Assalamualaikum Wr. Wb

Terima kasih tanggapan Ajo Buyuang dan Uda Hadi atas kisah ini.  Saya tidak
berkecil hati kok kalaupun hanya sedikit yang memberi tanggapan terhadap cerita
ini.  Saya rasa bukannya tidak peduli, tapi saya yakin kalau yang menyempatkan
baca cerita ini tentunya akan merasakan hal sama dengan yang kita rasakan ..
tapi buat direnungkan sendiri kali ya ... hehehe ...

Saya rasa cerita ini memang tidak terjadi di kalangan orang islam apalagi orang
minang, karena memang bukan budaya kita untuk "menitipkan" orang tua ke panti
jompo setelah TOPS.  Yang menulis cerita ini pun mungkin bukan orang kita.
Biasanya yang rajin mengunjungi panti jompo atau mengurus anak telantar (anak
jalanan) kebanyakan orang-orang yang non-muslim kok.  Mohon maaf, maksud saya
bukan berarti kita yang muslim tidak peduli, tapi kepedulian orang kita terhadap
orang-orang yang seperti ini memang masih kurang dibandingkan dengan teman-teman
yang kristen (wah bakalan dapat "serangan" nich saya).  Dari pengalaman saya
sendiri berteman dengan berbagai suku dan agama,  memang terasa bahwa kepedulian
teman-teman sesama muslim lebih rendah dibandingkan teman-teman yang non muslim.

Saya kirim cerita ini memang hanya sekedar reminding.  Tapi kejadian seperti ini
tidak mustahil terjadi di dalam lingkungan kita.  Ada kejadian nyata yang
menimpa orang tua minang yang rasanya buat dijadikan mimpi pun rasanya masih
mengerikan buat saya.  Ini terjadi pada seorang Oma (bukan Opa), Seorang Ibu
yang melahirkan anaknya sendiri.   Nenek ini tidak punya anak perempuan dan
hanya punya 3 anak laki-laki.  Tetapi dimasa tuanya dia harus berpindah-pindah
menumpang di rumah saudaranya (bukan di rumah anaknya -- belakangan saya
mengerti mengapa dia lebih senang di rumah saudaranya daripada di rumah anaknya
sendiri).  Sampai akhirnya dia tidak bisa lagi berpindah-pindah dan "terpaksa
dipelihara" anak bungsunya.  Tapi Ajo Buyuang, ternyata seorang anak pun tidak
bisa diandalkan setelah tua (seperti kisah opa di atas).  Percaya atau tidak,
justru dengan anak bungsunya yang katanya juga paling dia sayang, dia menerima
perlakuan yang menyedihkan.  Karena kebiasaannya yang suka meludah dimana-mana,
dia dikurung di dalam kamar dan digembok, makan hanya diletakkan di depan pintu
kamar dan tidak pernah dimandikan.  Tragisnya lagi, dia meninggal dalam kondisi
"mengerikan" bergelimang kotorannya sendiri dan tanpa sepengetahuan anaknya.
Jadi bagi saya, ini pelajaran yang sangat berharga, bahwa ternyata ada juga anak
manusia yang begitu kejam dan  sadis sama orang tuanya, entah terbuat dari apa
hatinya.   Dan anak manusia itu adalah orang islam dan orang minang yang hidup
di ranah minang sampai detik ini.

Kisah seorang opa memang disadur dari sebuah buku tua (seperti tertulis diakhir
cerita), dan jujur saja cerita tsb begitu menyentuh dan mengingatkan saya cerita
nyata tentang seorang oma yang malang ini.  Mudah-mudahan saja cerita-cerita
seperti ini dapat menggugah hati kita agar terhindar dan dijauhi dari kekejaman
serupa ... (sorry, saya jadi kaya orang tua nich) ...

Sekian dari  saya, mohon maaf kalau ada yang salah dan tidak berkenan.

Wassalam,
Iraf





RantauNet http://www.rantaunet.com
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
===============================================
Tanpa mengembalikan KETERANGAN PENDAFTAR ketika subscribe,
anda tidak dapat posting ke Palanta RantauNet ini.

Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di: 
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3
===============================================

Kirim email ke