manyimak perbincangan yg menarik ko ( diskusi budaya minang ttg bundo
kanduang ) ambo ingin saketek manambah bumbu supayo taraso lamak "samba"
hota , di lapau ko.

maliek dari sejarah minang, dimana bercampur cerita sejarah dan dongeng /
tambo
nampaknya sejak jaman dulu, etnis minang telah "internazionalized" , banyak
bergaul dengan berbagai bangsa
atau bisa jadi orang Minang adalah etnis yg dinamis dan aktif dalam arti
bahwa sejak dulu pun telah bergaul dg banyak pihak , atau telah pergi pula
ke berbagai tempat , dan ada pula orang luar yg datang ke ranah minang.
hal ini bisa terlihat dari sejarah atau tambo dimana bercampur berbagai
nama dari berbagai tempat, dari anak nabi Nuh, Iskandar Zulkarnain ,raja
China sampai raja majapahit, beragam sekali

sebagai bandingan , dalam sejarah budaya Jawa , kental sekali warna india
nya ( cerita wayang misalnya )

bisa jadi etnis minang adalah percampuran dari berbagai bangsa ? mestizo
kah seperti amerika latin atau melting pot spt Amerika ?
bisa jadi etnis minang awalnya dibentuk oleh para pendatang dari suatu
tempat yg jauh yg akhirnya menetap di dataran tinggi lereng gunung merapi
singgalang yg indah  ( bagaikan Kashmir kata orang India ) , dan karakter
bangsa yg selalu bergerak tsb ( nomaden ) terus terbawa kemudian.
di ranah minang bercampur etnis china, arab, india, dari lokal , nias,jawa,
sumendo dll.
tapi kemudian mereka bisa membentuk suatu budaya tersendiri , sebuah kajian
yg menarik.

Kalau di Medan , identitas masing masing etnis adalah tak tercampur, malah
masing masing kelompok membuat koloni tersendiri ; ada kampung jawa,
keling(india) arab, dan china, batak toba dan melayu deli.
berbeda sekali dg ranah minang, sbg contoh Pariaman saya kira terbentuk
dari berbagai etnis , india keling, arab , parsi dll tercampur dan mereka
tidak membentuk koloni terpisah . ( bisa terlihat dari bentuk fisik yg
beragam )

tapi kesimpulan sementara saya , nampaknya etnis minang bukanlah etnis yg
statis , ia selalu dinamik sejak dulu juga dan tidak kembali ke bentuk
asalnya. Jadi kondisi dan karakter etnis minang tiap kurun waktu selalu
berubah.
bisa jadi suatu saat kelak gonjong rumah gadang lah barubah bantuaknyo.  (
bisa dilihat kelak model baru gonjong rumah gadang pada atap terminal
penumpang lapangan terbang baru Ketapiang Padang )
Tarian minang baru yg dinamik telah dikembangkan oleh Boy G Sakti dg
Gumarang dance nya.

Jadi misalnya kondisi etnis minang saat ini sudah berbeda dg 50 tahun lalu
misalnya dan bagaimana sebaiknya tidak bisa kita bandingkan dg masa lalu ,
karena ia selalu dinamik .
urang Minang di negeri sembilan malaysia , telah membentuk suatu komoditas
budaya yg sedikit berlainan dg ranah minang saat ini, tetapi tidak berarti
bahwa mereka harus kembali ke bentuk awal dulu , mereka terus dinamik
membentuk citra diri baru.
Komunitas urang awak di tanah abang misalnya , akan membentuk suatu
karakter budaya baru pula . ABG minang jaman britney spear dan intelektual
minang jaman internet akan mencari bentuknya tersendiri pula.

mak bandaro di Bogor , bundo di Pondok Indah , si Urpas di jembatan
semanggi , uni Evi di Serpong, angku labeh di Sumedang, Dr Perry di
Surabaya, cik Fadzil di Malaysia, uda Edizal di Jepang, Ajo duta di US, Ari
di Texas, mak Boes di Canada , mak abrar di Australia, dll , mereka semua
adalah etnis minang yg dinamik membentuk suatu karakter baru yg terus
berkembang dan adalah suatu kemunduran besar kalau mereka semua kembali ke
Sumbar , misalnya. Mereka semua terus dinamik berkembang mencari bentuk
baru (budaya minang )  yg tak kembali ke bentuk asalnya.

kawan kawan ambo urang awak yg menikah yo mojang priangan atau urang jawa
misalnya , akhirnya memiliki karakter budaya tersendiri. ( indak jadi dapek
gala dari kaum adat , karena indak namuah manikah yo gadih minang , malah
mamiliah urang lain , kecuali angku labeh, dapek mojang priangan tapi masih
dapat gelar adat , hebat juga nih )
Generasi kedua urang minang ( yg terlahir dari campuran ayah atau ibu dari
minang dan etnis lain )  cenderung akhirnya luntur minang nya, dan sampai
ke generasi ke tiga habis sama sekali.

Tapi menyimak ungkapan dari mak Adyan st rumah panjang kita semua perlu
memiliki suatu pijakan awal yg sama, akar pohon yg sama , yah itulah yg
bisa kita simak dari adat minang , kisah tambo dan sejarah minang . Bisa
disimak dari literatur lama spt kato pusako dll.

Jadi menarik juga  kalau dikaji dari sisi sejarah dan sosial , karena kita
harus melihatnya secara dinamik ( selalu berubah ) dan tak kembali . Selama
ini kalau kita melihat suatu etnis/budaya sering melihatnya dalam kacamata
yg statis, nampaknya cara pandang spt itu tak berlaku untuk budaya minang.

iko sekedar panambah carita dari ambo mengenai diskusi budaya minang yg
berawal dari kisah bunda kandung
mohon maaf kalau pandapek ambo ko salah , mungkin ado nan bisa manambahkan


wassalam

Hendra M
Pulau gaduang


RantauNet http://www.rantaunet.com

Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
===============================================
Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di: 
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3

ATAU Kirimkan email Ke/To: [EMAIL PROTECTED]
Isi email/Messages, ketik pada baris/kolom pertama:
-mendaftar--> subscribe rantau-net [email_anda]
-berhenti----> unsubscribe rantau-net [email_anda]
Keterangan: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung
===============================================

Kirim email ke