan kondisi tanahnya, selain pupuk inorganik apa ada zat kimia lain yang disemprotkan berlebihan (misalnya peptisida yang berlebihan tidak memakai prosedur begitu juga untuk racun pembunuh tikus, irigasinya memakai sungai yang dihulunya ada pabrik kimia dll). Ini yang harus dikaji dulu. Amerika Serikat yang sudah lebih dulu memakai pupuk inorganik untuk tanah pertaniannya dan sampai sekarang masih giat-giatnya menggunakan pupuk inorganik, begitu juga di Eropah, China, India, Thailand, Bangladesh, Vietnam, Malaysia, negara-negara di Amerika Selatan, Afrika, Australia, Timur Tengah dll. Hal ini terlihat dari meningkatnya jumlah pabrik pupuk inorganik yang berdiri di negara-negara tersebut dalam 10 tahun terakhir ini. Anda kok bisa-bisanya mengatakan mode pertanian organik menjadi trend di negara-negara maju. Apa mampu pupuk organik yang nota benenya berasal dari makhluk hidup dan atau buangan makhluk hidup yang sudah mati (kadar NPK nya kecil) mencukupi kebutuhan NPK untuk daerah pertanian yang lahannya sudah sering dipakai untuk bertani (intensifikasi pertanian)? Kandungan NPK pupuk organik jelas kecil karena asalnya dari makhluk hidup atau buangan makhluk yang sudah mati. Tidak mungkinlah makhluk hidup atau buangan makhluk hidup mengandung unsur N atau P atau K dalam tubuhnya sampai 46% seperti kandungan N didalam pupuk urea. Atau oleh pupuk-pupuk inorganik lain seperti DAP, MAP, TP, SSP, rock phosphat, KCl. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana mensuplai lahan dengan NPK yang sesuai. Suplailah NPK (baik berasal dari pupuk organik atau inorganik) dengan apa yang dibutuhkan oleh lahan tersebut. Saya sangat tertarik dengan lembaga anda yang katanya non-profit pertanian organik, tapi ketika anda memaparkan unsur pembuat pupuk organik seperti kotoran ternak, kompos, bio-fertilizer anda tidak mengungkapkan dalam forum ini % kandungan nutrient (NPK) nya. Walaupun itu telah dilakukan bersama dengan pakar dari IPB dan UGM. Aalangkah baiknya informasi itu disebarkan saja terutama di milis rantaunet ini yang mungkin saja ada yang berprofesi sebagai petani, punya famili petani atau bercita-cita untuk bertani. Dengan mengetahui komposisis nutrient dari kompos, kotoran ternak dllnya petani dengan sendirinya akan dapat membuat pupuk organik untuk keperluannya. Syukur-syukur ini dilakukan oleh petani Minang sehingga tanahnya jadi subur income Sumbar meningkat. Yang saya khawatirkan sekarang ini banyak beredar yang namanya pupuk organik dengan labelisasi kandungan NPKnya diragukan. Karena ada sekitar 340 produsen pupuk organik di Indonesia. Ada berbagai kemungkinan pemyimpangan dapat terjadi terhadap pupuk tersebut dikarenakan sebagian besar dari produsen pupuk organik memproduksi barangnya tanpa ada prosedur baku, komposisi NPK bahan bakunya sulit dijaga konstan akibat bahan bakunya juga merupakan produk dari makhluk hidup atau buangan makhluk hidup, tanpa ada prosedur pengecekan mutu / kandungan NPK yang ada dalam karung pupuk organik yang dijual ke masyarakat, kemungkinan terjadinya segregasi terhadap salah satu campurannya selama dalam transportasi sehingga komposisi pupuk yang dijual tersebut tidak lagi sesuai dengan yang diinginkan. Akibat-akibat inilah petani banyak berteriak bahwa mereka mendapatkan pupuk palsu yang sering kita dengar melalui media massa. Pupuk itupun mereka beli dengan harga yang lebih mahal. Fertilizer Mixtures. Berikut saya sampaikan tentang pupuk campuran atau dikenal secara internasional dengan 'fertilizer mixtures'. Fertilizer mixtures merupakan campuran dari berbagai pupuk inorganik yang ada di pasaran untuk mendapatkan kandungan NPK yang sesuai dengan kebutuhan lahan yang akan digunakan untuk pertanian. Metode ini banyak dipakai di negara-negara maju dan juga sekarang ini mulai dipakai di negara berkembang dengan syarat lahan yang akan diberi pupuk telah diketahui kandungan NPKnya. Ini dimaksudkan agar biaya untuk pemupukan efisien. Jadi tidak asal menebar pupuk yang sama untuk setiap lahan yang berbeda. Campuran pupuk itu langsung dibuat di dekat areal pertanian dengan komposisi yang disesuaikan dengan kondisi tanah pertaniannya. Pencampuran dilakukan 3 atau 5 hari sebelum pemupukan untuk menghindari agar campuran tersebut masih tetap homogen. Penyebaran pupuk juga sederhana. Hal ini bisa diterapkan di Sumbar dengan menganggap setiap satu kecamatan memiliki data NPK tanah pertaniannya. Koperasi dari setiap kecamatan tersebut akan menghitung sendiri NPK yang dibutuhkan dari pupuk bagi tanahnya. Setelah didapat jumlah pupuk yang dibutuhkan kemudian dibuatlah pupuk campuran dengan mencampur sendiri pupuk inorganik yang dijual dipasaran misalnya dengan mencampur pupuk urea (untuk mendapatkan nutrient N), pupuk potaasium nitrat (KNO3) atau potassium chloride (KCl) (untuk mendapatkan nutrient Kdan N) dan pupuk monoammonium phosphat MAP) atau diammonium phosphat (DAP) ataupun TSP (untuk mendapatkan nutrient P dan N). Pencampuran dapat dilakukan dengan memakai adukan semen yang diputar secara manual dengan kapasitas sesuai dengan jumlah pupuk yang akan dipakai untuk areal tersebut. Alangkah baiknya jika data tanah pertanian di areal tersebut telah dikonsultasikan ke agronomies sehingga didapat rekomendasi tentang pupuk apa yang akan dipakai dan seberapa banyak campurannya. Pupuk inorganik yang dijual di pasaran pada label telah tercantum kadar NPK yang dikandungnya, seperti contoh berikut. Dalam pupuk urea terkandung 46% N, 0% P dan 0% K biasa ditulis (46-0-0) Dalam pupuk KNO3 terkandung 13% N, 0% P dan 44% K biasa ditulis (13-0-44) Dalam pupuk MAP terkandung 11% N, 52% P dan 0% K biasa ditulis (11-52-0) Alangkah eloknya jika data kondisi tanah pertanian di Sumbar untuk masing-masing kecamatan telah disediakan oleh Departemen Pertanian Propinsi Sumbar berikut rekomendasinya, sehingga petani hanya tinggal memakainya saja seperti yang terjadi di negara maju Amerika Serikat, Belanda, dll ataupun seperti di negara yang sama kondisinya baik geografisnya ataupun ekonominya dengan kita, yaitu Vietnam. Pak Fendi, saya menulis ini bukanlah ingin agar pupuk inorganik tetap dipakai dan laku dijual dan saya selamat, tapi hanyalah untuk supaya masyarakat jangan salah mengambil kesimpulan akibat bombardir pihak-pihak tertentu dengan berbagai maksud sehingga pemakain pupuk inorganik ditinggalkan tanpa mempelajarinya terlebih dahulu. Saya yakin sekali bahwa jika hanya pupuk organik digunakan untuk pertanian, pertanian tidak akan mencapai sasarannya, tidak akan terjadi peningkatan baik kualitas maupun kuantitas. Karena memang pupuk organik tidak akan sanggup mencukupi kebutuhan NPK untuk tanah-tanah pertanian yang bertujuan untuk mencukupi kebutuhan umat manusia saat ini dan akan datang. Yang rugi nantinya petani juga yang sama-sama kita ketahui dari dulu memang sudah sengsara. Berikut saya attach-kan mengenai perkembangan dan rencana pupuk inorganik di negeri China sebagai pembanding dan pengetahuan. Selamat membaca ! Salam M. Ismet Ismail > -- > GMX - Die Kommunikationsplattform im Internet. > http://www.gmx.net > > > RantauNet http://www.rantaunet.com > > Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3 > =============================================== > Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di > http://www.rantaunet.com/subscribe.php3 > > ATAU Kirimkan email > Ke/To: [EMAIL PROTECTED] > Isi email/Messages, ketik pada baris/kolom pertama: > -mendaftar--> subscribe rantau-net [email_anda] > -berhenti----> unsubscribe rantau-net [email_anda] > Keterangan: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung > =============================================== >
fertilzer-in-china.pdf
Description: Adobe PDF document

