Saya percaya sejarah globalnya seperti di ceritakan oleh
Mak Lembang Alam dan setuju dengan penataan ulang pemegang
sahamnya.
Sangat masuk akal kalau PEMDA mendapat sebagian saham.
Sehingga kalau PEMPUS mau menjual saham hanya sebatas saham
yang dimiliki Pemerintah Pusat tidak dijual habis.

Yan Caniago


On Wed, 21 Aug 2002 18:59:11 -0700 (PDT)
 Muhammad Dafiq Saib <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Assalamu&#8217;alaikum wr.wb.,
> 
> Bermula ketika Bulando yang tukang jajah itu melihat
> bukit kapur yang dekat ke pelabuhan di tepi laut Teluk
> Bayur. Keadaan alam seperti ini jarang terdapat di
> bumi jajahan ini. Ada bukit kapur tapi di tengah
> pesawangan seperti di Padalarang, di Cibinong, ada
> yang  dekat ke tepi laut tapi lautnya tak elok tempat
> berlabuh kapal seperti di gunung Kidul. Bukit kapur
> ini merupakan potensi &#8216;ruar biasa&#8217; di
mana-mana di
> negeri ini. Makanya kalau nak mendirikan pabirik semen
> dimanapun bisa.  Didekat kampung ambo, atau dikampung
> ayah ambo, yang sekampung dengan Rangkayo Evi,
> berdirit-dirit bukit kapur dari barat sampai ketimur.
> Lebih panjang dari yang ada di Indarung. Pergilah buat
> kesana pabirik simin. (Bahan baku semen itu adalah 65%
> batu kapur, 25 % pasir silika, awak menyebutnya
> bungin, 8% alumina (tanah liek nan bakapiek) ditambah
> mineral alkali, oksida titanium dan sebagainya)
> 
> Balik ke bukit kapur di Indarung, bukit yang meskipun
> bisa dituntut oleh ninik mamak sebagai tanah ulayat,
> sebenarnya adalah bukit yang tidak produktif untuk
> kayu-kayuan apa lagi untuk pertanian. Ada semak
> belukar menompang tumbuh di tanah yang
> tersangkut-sangkut di bukit kapur itu hanyut entah
> dari mana-mana, disanalah belukar tumbuh. Tidak ada
> biasanya kayu gadang tumbuh di sana. Tentu indak ka
> sarit benar oleh Belanda untuk me naruko bukit kapur
> itu. Dimana pula dia akan berbasa basi, ka minta
> permisi pula ke urang kampung, ke niniak mamak nan
> gadang basa batuah di sekitar itu. Serupa yang
> diperbuatnya ketika menggali batubara di Ombilin. Maka
> tegaklah pabirik simin di sana sejak awal tahun 1900
> an. Bangga pula orang karenanya, karena memang iya
> inilah pabirik simin yang pertama di Hindia Belanda.
> Padahal ini yang pertama karena letaknya dekat ke
> pelabuhan itu tadi saja, sehingga mudah mengangkut
> simin kemana-mana diperlukan. 
> 
> Bergantilah urang nan berkuasa. Sejak Bulando kalah,
> diganti oleh Jepang sebentar, sampai merdeka, sampai
> Orde Baru sampai sekarang kini nangko. Pabirik simin
> masih disana jua. Masih berproduksi jua. Tapi siapa
> sebenarnya yang punya pabirik besar itu? Daulu Bulando
> mamarentah, kudian Indonesia nan mandapek, Japang
> dibuang kalauiktan. Daulu kato basitinah, kudian kato
> basicapek, lah capek sajo diambo maantaan. Ketika
> Japang datang mangalahkan Bulando yang
> tajangkang-jangkang lari kalah di taun 1942, tentulah
> indak kan terlakit olehnya meminta ganti rugi pabirik
> itu kepada Japang. Japang mendapat warisan yang tentu
> dimanfaatkannya sakahandak hatinya.  Dapatlah produksi
> simin itu diangkutnya kemana saja yang diperlukan
> untuk menunjang perangnya yang sedang berkecamuk.
> Kalah pula Japang, balik pula Bulando Cilako itu nak
> manjajah balik ke negeri ini, tentulah dikuasainya
> pula kembali pabirik itu. Lalu sesudah itu terjadilah
> perpindahan tangan ke Republik dari Bulando. Jadilah
> pabirik itu sebuah perusahaan negara. Saya tidaklah
> tahu entah bagaimana pengambil alihannya oleh negara
> pada waktu itu. Entah dibayar entah tidak. Lalu
> berkuasa Suharto, lalu bertukar-tukar nama organisasi
> pengusahaan pabirik. Terakhir bentuknya PT. Tapi tetap
> merupakan warisan yang dipunyai pemerintah. Lalu
> sekarang karena orang akan berotda-otda, terasa dihati
> hamba iyalah patut pula kok Pemda Nagari Sumatera
> Barat yang mewarisinya lagi. Tapi apalah daya, Bukik
> Bunian panjang tujuah, dilipek lalu panjang limo,
> sajangka pantang diusakkan, bukannyo awak nan tak
> namuah,  dek barang sadang bapakaro,  kasia sansai
> dikadukan.
> 
> Jadi hitunglah terus, antara yang iya dan yang indak.
> Antara yang setuju dan yang indak setuju. 
> 
> Wassalamu&#8217;alaikum wr.wb.,
> 
> Lembang Alam
> 
>  
> 
> --- "Pemi M." <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> > Di susun jary nan sapuluah dipasambahkan ka urang
> > banyak; kini tingga juwo
> > awak sa angin dek urang sabalah karano 'dek indak sa
> > ayun djo salangkah'
> > Aiya pambuluah kini indak bulek lay, karano urang
> > awak masih mangamukokan
> > santiang no masiang2 dan kini baru taraso alah ilang
> > Minang nyo ????????
> > Tarimo kasih dunsanak A B alah mambantang kan
> > laweh2, tingga dek awak2 lay.
> > wass
> > pmmangkuto 
> 
> 
> =====
> 
> St. Lembang Alam
> 
> 
> __________________________________________________
> Do You Yahoo!?
> HotJobs - Search Thousands of New Jobs
> http://www.hotjobs.com
> 
> RantauNet http://www.rantaunet.com
> Isikan data keanggotaan anda di
> http://www.rantaunet.com/register.php3
> ===============================================
> Tanpa mengembalikan KETERANGAN PENDAFTAR ketika
> subscribe,
> anda tidak dapat posting ke Palanta RantauNet ini.
> 
> Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List
> di: http://www.rantaunet.com/subscribe.php3
> ===============================================

Yan Taufik <[EMAIL PROTECTED]>
----------------- Kemudahan Hosting PlasaCom -------------------------------
Hosting menjadi lebih mudah dan murah dengan BEBAS!!! biaya registrasi (discount 100%) 
mail hosting dan webhosting selama bulan Agustus 2002. Klik http://idc.plasa.com untuk 
pendaftaran
---------------------------------------------------------------------------------------

RantauNet http://www.rantaunet.com
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
===============================================
Tanpa mengembalikan KETERANGAN PENDAFTAR ketika subscribe,
anda tidak dapat posting ke Palanta RantauNet ini.

Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di: 
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3
===============================================

Kirim email ke