Dunsanak, uni ,mamak sadonyo ,ambo mohon saketek ingin bacarito mengenai
pendidikan, karena bagi beberapa orang tua saat ini adalah saat untuk
mencari sekolah terbaik bagi anaknya, semoga cerita ini bermanfaat.

kebetulan ambo babarapo waktu yg lalu pernah mancaliek (survey ) beberapa
sekolah yg agak unik dan saya kira cukup advance ide nya . Minggu lalu saya
mengunjungi Sekolah Alam Bandung yg berlokasi di lembah Sungai Cikapundung
di daerah Bandung utara.

Selain Sekolah Alam, di Bandung sendiri telah berdiri beberapa sekolah
(tingkat dasar )  yg cukup unik dan kreatif juga antara lain , Salman Al
Farisi ( Leadership)  dan Mutiara Bunda ( Creativity ) , semuanya berbasis
keislaman walau tak ditunjukkan secara nyata. Sekolah Mutiara Bunda
dipelopori oleh Sarah ,kemenakan ibu Hamron dosen ITB, urang awak juo.

Begitu memasuki kawasan sekolah tsb ( TK & SD ) , kita akan kaget melihat
sebuah sekolah yg lebih mirip perguruan silat Shaolin di China sana, berada
di tepi lembah sungai Cikapundung, dikitari sawah dan kebun , berada di
tempat yg miring (berundak undak) , ruang kelasnya dibangun bagaikan rumah
panggung yg terbuka tanpa jendela, ada kolam , lapangan bermain anak dan
ruang ruang / gedung kelas yg terpencar di beberapa tempat. Gedung kelasnya
dibuat dg konstruksi kayu dg dinding bilik , seperti sering kita lihat di
restoran sunda.  Bila berada di dalam kelas, kalau melihat keluar terhampar
pemandangan lembah sungai cikapundung yg masih banyak pepohonan dan sawah.
Suatu pemandangan yg  aneh bagi sebuah  sekolah dasar yg berada di kota
besar seperti Bandung. Rasanya kita bagai berada di tempat wisata alam
daripada berada di sebuah sekolah.

Yang cukup menarik pula ialah uraian dari pelopor sekolah tsb , Lendo Novo
(37) , alumni ITB  yg bergelut di bidang pendidikan anak. Lendo bercerita
bahwa ia mengembangkan Sekolah Alam ini karena terinspirasi oleh pepatah
minang " Alam terkembang jadi guru " , bahwa alam lah tempat belajar yg
terbaik. Ternyata ia urang awak juo, ia bercerita sebagai orang Minang,
dalam keluarganya konsep "Alam takambang jadi guru" disampaikan dg baik.

Selain dari pepatah tsb, inspirasi tsb datang pula dari pengalaman beliau
yg sering pergi ke alam ( pencinta alam ) ketika kuliah. Masukan didapat
pula dari membaca sebuah buku bagus dari Jepang mengenai pendidikan , Toto
Chan yg bercerita mengenai pengalaman belajar seorang anak kecil di sekolah
yg berupa gerbong kereta api. Serta dari buku karangan tokoh kontroversial
Ivan Ilich yg terkenal dg ide non - sekolah nya ( De - Scholling Society )

Menurut Lendo, sekolah alam cocok di negara tropis seperti Indonesia, yg
tak bisa dilakukan di negara dg empat musim. Ia bercerita bahwa bisa jadi
ide sekolah dalam gedung (yg biasa kita lihat) adalah ide yg dibawa oleh
para profesor kita yg sekolah di luar negeri , dan ketika pulang ke
Indonesia membawa pula ide tsb. Di luar negeri ( 4 musim ) mungkin perlu
belajar di gedung karena musim nya berubah ubah . Gedungnya  pun kaku
karena harus hangat dll. Nah di Indonesia yg tropis gedung sekolah nya
terbuka , bagaikan saung.  Sebagai perbandingan kita bisa melihat pula gaya
sekolah nya Rabindranat Tagore di India, dimana pelajaran diberikan di
halaman rumput di bawah pohon. Atau sekolah Shaolin di China dimana murid
dan guru nya sering belajar di alam terbuka.

Sebagai acuan kurikulum, sekolah alam tsb, cukup berani dg mengambil
standar kurikulum pendidikan Inggris/British  dibanding kurikulum nasional.
Ia berkata bahwa ternyata kurikulum British lebih cocok dg sekolah tsb
karena focus , materi ragamnya sedikit tapi mendalam, daripada kurikulum
nasional yg banyak ragamnya tapi tidak mendalam
( dangkal ). Mengenai kurikulum ini, beliau sempat konflik pula dg pejabat
dari depdiknas, tapi ia jalan terus.

Saat ini telah berdiri 2 Sekolah Alam, di Ciganjur Jakarta Selatan dan
daerah Dago Bandung Utara. Sekolah Alam yg di Jakarta telah berdiri
beberapa tahun dan cukup favorit , beberapa tokoh intelektual muda seperti
Eep Saefullah Fatah, Zaim Saidi , Anis Mata dll menyekolahkan anaknya di
Sekolah Alam tsb.

Anaknya Eep Saefullah Fatah yg pernah bersekolah di Sekolah Alam Ciganjur,
dan kemudian pindah sekolah mengikuti orangtuanya belajar ke luar negeri (
Australia/US ? ) , malah bisa berprestasi bagus di sekolahnya , dan menjadi
juara untuk penulisan bidang environment.

( Apakah hal ini pula yg menyebabkan bahwa lulusan SMA dari Bukittinggi (yg
alamnya masih asri ) , misalnya lebih banyak berhasil pendidikan
selanjutnya,  daripada lulusan SMA di Padang, misalnya ? )

Pernah pula datang ke sekolah tsb , ahli pendidikan dari Unicef yg sedang
studi mengenai pendidikan anak di negara berkembang, ia kagum juga ternyata
ada juga sekolah di negara berkembang seperti Indonesia yg bisa membuat
anak anak jadi berani, percaya diri dan kreatif.

Ahli pendidikan tsb berkata bahwa salah satu masalah pendidikan di negara
berkembang ialah , bahwa ternyata sulit untuk dihasilkan murid didik yg
berani dan kreatif, yg banyak terjadi ialah bahwa anak didik hasilnya
berjiwa inferior dan pasif.

Jangan jangan memang pendidikan kita di sini yg kurikulumnya disusun oleh
profesor lulusan luar negeri , memang untuk mencetak hasil didik yg berjiwa
inferior ( rendah diri ) dan pasif. , supaya mereka kelak setelah lulus
sekolah hanya jadi kuli di perusahaan multinasional asing , dan ternyata
terbukti benar, lulusan ITB saja , salah satu sekolah terbaik di Indonesia
kebanyakan lebih memilih jadi "kuli" di perusahaan asing daripada membuat
usaha mandiri atau kegiatan lain untuk kebaikan masyarakat banyak ( maaf
hanya perbandingan, ambo samo, kuli  juo mah )

Pada saat orang orang hanya memperbincangkan ttg konsep Alam Takambang jadi
guru , dunsanak kita ini ( Lendo Novo )  telah berhasil mewujudkan nya
dalam bentuk nyata , berupa lembaga pendidikan setingkat TK dan SD, dimana
anak sejak kecil telah dikembangkan kemampuan belajar nya langsung di alam
terbuka. Tak salah kita buat pula di Sumbar sbg pilot project.

Ide Sekolah Alam ini adalah sebuah experimen yg cukup berani , yg walaupun
ada terdapat kekurangan dalam beberapa hal , setidaknya kita bisa mengambil
pelajaran berharga untuk memberikan pendidikan yg baik bagi anak kemenakan
kita di Sumbar maupun di rantau, sehingga bisa dihasilkan generasi baru
Minang (anak kemenakan kita juga ) yg cerdas,kreatif, percaya diri dan
berani.

Pada saat anak anak orang kaya Jakarta , pada menyekolahkan anaknya ke
sekolah sekolah bermutu yg mahalnya minta ampun, dg standar internasional
( British, Singapura, Australia ), saya jadi teringat kemenakan saya di
kampuang nun jauh di pedalaman Sumbar sana, yg bersekolah di gedung reot,
gurunya jarang masuk. kalaupun pelajaran berlangsung kurikulumnya hanya
akan mendidik mereka jadi "kuli"  yg inferior. sungguh kasihan sekali.
Ada pula yg bisa bersekolah sampai tinggi, eh malah hanya jadi sarjana
pengangguran , menambah persoalan mamak nyo sajo. ( susah mencari pekerjaan
di Sumbar ,akhirnya pergi juga ke Jawa , tapi tetap nganggur juga, rendah
sekali kreatifitas berfikirnya, padahal lulusan perguruan tinggi, bagaimana
ini pak dosen ? )

Bagaimana SDM kita ( anak kemenakan kita ) mau bersaing dg anak anak orang
kaya/Cina  tsb yg sejak awal telah mendapat pendidikan yg bermutu ?

Sebagai tambahan, ada yg menarik juga mengenai sekolah internasional di
Jakarta , dimana anak didiknya juga diajarkan berkuda dan berenang, saya
jadi malah teringat hadits nabi agar mengajarkan anak kita berenang,
berkuda dan memanah. Lho kok malah mereka yg mengamalkan hadits nabi tsb ?

Experiment sekolah alam tsb saya kira bisa jadi pelajaran berharga, bahwa
pendidikan di Sumbar dan pendidikan anak kemenakan orang minang secara umum
haruslah bermutu sejak awal , sebab kalau tidak kita akan ketinggalan
beberapa langkah. Dan kita harus melakukan lompatan karena saat ini kita
telah tertinggal beberapa langkah ( bukan hanya selangkah ) . Diperlukan
loncatan yg kreatif dan kaidah Alam terkembang jadi guru adalah kaidah yg
tetap aktual untuk dipakai dalam bidang pendidikan.

Kalaulah ide membuat International University di Sumbar ( Australian
University ) mungkin perlu waktu lama, bagaimana kalau kita buat saja dulu
lembaga pendidikan dasar setingkat TK/SD dg standar internasional, mungkin
bisa lebih cepat diwujudkan dan biayanya tidak begitu tinggi.
Konon (kata orang, maaf saya kurang tahu ) Menurut ahli pendidikan,  60%
perkembangan otak manusia , berlangsung sampai usia 6 tahun .

wassalam

Hendra Messa
Banduang



RantauNet http://www.rantaunet.com
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
===============================================
Tanpa mengembalikan KETERANGAN PENDAFTAR ketika subscribe,
anda tidak dapat posting ke Palanta RantauNet ini.

Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di: 
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3
===============================================

Kirim email ke