Waalaikumsalam Wr. Wb. >Sebagai seorang Muslim saya berpendapat Hijrah Nabi yang >mulia ini dengan pengikutnya demi > menghindarkan tekanan berat kaum kafir Quraisy.
Indak tabayang baa jadinyo kalau waktu itu Nabi mamarintahkan Jihad sampai titiak darah terakhir atau bahkan manyuruah Umaiknyo baji baku malawan kaum Quraish > Dan pertanyaan lain, perlukah untuk menghormati > hari-hari besar Islam tersebut, kecuali Idulfitri dan Iduladha, kaum > muslimin meliburkan diri dari bekerja---bekerja yang menurut sejumlah > hadis sangat disukai Rasulullah SAW dilakukan oleh ummatnya? Apalagi > pada saat negara yang penduduknya mayoritas Islam ini secara sosial dan > ekonomi sedang terpuruk? Lha, sabagai umaik Islam nan harus dihormati jo sagalo kabanggaan semunyo, libur tahun Baru Islam tu tantunyo harus ditarimo sabagai suatu panghargaan. > > (Saya mohon maaf kalau ada yang kurang nyaman dengan ungkapan di atas, > dan kepada beliau-beliau tersebut saya mohon maaf sepuluh jari, sebelas > dengan kepala) No need to apology, you haven't committed any mistake yet, as far as I'm concerned. > Tetapi saya ingin bercerita dan melagak---khas orang Minang---sedikit. Malagak model urang Minang tu masih indak sahebat malagak model urang Islam nan randah hati. Malagaknyo tu di mulai jo Bismillah, Alhamdulillah untuak manunjuakkan kahebatannyo dalam mancapai sukses, Insya Allah untuk mamastikan sukses future planning nyo. > Lalu mata saya tertumbuk pada sebuah paragraf. Setelah mengutip Al > Qur�an S 2: 164*], Karen Armstrong menulis: > > Al Qur�an selalu menekankan perlunya penggunaan akal dalam > menguraikan �tanda� atau �pesan� dari Tuhan. Kaum Msulimin > tidak boleh merendahkan akal mereka, tetapi harus mengamati > alam dengan pernuh perhatian dan keingintahuan . Sikap inilah > yang membuat umat muslim generasi berikutnya mampu membangun > tradisi Ilmu pengetahuan alam yan baik, yang tak pernah > dianggap sebagai ancaman terhadap agama sebagaimana yang > terjadi di dunia Kristen (hal 200) > Dan apakah saya, dan orang-orang yang mengaku Islam waktu ini telah dan > berhasil melakukan apa yang telah dilakukan oleh umat muslim > generasi-generasi awal dalam menangkap dan melaksanakan pesan-pesan Al > Qur�an? Alah banyak nan sukses besar, bukan sajo mampagunokan aka bahkan sampai2 ma-akai ajaran Allah. Tokh kalau taragak nak mancubo nan lain dari nan dirumah, bisa nikah kilat. Kalau lah salasai, baia, sudah tu jatuahkan talak. Bereskan. Kok indak buliah mancilok bagai, bisa di-alih bahasokan manjadi hibah. Kok masih ragu2 tokh bisa parajin sumbayang, puaso atau bahkan naiak haji bolak baliak nak timbangannyo bageser. Ado sakambuik lai contoh sukses generasi kini ma-akai ajaran Tuhan. > (Lalu saya merasa malu, kok saya perlu menggunakan tangan seorang > non-muslim, mantan biarawati lagi, sekalipun sangat terpelajar, untuk > mengingatkan diri saya mengenai hal-hal yang menyangkut keimanan saya?) You should have been proud of yourself, instead. > Tetapi setelah saya pikir-pikir kenapa saya perlu malu? Apalagi > jawabannya mudah: tidak, tidak dan tidak. > Saya, dan kebanyakan orang yang mengaku Islam waktu ini hanya mampu > menangkap kulit: cara berpakaian, bahasa dan cara berbicara (seakan-akan > Islam identik dengan Timur Tengah), cara menghapal hukum-hukum. Anda salah observasi atau katakanlah observasi anda kurang lengkap (karena kayaknya anda terlampau jujur untuk ukuran orang Indonesia kayak saya). Urang Islam tu lah banyak nan sukses mancari pembenaran dari ajaran Tuhan. Sahinggo tabantang luas daerah abu2, tampek awak bisa manikmati dunia ko sa-pueh2nyo sambia mahibur diri bahwaso sarugo lah tasadio salamo awak rajin ba-ibadat ka-Tuhan. Get the hell with other people. > Tetapi di dalam banyak terjadi �pembusukan�, termasuk---dan > terutama---di kalangan pemimpin dan orang-orang yang menyebut dirinya > kiyai dan ulama! lha kalau di-semprot jo Calvin Kline-Eternity, baunnyo lansuang balain. Dek awak nan paralu baa nak harum kalua. > Marah kepada saya? Monggo! Tetapi tolong jelaskan kepada saya, mengapa > Indonesia yang penduduknya mayoritas muslim, tetapi merupakan negara > terkorup di dunia? Lha, sampeyan iki yo piye tokh. Itu kan menurut orang Barat. Urang Barat tu pandia2, mah kajaleh dek nyo beda korupsi jo di- hadiahkan urang. > Tolong jelaskan kepada saya, mengapa orang Islam waktu ini sangat mudah > melakukan tindakan-tindakan destruktif, melakukan pengeboman, melakukan > penyanderaan yang menyebabkan jatuhnya kurban dan kerusakan harta benda > orang-orang yang tidak ada urusannya dengan para �musuh Islam�? Lagi2 anda membuat kesalahan besar. Siapa saja adalah musuh Islam selama bisa dijadikan sasaran untuk pembenaran terhadap kegagalan kita. > Mengapa Rasulullah SAW bersedia menandatangani perjanjian Hudaibiah > dengan kaum kafir Quraish yang sepertinya �menghinakan� kaum muslimin > pada saat Islam mulai kuat secara politik dan militer? Kenapa Rasulullah > SAW membiarkan si munafiq Abdullah bin Ubay hidup? Kenapa Rasulullah SAW > memaafkan Abu Sufyan dan istrinya Hindun? Talampau banyak kenapa. Nabi tu kan makhluk sempurna nan indak kamungkin tasamoi dek manusia lain. Halal se nyo tu kalau awak manyimpang-nyimpang saketek. > Mengapa sangat kuat semangat untuk menjadikan perempuan sebagai makhluk > kelas dua, padahal tidak ada ayat Al Qur�an yang secara eksplisit > menyatakan hal ini, dan tidak pula dicontohkan oleh Sang Junjungan? I hate to say that I'm not part of those people, I'm terribly sorry, because I love my Mum a lot. > Mungkin ada yang bergumam: Ah fundamentalisme dan radikalisme ada di > semua agama dari dulu sampai sekarang, koq cuma Islam yang dipersoalkan? Lah bukannyo mancari kawan jatuah tu lah bagian dari kacadiak-an urang Islam. > Akhirnya, saya harap tidak hanya saya, tetapi semua muslim bertanya > kepada dirinya, mengapa kaum muslimin terpuruk, atau lebih spesifik, > apakah kaum Muslimin sudah benar menggunakan akalnya dengan baik dalam > mencernakan pesan-pesan Tuhan dan perjuangan Muhammad SAW Sang > Junjungan. > Kalaulah umat Islam memakai akalnya dalam menterjemahkan pesan2 Tuhan dan mematuhinya dengan penuh ke-Iman-an, ndak akan timbul kepercayaan bahwasanya Islam mengikuti zaman (dengan segala flexibility nya). Zamanlah yang seharusnya mengikuti Islam. Have a good weekend > Wassalam, Jd RantauNet http://www.rantaunet.com Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3 ==============================================Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di http://www.rantaunet.com/subscribe.php3 ATAU Kirimkan email Ke/To: [EMAIL PROTECTED] Isi email/Messages, ketik pada baris/kolom pertama: -mendaftar--> subscribe rantau-net [email_anda] -berhenti----> unsubscribe rantau-net [email_anda] Keterangan: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung ==============================================

