Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Tanggal hari ini di kalender berwarna merah tanda hari besar, 1 Muharam,
Hari Besar Islam.
Banyak orang Islam---termasuk saya ---mengatakan bahwa inilah tahun baru
saya.
Tetapi hari ini saya bertanya, apakah sebenarnya yang saya peringati
hari ini? Tahun baru yang digunakan di sejumlah negara Timteng, atau
Hijrahnya Muhammad SAW dari Makkah ke Medinah. Sebagai seorang Muslim
saya berpendapat Hijrah Nabi yang mulia ini dengan pengikutnya demi
menghindarkan tekanan berat kaum kafir Quraisy ketika, merupakan tonggak
penting dalam perjuangan beliau dalam menyampaikan pesan-pesan illahiah,
memang sangat patut diperingati, terutama diambil maknanya.
Tetapi dari beberapa buku biografi Nabi yang saya baca, saat beliau
hijrah bukan pada tanggal 1 Muharram. Bahwa tahun beliau melakukan
hijrah kemudian ditetapkan Khalifah Umar bin Khatab sebagai tahun 1
dalam sistem penanggalan yang digunakan di Arabia waktu itu, tentunya
adalah soal lain. Dan pertanyaan lain, perlukah untuk menghormati
hari-hari besar Islam tersebut, kecuali Idulfitri dan Iduladha, kaum
muslimin meliburkan diri dari bekerja---bekerja yang menurut sejumlah
hadis sangat disukai Rasulullah SAW dilakukan oleh ummatnya? Apalagi
pada saat negara yang penduduknya mayoritas Islam ini secara sosial dan
ekonomi sedang terpuruk?
(Saya mohon maaf kalau ada yang kurang nyaman dengan ungkapan di atas,
dan kepada beliau-beliau tersebut saya mohon maaf sepuluh jari, sebelas
dengan kepala)
Tetapi saya ingin bercerita dan melagak---khas orang Minang---sedikit.
Hari Selasa awal pekan lalu, saya �terpaksa� duduk di ruang tunggu
Bandara A. Yani Semarang, karena saya tidak bisa menggunakan penerbangan
Garuda jam 15.40 ke Jakarta karena sudah penuh, sementara saya memegang
tiket utntuk penerbangan jam 19.40. Tetapi �keterpaksaan� itu tidak
terlalu mengcewakan saya, karena saya memegang dua buah buku yang baru
saya beli di TB Gramedia Semarang: �Sejarah Tuhan�, edisi terjemahan
dari buku karya Karen Armstrong �A History of God� dan buku best seller
yang saat ini menjadi buah bibir di kalangan profesional muslim: ESQ
yang ditulis oleh Ary Ginanjar Agustian, seorang akademisi yang kemudian
menjadi eksekutif perusahaan telekomunikasi yang sukses di Bali. Tetapi
waktu itu saya ingin membaca Karen Armstrong lebih dulu.
Lalu mata saya tertumbuk pada sebuah paragraf. Setelah mengutip Al
Qur�an S 2: 164*], Karen Armstrong menulis:
Al Qur�an selalu menekankan perlunya penggunaan akal dalam
menguraikan �tanda� atau �pesan� dari Tuhan. Kaum Msulimin
tidak boleh merendahkan akal mereka, tetapi harus mengamati
alam dengan pernuh perhatian dan keingintahuan . Sikap inilah
yang membuat umat muslim generasi berikutnya mampu membangun
tradisi Ilmu pengetahuan alam yan baik, yang tak pernah
dianggap sebagai ancaman terhadap agama sebagaimana yang
terjadi di dunia Kristen (hal 200)
Kata-kata tersebut seperti menghentak-hentak dalam kalbu saya, tatkala
ingat perjuangan, saya ulangi, perjuangan Nabi Muhammad SAW dalam
menyampaikan risalah Sang Maha Pencipta, terutama peristiwa Hijrah yang
diperingat hari ini, walaupun tanggalnya tidak tepat.
Dan apakah saya, dan orang-orang yang mengaku Islam waktu ini telah dan
berhasil melakukan apa yang telah dilakukan oleh umat muslim
generasi-generasi awal dalam menangkap dan melaksanakan pesan-pesan Al
Qur�an?
(Lalu saya merasa malu, kok saya perlu menggunakan tangan seorang
non-muslim, mantan biarawati lagi, sekalipun sangat terpelajar, untuk
mengingatkan diri saya mengenai hal-hal yang menyangkut keimanan saya?)
Tetapi setelah saya pikir-pikir kenapa saya perlu malu? Apalagi
jawabannya mudah: tidak, tidak dan tidak.
Saya, dan kebanyakan orang yang mengaku Islam waktu ini hanya mampu
menangkap kulit: cara berpakaian, bahasa dan cara berbicara (seakan-akan
Islam identik dengan Timur Tengah), cara menghapal hukum-hukum.
Tetapi di dalam banyak terjadi �pembusukan�, termasuk---dan
terutama---di kalangan pemimpin dan orang-orang yang menyebut dirinya
kiyai dan ulama!
Marah kepada saya? Monggo! Tetapi tolong jelaskan kepada saya, mengapa
Indonesia yang penduduknya mayoritas muslim, tetapi merupakan negara
terkorup di dunia?
Tolong jelaskan kepada saya, mengapa orang Islam waktu ini sangat mudah
melakukan tindakan-tindakan destruktif, melakukan pengeboman, melakukan
penyanderaan yang menyebabkan jatuhnya kurban dan kerusakan harta benda
orang-orang yang tidak ada urusannya dengan para �musuh Islam�?
Rasulullah SAW dalam masa kenabian beliau berkali-kali berperang.
Pernahkah beliau melakukan pembunuhan terhadap orang-orang yang tidak
bersalah?
Termasuk dalam peristiwa antara kaum Muslimin dengan Bani Quraizhah yang
menerima pembalasan atas pengkhianatan dan persekongkolan mereka dengan
Kaum Kafir Quraish yang bertujuan memusnahkan kaum Muslimin? yang
kemudian dijadikan kontroversi oleh sebagian Kaum Orientalis dan
orang-orang yang matanya selalu "berbulu" dalam melihat Islam, untuk
menyerang Rasulullah SAW dengan apa yang mereka sebut sebagai melakukan
�ethnic cleansing�?
(Terpaksa saya kutip lagi Karen Armstrong dalam bukunya mengenai
biografi Muhammad SAW, mengenai peristiwa tersebut: �Ummat Muslim
berhasil lolos dari pemusnahan dan emosi masih tinggi. Quraizhah nyaris
menghancurkan Madinah. Jika Muhammad mengizinkan mereka pergi, suatu
ketika akan membesarkan posisi Yahudi di Khaibar dan mengorganisir
serangan baru ke Madinah�)
Mengapa Rasulullah SAW bersedia menandatangani perjanjian Hudaibiah
dengan kaum kafir Quraish yang sepertinya �menghinakan� kaum muslimin
pada saat Islam mulai kuat secara politik dan militer? Kenapa Rasulullah
SAW membiarkan si munafiq Abdullah bin Ubay hidup? Kenapa Rasulullah SAW
memaafkan Abu Sufyan dan istrinya Hindun?
Mengapa sangat kuat semangat untuk menjadikan perempuan sebagai makhluk
kelas dua, padahal tidak ada ayat Al Qur�an yang secara eksplisit
menyatakan hal ini, dan tidak pula dicontohkan oleh Sang Junjungan?
(Memang ada cerita kotor isapan jempol sejumlah orang fasik, tetapi
maukah Anda menggunakan itu sebagai acuan?)
Mungkin ada yang bergumam: Ah fundamentalisme dan radikalisme ada di
semua agama dari dulu sampai sekarang, koq cuma Islam yang dipersoalkan?
Saya tidak menolak fakta bahwa fundamentalisme dan radikalisme ada di
agama-agama di luar Islam, tetapi itu bagi saya tidak merupakan
justifikasi bagi tumbuhnya, fundamentalisme dan radikalisme, lebih-lebih
kriminalitas atas nama agama dalam Islam, karena hal itu sangat
bertentangan dengan moral dan prinsip-prinsip Islam.
Akhirnya, saya harap tidak hanya saya, tetapi semua muslim bertanya
kepada dirinya, mengapa kaum muslimin terpuruk, atau lebih spesifik,
apakah kaum Muslimin sudah benar menggunakan akalnya dengan baik dalam
mencernakan pesan-pesan Tuhan dan perjuangan Muhammad SAW Sang
Junjungan.
Mengapa tidak? Karena saya sepakat dengan---dan tidak tidak malu untuk
mengutip proposisi dan salah satu judul buku yang ditulis Dr. Jefferey
Lang, seorang mualaf yang sangat yakin dengan agama barunya: "Bahkan
Malaikatpun Bertanya" (Even Angels Ask).
Wassalam, Darwin
*] Lengkapnya ayat itu berbunyi:
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam
dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi
manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan
air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (keringnya) dan Dia sebarkan di
bumi segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan
antara langit dan bumi, sungguh (terdapat) tanda-tanda (ayat) keesaan
dan kebesaran Allah bagi kaum yang memikirkan.
RantauNet http://www.rantaunet.com
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
===============================================
Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3
ATAU Kirimkan email
Ke/To: [EMAIL PROTECTED]
Isi email/Messages, ketik pada baris/kolom pertama:
-mendaftar--> subscribe rantau-net [email_anda]
-berhenti----> unsubscribe rantau-net [email_anda]
Keterangan: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung
===============================================