Iraf, masih muda kok pikirannya tuek banget sih? Tahu nggak, daku sampai pengen nangis membaca kisah si Oma yang pernah melahirkan orang Islam tersebut. Eh, agama anaknya pasti Islam kan ya? Kok ada sih orang Minang dan islam (lagi) yang punya kurenah al kafirun begitu? Bukannya orang Minang itu seratus persen baek-baek semua? Postulat hidup mereka adat basandi syarak syarak basandi kitabulllah lho. Iraf, salah kali, si Oma itu keturunan Yahudi 'ngkali?
 
Saya juga punya kisah. Tidak jauh dari tempat tinggal saya ada sekelompok remaja "kafir" (maksudnya agama mereka kristen) yang rajin menjambangi pinggir jalan dan kolong jembatan tiap hari. Tiap hari lho Iraf, nggak pas bulan ramadhan doang. Diantara mereka ada yang menjadi kakak asuh tetap untuk beberapa orang anak. Menjadi sukarelawan dengan mengajar membaca dan matematika. Mereka pernah mendatangi rumah-rumah warga untuk menanyakan kalau-kalau ada diantara kami yang mempunyai buku bacaan anak-anak yang bersedia di sumbangkan, majalah2 bekas yang sudah tidak dibaca lagi oleh anak-anak kami. Terus secara berkala mereka juga menerbitkan semacam brosur (foto kopian) bahwa mereka punya posko di suatu rumah, kalau ada yang terketuk hatinya untuk ikut terjun atau punya kelebihan rejeki bisa menghubungi mereka di posko tersebut. Kalaupun tidak ada yang akan di berikan, setiap minggu malam remaja-remaja tersebut tetap rajin mengunjungi adik2 asuh mereka dengan membawa gitar, seruling atau alat-alat musik sederhana lainnya. Dengan alat-alat itu lah mereka bernyanyi dan  memuji Yesus.
 
Terus terang saya memang suka "sebel" dengan kegiatan mereka. Hehehe...Biasalah...psikologi orang  tidak mampu....
 
Salam
 
GM
 
Tambahan:
Saya juga mengenal beberapa orang manula minang yang tinggal dengan anak perempuannya tapi hidup "terlantar", Iraf.
 
---- Original Message -----
Sent: Monday, August 26, 2002 10:03 AM
Subject: Re: [RantauNet] KISAH SEORANG OPA



Assalamualaikum Wr. Wb

Terima kasih tanggapan Ajo Buyuang dan Uda Hadi atas kisah ini.  Saya tidak
berkecil hati kok kalaupun hanya sedikit yang memberi tanggapan terhadap cerita
ini.  Saya rasa bukannya tidak peduli, tapi saya yakin kalau yang menyempatkan
baca cerita ini tentunya akan merasakan hal sama dengan yang kita rasakan ..
tapi buat direnungkan sendiri kali ya ... hehehe ...

Saya rasa cerita ini memang tidak terjadi di kalangan orang islam apalagi orang
minang, karena memang bukan budaya kita untuk "menitipkan" orang tua ke panti
jompo setelah TOPS.  Yang menulis cerita ini pun mungkin bukan orang kita.
Biasanya yang rajin mengunjungi panti jompo atau mengurus anak telantar (anak
jalanan) kebanyakan orang-orang yang non-muslim kok.  Mohon maaf, maksud saya
bukan berarti kita yang muslim tidak peduli, tapi kepedulian orang kita terhadap
orang-orang yang seperti ini memang masih kurang dibandingkan dengan teman-teman
yang kristen (wah bakalan dapat "serangan" nich saya).  Dari pengalaman saya
sendiri berteman dengan berbagai suku dan agama,  memang terasa bahwa kepedulian
teman-teman sesama muslim lebih rendah dibandingkan teman-teman yang non muslim.

Kirim email ke