Sungguh sebuah masukan yang bagus, apalagi kalau ada kurikulumnya yang jelas. Perlu juga diketahui seberapa jauh prinsip-prinsip kemanusiaan diajarkan. Salam
St. Bagindo Nagari ----- Original Message ----- From: <[EMAIL PROTECTED]> To: <[EMAIL PROTECTED]> Sent: Tuesday, July 02, 2002 12:11 PM Subject: [RantauNet] berguru pada alam (sekolah alternatif) > > Dunsanak, uni ,mamak sadonyo ,ambo mohon saketek ingin bacarito mengenai > pendidikan, karena bagi beberapa orang tua saat ini adalah saat untuk > mencari sekolah terbaik bagi anaknya, semoga cerita ini bermanfaat. > > kebetulan ambo babarapo waktu yg lalu pernah mancaliek (survey ) beberapa > sekolah yg agak unik dan saya kira cukup advance ide nya . Minggu lalu saya > mengunjungi Sekolah Alam Bandung yg berlokasi di lembah Sungai Cikapundung > di daerah Bandung utara. > > Selain Sekolah Alam, di Bandung sendiri telah berdiri beberapa sekolah > (tingkat dasar ) yg cukup unik dan kreatif juga antara lain , Salman Al > Farisi ( Leadership) dan Mutiara Bunda ( Creativity ) , semuanya berbasis > keislaman walau tak ditunjukkan secara nyata. Sekolah Mutiara Bunda > dipelopori oleh Sarah ,kemenakan ibu Hamron dosen ITB, urang awak juo. > > Begitu memasuki kawasan sekolah tsb ( TK & SD ) , kita akan kaget melihat > sebuah sekolah yg lebih mirip perguruan silat Shaolin di China sana, berada > di tepi lembah sungai Cikapundung, dikitari sawah dan kebun , berada di > tempat yg miring (berundak undak) , ruang kelasnya dibangun bagaikan rumah > panggung yg terbuka tanpa jendela, ada kolam , lapangan bermain anak dan > ruang ruang / gedung kelas yg terpencar di beberapa tempat. Gedung kelasnya > dibuat dg konstruksi kayu dg dinding bilik , seperti sering kita lihat di > restoran sunda. Bila berada di dalam kelas, kalau melihat keluar terhampar > pemandangan lembah sungai cikapundung yg masih banyak pepohonan dan sawah. > Suatu pemandangan yg aneh bagi sebuah sekolah dasar yg berada di kota > besar seperti Bandung. Rasanya kita bagai berada di tempat wisata alam > daripada berada di sebuah sekolah. > > Yang cukup menarik pula ialah uraian dari pelopor sekolah tsb , Lendo Novo > (37) , alumni ITB yg bergelut di bidang pendidikan anak. Lendo bercerita > bahwa ia mengembangkan Sekolah Alam ini karena terinspirasi oleh pepatah > minang " Alam terkembang jadi guru " , bahwa alam lah tempat belajar yg > terbaik. Ternyata ia urang awak juo, ia bercerita sebagai orang Minang, > dalam keluarganya konsep "Alam takambang jadi guru" disampaikan dg baik. > > Selain dari pepatah tsb, inspirasi tsb datang pula dari pengalaman beliau > yg sering pergi ke alam ( pencinta alam ) ketika kuliah. Masukan didapat > pula dari membaca sebuah buku bagus dari Jepang mengenai pendidikan , Toto > Chan yg bercerita mengenai pengalaman belajar seorang anak kecil di sekolah > yg berupa gerbong kereta api. Serta dari buku karangan tokoh kontroversial > Ivan Ilich yg terkenal dg ide non - sekolah nya ( De - Scholling Society ) > > Menurut Lendo, sekolah alam cocok di negara tropis seperti Indonesia, yg > tak bisa dilakukan di negara dg empat musim. Ia bercerita bahwa bisa jadi > ide sekolah dalam gedung (yg biasa kita lihat) adalah ide yg dibawa oleh > para profesor kita yg sekolah di luar negeri , dan ketika pulang ke > Indonesia membawa pula ide tsb. Di luar negeri ( 4 musim ) mungkin perlu > belajar di gedung karena musim nya berubah ubah . Gedungnya pun kaku > karena harus hangat dll. Nah di Indonesia yg tropis gedung sekolah nya > terbuka , bagaikan saung. Sebagai perbandingan kita bisa melihat pula gaya > sekolah nya Rabindranat Tagore di India, dimana pelajaran diberikan di > halaman rumput di bawah pohon. Atau sekolah Shaolin di China dimana murid > dan guru nya sering belajar di alam terbuka. > > Sebagai acuan kurikulum, sekolah alam tsb, cukup berani dg mengambil > standar kurikulum pendidikan Inggris/British dibanding kurikulum nasional. > Ia berkata bahwa ternyata kurikulum British lebih cocok dg sekolah tsb > karena focus , materi ragamnya sedikit tapi mendalam, daripada kurikulum > nasional yg banyak ragamnya tapi tidak mendalam > ( dangkal ). Mengenai kurikulum ini, beliau sempat konflik pula dg pejabat > dari depdiknas, tapi ia jalan terus. > > Saat ini telah berdiri 2 Sekolah Alam, di Ciganjur Jakarta Selatan dan > daerah Dago Bandung Utara. Sekolah Alam yg di Jakarta telah berdiri > beberapa tahun dan cukup favorit , beberapa tokoh intelektual muda seperti > Eep Saefullah Fatah, Zaim Saidi , Anis Mata dll menyekolahkan anaknya di > Sekolah Alam tsb. > > Anaknya Eep Saefullah Fatah yg pernah bersekolah di Sekolah Alam Ciganjur, > dan kemudian pindah sekolah mengikuti orangtuanya belajar ke luar negeri ( > Australia/US ? ) , malah bisa berprestasi bagus di sekolahnya , dan menjadi > juara untuk penulisan bidang environment. > > ( Apakah hal ini pula yg menyebabkan bahwa lulusan SMA dari Bukittinggi (yg > alamnya masih asri ) , misalnya lebih banyak berhasil pendidikan > selanjutnya, daripada lulusan SMA di Padang, misalnya ? ) > > Pernah pula datang ke sekolah tsb , ahli pendidikan dari Unicef yg sedang > studi mengenai pendidikan anak di negara berkembang, ia kagum juga ternyata > ada juga sekolah di negara berkembang seperti Indonesia yg bisa membuat > anak anak jadi berani, percaya diri dan kreatif. > > Ahli pendidikan tsb berkata bahwa salah satu masalah pendidikan di negara > berkembang ialah , bahwa ternyata sulit untuk dihasilkan murid didik yg > berani dan kreatif, yg banyak terjadi ialah bahwa anak didik hasilnya > berjiwa inferior dan pasif. > > Jangan jangan memang pendidikan kita di sini yg kurikulumnya disusun oleh > profesor lulusan luar negeri , memang untuk mencetak hasil didik yg berjiwa > inferior ( rendah diri ) dan pasif. , supaya mereka kelak setelah lulus > sekolah hanya jadi kuli di perusahaan multinasional asing , dan ternyata > terbukti benar, lulusan ITB saja , salah satu sekolah terbaik di Indonesia > kebanyakan lebih memilih jadi "kuli" di perusahaan asing daripada membuat > usaha mandiri atau kegiatan lain untuk kebaikan masyarakat banyak ( maaf > hanya perbandingan, ambo samo, kuli juo mah ) > > Pada saat orang orang hanya memperbincangkan ttg konsep Alam Takambang jadi > guru , dunsanak kita ini ( Lendo Novo ) telah berhasil mewujudkan nya > dalam bentuk nyata , berupa lembaga pendidikan setingkat TK dan SD, dimana > anak sejak kecil telah dikembangkan kemampuan belajar nya langsung di alam > terbuka. Tak salah kita buat pula di Sumbar sbg pilot project. > > Ide Sekolah Alam ini adalah sebuah experimen yg cukup berani , yg walaupun > ada terdapat kekurangan dalam beberapa hal , setidaknya kita bisa mengambil > pelajaran berharga untuk memberikan pendidikan yg baik bagi anak kemenakan > kita di Sumbar maupun di rantau, sehingga bisa dihasilkan generasi baru > Minang (anak kemenakan kita juga ) yg cerdas,kreatif, percaya diri dan > berani. > > Pada saat anak anak orang kaya Jakarta , pada menyekolahkan anaknya ke > sekolah sekolah bermutu yg mahalnya minta ampun, dg standar internasional > ( British, Singapura, Australia ), saya jadi teringat kemenakan saya di > kampuang nun jauh di pedalaman Sumbar sana, yg bersekolah di gedung reot, > gurunya jarang masuk. kalaupun pelajaran berlangsung kurikulumnya hanya > akan mendidik mereka jadi "kuli" yg inferior. sungguh kasihan sekali. > Ada pula yg bisa bersekolah sampai tinggi, eh malah hanya jadi sarjana > pengangguran , menambah persoalan mamak nyo sajo. ( susah mencari pekerjaan > di Sumbar ,akhirnya pergi juga ke Jawa , tapi tetap nganggur juga, rendah > sekali kreatifitas berfikirnya, padahal lulusan perguruan tinggi, bagaimana > ini pak dosen ? ) > > Bagaimana SDM kita ( anak kemenakan kita ) mau bersaing dg anak anak orang > kaya/Cina tsb yg sejak awal telah mendapat pendidikan yg bermutu ? > > Sebagai tambahan, ada yg menarik juga mengenai sekolah internasional di > Jakarta , dimana anak didiknya juga diajarkan berkuda dan berenang, saya > jadi malah teringat hadits nabi agar mengajarkan anak kita berenang, > berkuda dan memanah. Lho kok malah mereka yg mengamalkan hadits nabi tsb ? > > Experiment sekolah alam tsb saya kira bisa jadi pelajaran berharga, bahwa > pendidikan di Sumbar dan pendidikan anak kemenakan orang minang secara umum > haruslah bermutu sejak awal , sebab kalau tidak kita akan ketinggalan > beberapa langkah. Dan kita harus melakukan lompatan karena saat ini kita > telah tertinggal beberapa langkah ( bukan hanya selangkah ) . Diperlukan > loncatan yg kreatif dan kaidah Alam terkembang jadi guru adalah kaidah yg > tetap aktual untuk dipakai dalam bidang pendidikan. > > Kalaulah ide membuat International University di Sumbar ( Australian > University ) mungkin perlu waktu lama, bagaimana kalau kita buat saja dulu > lembaga pendidikan dasar setingkat TK/SD dg standar internasional, mungkin > bisa lebih cepat diwujudkan dan biayanya tidak begitu tinggi. > Konon (kata orang, maaf saya kurang tahu ) Menurut ahli pendidikan, 60% > perkembangan otak manusia , berlangsung sampai usia 6 tahun . > > wassalam > > Hendra Messa > Banduang > > > > RantauNet http://www.rantaunet.com > Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3 > =============================================== > Tanpa mengembalikan KETERANGAN PENDAFTAR ketika subscribe, > anda tidak dapat posting ke Palanta RantauNet ini. > > Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di: http://www.rantaunet.com/subscribe.php3 > =============================================== > RantauNet http://www.rantaunet.com Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3 =============================================== Tanpa mengembalikan KETERANGAN PENDAFTAR ketika subscribe, anda tidak dapat posting ke Palanta RantauNet ini. Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di: http://www.rantaunet.com/subscribe.php3 ===============================================

