Assalamualaikum,
 
Dear dinda yang jauh di mata namun dekat di hati.  Uni punya "Cerpen" dan sengaja Uni tulis untuk Dinda seorang agar Dinda tidak perlu "icak-icak" membayangkan bagaimana perasaan seorang yang sedang jatuh cinta  dan bagaimana pula ketika cinta ternyata tidak semulus dalam menuliskannya di layar PC. Ini bukan hasil karya "anak gaul" tapi bukan pula "anak pesantren", jadi memang "rada-rada". Dimohonkan permakluman yang amat besar, yah.
 
Alkisah hiduplah sekelompok remaja di Planet Maya. Joko naksir berat pada Dewi tapi suatu hari tanpa sengaja Joko mendengar Dewi berbisik kepada Rita, sahabatnya, bahwa Dewi naksir berat pada Ari yang nota bene adalah sahabat Joko dan malah tadi malam dia pergi nonton dengan pujaannya itu. Merapi meletus, bisa dibayangkan gimana perasaan Joko? Joko yang terluka tiba-tiba hidup diatas bumi gonjang -ganjing.  Ari bukan lagi sahabat sementara  Dewi tak lebih baik seekor Biludak yang merayap di bawah kaki. 
 
Di belakang garis Khatulistiwa ada sebuah ruang maha luas. Sahabat lain yang care so much pada Joko,  berusaha menasehati agar sabar dalam menerima "musibah"ini. Tapi mereka adalah orang-orang  tidak merasakan bagaimana perasaan Joko sesunguhnya jadi kelihatannya mudah saja mengucapkan "sabar dan tawakal ", sementara untuk "Joko" yang babak belur, tidak nyebur ke Sungai Nile juga sudah bagus. Walau bagaimanapun selalu ada hikmah di balik semua peristiwa. Jika hanya nasihat yang bisa diberikan oleh sahabat lain tsb dan Joko terpaksa juga menerima dalam tanda kutip, "kendalikan dirimu, Joko."
 
Artinya burung pipit pencuri padi juga tahu bahwa nasihat "galeme" seperti diatas tidak bermanfaat. Menyuruh Joko bersabar dengan mencuekin Dewi sama artinya dengan menyuruh Joko untuk mengabaikan perasaannya. Sebanding dengan menyuruh Joko menghindari rasa terlukanya. Tegak lurus dengan meminta Joko melupakan hukum alam. Tidak! Galeme biarkan tetap galeme! Karena suatu hari perasaan2 seperti milik Joko akan meledak mencari pelampiasan. So, karena keterbatasan ilmu, Joko harus memaafkan  Galeme. Tak ada maksud Galeme untuk menyesatkan Joko. Baca terus cerpen ni Evi, insya Allah tidak bertambah tersesat...
 
Yang lebih tepat adalah Joko disuruh mengenali kebenaran tentang perasaananya sendiri. Kalau Joko terluka, suruh dia kenali bagaimana pedih dan berdarah-darahnya luka yang dibuat Dewi. Patut Joko catat bahwa perasaan-perasaan manusia tidak bisa dikenai nilai "baik" dan "buruk". Perasaan adalah perasaan! Ia netral. Yang penting, mungkin, adalah bagaimana Joko mengendalikan perasaan tersebut. Jika yg Joko maksud perasaan itu adalah sehat, normal, dan bisa di terima oleh "sebagian besar orang", itu namanya perasaan baik. Tapi jika yang terjadi sebaliknya alias tidak normal, tidak sehat maka kita namai perasaan itu sebagai "buruk."
 
Dan Joko tidak bisa dikatan "tidak normal" hanya karena ia merasa putus asa dan marah karena ditolak Dewi. Wajar kok! Ia merasa sebagaimana seharusnya merasa; perasaannya adalah tanggapan spontan dari tubuhnya terhadap dorongan kuat buah pikirnya,  "ah kampret! Ternyata gua telah dipermainkan". Haiya, manusia tidak dapat memilih bagaimana mereka harus merasa sebagaimana manusia tidak dapat memilih bagaimana agar tidak basah bila tercebur ke dalam air.
 
Intinya adalah mengendalikan diri. Aa Gym bilang manajemen Kalbu. Dan semua kadal penghuni bumi juga tahu bahwa mengendalikan "rasa terluka" dengan cara sehat dan positif tidak lah mudah. Apa boleh buat, Joko, pilihanmu hanya belajar mengendalikan perasaan. Tapi ingat dulu yah, perasaan seperti milikmu itu "sangat berharga", tidak semua makhluk diberi Allah karunia serupa. Jadi tangani perasaan-perasaan kuat yang sangat berharga itu dengan memetik manfaat dari rasa terluka.
 
1. Kenali perasaanmu, Jok! Untukmu mudah sekali menumpahkan unek-unek pada sebuah tulisan. Kuncinya hanya satu, kau harus memilih waktu dan tempat yang tepat! Tapi ingat jangan menyakiti makhluk bernyawa, jangan memukul atau menyepak. Kalau tidak tahan juga, ambil bantal, bayangkan muka Dewi dan hantamlah bantal empuk itu. Setelah muka Dewi bonyok, perasaanmu akan sedikit lega.
 
2. Analisa perasaanmu, Jok. Jika sudah kau tuliskan apa-apa yang kau rasakan, kamu akan dengan mudah membandingkan tentang apa yang kau pikirkan dan apa yang kau rasakan. Disini kadang-kadang kau takjub, kadang-kdang kau heran dan tak jarang kau juga menemukan hal2 konyol. Aneh betul makhluk bernama manusia, ya? Memang! Kalau tidak masak iya Adam dan Hawa yang sudah enak2an hidup di surga milih turun ke Bumi? So, antara perasaan dan pikirmu kadang tidak berjalan seiring. Apa yang kau rasa ternyata tidak beralasan untuk buah pikir.
 
Jika rasa sakit tidak  juga mau pergi, salurkan energimu ke tempat lain. Datangi sebuah Gym dan katakan pada instrukturnya kau menginginkan otot-ototmu untuk di tata ulang atau buat gerak tubuhmu lebih lentur lagi dengan ber- Salsa. Syukur2 kau menemuka instruktur yang cukup "reprentative" untuk menggantikan bayang2 muka Dewi.
 
Masih juga bandel itu perasaan, istirahatlah! Cari tempat sunyi, tinggalkan sejenak tugas2 sosialmu. Ini tidak berarti engkau melarikan diri dari kenyataan atau kembali menguburkan perasaanmu, dikau hanya menyisih sejenak. Aromatherapy di salon plus iringan musik bagus, wow! Manjur, Man!
 
Dan terakhir: Waktu mengobati segala luka. Meskipun rasanya tidak mungkin, percaya deh, Joko, engkau akan mampu mengatur kehidupanmu dengan lebih baik. Engkau dapat bertahan dan maju langkah demi langkah. Berpegang pada harapan bahwa apapun yang kau alami akhirnya akan berakhir. Contoh hidup ada di Serpong.
 
Wassalam,
 
Evi

Kirim email ke