----- Original Message -----
Sent: Tuesday, May 28, 2002 8:49 AM
Subject: [RantauNet] Cerpen Untuk
Rahima
Assalamualaikum,
Dear dinda yang jauh di mata namun
dekat di hati. Uni punya "Cerpen" dan sengaja Uni tulis untuk Dinda
seorang agar Dinda tidak perlu "icak-icak" membayangkan
bagaimana perasaan seorang yang sedang jatuh cinta dan bagaimana
pula ketika cinta ternyata tidak semulus dalam menuliskannya di
layar PC. Ini bukan hasil karya "anak gaul" tapi bukan pula "anak pesantren",
jadi memang "rada-rada". Dimohonkan permakluman yang amat besar,
yah.
Alkisah hiduplah sekelompok remaja
di Planet Maya. Joko naksir berat pada Dewi tapi suatu hari tanpa sengaja Joko
mendengar Dewi berbisik kepada Rita, sahabatnya, bahwa Dewi naksir berat pada
Ari yang nota bene adalah sahabat Joko dan malah tadi malam dia pergi nonton
dengan pujaannya itu. Merapi meletus, bisa dibayangkan gimana perasaan
Joko? Joko yang terluka tiba-tiba hidup diatas bumi gonjang
-ganjing. Ari bukan lagi sahabat sementara Dewi tak lebih baik
seekor Biludak yang merayap di bawah kaki.
Di belakang garis Khatulistiwa
ada sebuah ruang maha luas. Sahabat lain yang care so much pada
Joko, berusaha menasehati agar sabar dalam menerima "musibah"ini. Tapi
mereka adalah orang-orang tidak merasakan bagaimana perasaan Joko
sesunguhnya jadi kelihatannya mudah saja mengucapkan "sabar dan tawakal ",
sementara untuk "Joko" yang babak belur, tidak nyebur ke Sungai Nile juga
sudah bagus. Walau bagaimanapun selalu ada hikmah di balik semua peristiwa.
Jika hanya nasihat yang bisa diberikan oleh sahabat lain tsb dan Joko
terpaksa juga menerima dalam tanda kutip, "kendalikan dirimu,
Joko."
Artinya burung pipit pencuri padi
juga tahu bahwa nasihat "galeme" seperti diatas tidak bermanfaat.
Menyuruh Joko bersabar dengan mencuekin Dewi sama artinya dengan menyuruh Joko
untuk mengabaikan perasaannya. Sebanding dengan menyuruh Joko menghindari rasa
terlukanya. Tegak lurus dengan meminta Joko melupakan hukum alam. Tidak!
Galeme biarkan tetap galeme! Karena suatu hari perasaan2 seperti
milik Joko akan meledak mencari pelampiasan. So, karena keterbatasan ilmu,
Joko harus memaafkan Galeme. Tak ada maksud Galeme untuk menyesatkan
Joko. Baca terus cerpen ni Evi, insya Allah tidak bertambah
tersesat...
Yang lebih tepat adalah Joko
disuruh mengenali kebenaran tentang perasaananya sendiri. Kalau Joko terluka,
suruh dia kenali bagaimana pedih dan berdarah-darahnya luka yang dibuat Dewi.
Patut Joko catat bahwa perasaan-perasaan manusia tidak bisa dikenai nilai
"baik" dan "buruk". Perasaan adalah perasaan! Ia netral. Yang penting,
mungkin, adalah bagaimana Joko mengendalikan perasaan tersebut. Jika yg Joko
maksud perasaan itu adalah sehat, normal, dan bisa di terima oleh "sebagian
besar orang", itu namanya perasaan baik. Tapi jika yang terjadi sebaliknya
alias tidak normal, tidak sehat maka kita namai perasaan itu sebagai
"buruk."
Dan Joko tidak bisa dikatan "tidak
normal" hanya karena ia merasa putus asa dan marah karena ditolak Dewi. Wajar
kok! Ia merasa sebagaimana seharusnya merasa; perasaannya adalah tanggapan
spontan dari tubuhnya terhadap dorongan kuat buah pikirnya, "ah kampret!
Ternyata gua telah dipermainkan". Haiya, manusia tidak dapat memilih
bagaimana mereka harus merasa sebagaimana manusia tidak dapat memilih
bagaimana agar tidak basah bila tercebur ke dalam air.
Intinya adalah mengendalikan diri.
Aa Gym bilang manajemen Kalbu. Dan semua kadal penghuni bumi juga tahu bahwa
mengendalikan "rasa terluka" dengan cara sehat dan positif tidak lah
mudah. Apa boleh buat, Joko, pilihanmu hanya belajar mengendalikan
perasaan. Tapi ingat dulu yah, perasaan seperti milikmu itu "sangat
berharga", tidak semua makhluk diberi Allah karunia serupa. Jadi tangani
perasaan-perasaan kuat yang sangat berharga itu dengan memetik manfaat dari
rasa terluka.
1. Kenali perasaanmu, Jok! Untukmu
mudah sekali menumpahkan unek-unek pada sebuah tulisan. Kuncinya hanya satu,
kau harus memilih waktu dan tempat yang tepat! Tapi ingat jangan menyakiti
makhluk bernyawa, jangan memukul atau menyepak. Kalau tidak tahan juga, ambil
bantal, bayangkan muka Dewi dan hantamlah bantal empuk itu. Setelah muka Dewi
bonyok, perasaanmu akan sedikit lega.
2. Analisa perasaanmu, Jok. Jika
sudah kau tuliskan apa-apa yang kau rasakan, kamu akan dengan mudah
membandingkan tentang apa yang kau pikirkan dan apa yang kau rasakan.
Disini kadang-kadang kau takjub, kadang-kdang kau heran dan tak
jarang kau juga menemukan hal2 konyol. Aneh betul makhluk
bernama manusia, ya? Memang! Kalau tidak masak iya Adam dan Hawa yang
sudah enak2an hidup di surga milih turun ke Bumi? So, antara perasaan dan
pikirmu kadang tidak berjalan seiring. Apa yang kau rasa ternyata tidak
beralasan untuk buah pikir.
Jika rasa sakit tidak juga
mau pergi, salurkan energimu ke tempat lain. Datangi sebuah Gym dan
katakan pada instrukturnya kau menginginkan otot-ototmu untuk di tata ulang
atau buat gerak tubuhmu lebih lentur lagi dengan ber- Salsa. Syukur2 kau
menemuka instruktur yang cukup "reprentative" untuk menggantikan bayang2 muka
Dewi.
Masih juga bandel itu perasaan,
istirahatlah! Cari tempat sunyi, tinggalkan sejenak tugas2 sosialmu. Ini tidak
berarti engkau melarikan diri dari kenyataan atau kembali menguburkan
perasaanmu, dikau hanya menyisih sejenak. Aromatherapy di salon plus
iringan musik bagus, wow! Manjur, Man!
Dan terakhir: Waktu mengobati
segala luka. Meskipun rasanya tidak mungkin, percaya deh, Joko, engkau akan
mampu mengatur kehidupanmu dengan lebih baik. Engkau dapat bertahan dan maju
langkah demi langkah. Berpegang pada harapan bahwa apapun yang kau alami
akhirnya akan berakhir. Contoh hidup ada di Serpong.
Wassalam,
Evi