Dalam essainya pada tahun 1967, Eric Fromm bertanya kepada audiensnya masyarakat Amerika, apakah mereka masih mencintai kehidupan? Dalam pertanyaan yang sekaligus dijadikannya sebagagai judul esai tersebut , Fromm sendiri mengakui memang agak aneh mempertanyakan hal seperti itu. Memangnya segala sesuatu yang telah mereka lakukan dalam hidup selama ini tidak menunjukan cinta pada kehidupan? Bagaimana mungkin masyarakat manusia bisa tumbuh dan bertahan jika mereka tidak mencintai kehidupan?
 
Fromm sudah memperkirakan akan mendapat bantahan serius dari orang-orang yang tidak sependapat dengan ide pertanyaan itu.  "Tidak tahukah Anda, peradaban yang kami bentuk, cara hidup kami, ide-ide spritualitas kami adalah bukti paling nyata akan cinta kami pada hidup dan kehidupan?" Kira-kira demikianlah sanggahan mereka. Fromm mengakui bahwa keberangan orang membuat pemikirannya  menjadi sulit, tapi dengan gamlang ia memaparkan bahwa keterlibatan emosi memang  membuat manusia menjadi sulit memahami orang lain. Apalagi jika  orang-orang itu terbiasa membuat kebenarannya sendiri.
 
Sebenarnya semua orang sudah tahu, tanpa cinta ---sebesar apapun-- terhadap kehidupan, tidak akan manusia dan kebudayaan yang dibentuknya mampu bertahan. Akan tetapi, semua orang juga sudah tahu bahwa sebagian manusia "terpaksa" kehilangan sebagian atau seluruh cintanya terhadap kehidupan ini. Mereka ini akan menjadi gila, bunuh diri, manjadi alkoholik atau pecandu obat-obatan. Masyarakat yang tanpa cinta terhadap kehidupan akan menjadi hampa  nilai dan biasanya selalu punya keinginan untuk saling mengancurkan. Prahara ini berangkat dari dasar batiniah yang merasa tidak berguna dan selalu merasa terancam hidupnya.  Walaupun saya sulit memahami apa yang dimaksud Fromm namun ia mencontohkan penghancuran tersebut pada kehidupan suku Aztec yang kekuatan dan kekuasaannya lenyap bersamaan datangnya penjajah Spanyol. Atau korban kekejaman nazi Jerman yang mengancam melakukan bunuh diri massal apabila keinginan Hitler dipenuhi.
 
Untuk memahami kehidupan ini, tampaknya tidak lah sederhana. Sementara untuk berbicara ttg cinta terhadap kehidupan, mau tak mau orang harus mamahami konsep tentang hidup terlebih dahulu. Kita tidak mungkin bisa paham apa itu  kehidupan jika yang kita maksud sebagai hidup hanyalah lawan dari mati. Atau kita mempersempit definisi seperti manusia dan binatang bisa disebut hidup karena dapat berpindah tempat, menerima rangsangan dan berkembang biak.  Fromm tidak membatasi kehidupan sampai disana karena hidup mempunya kecenderungan meluas dan melebar lalu  membentuk sebuah kesatuan yang utuh. Dengan bahasa lain, kehidupan tak lain dan tak bukan adalah pertumbuhan dan perubahan terus menerus. Jika pertumbuhan dan perubahan itu berhenti, sampailah kita pada kematian.
 
Disamping itu, kehidupan selalu sebuah proses, baik proses pertumbuhan dan perubahan, juga proses interaksi antara struktur asli dengan lingkungan dimana si individu dilahirkan. Fromm mengatakan, pohon apel tidak akan pernah menjadi pohon ceri. Suhu dan sinar mata hari dapat membantu sebuah tanaman, tapi bisa menjadi bencana untuk tanaman lain. Seperti kebanyakan orang tua lainnya, Fromm juga tidak lupa mengeluh, katanya, kebanyakan orang tua dan guru dewasa ini sedikit saja mengetahui tentang manusia dibandingkan pengetahuan tukang kebun ttg tanam-tanamannya.
 
Ada orang yang mengatakan bahwa kehidupan ini tumbuh dan berkembang dengan struktur tertentu dan tidak dapat ditebak. Boleh saja orang berkata demikian. Kecuali aspek2 yang paling personal dari seorang individu, pada dasarnya kita bisa menebak aspek "menjadi" makhluk hidup secara garis besar. Contohnya, setelah lahir, masuk sekolah, cari pekerjaan makhluk manusia biasanya akan menikah. Tapi apakah seluruh manusia dewasa akhirnya memilih menikah? Jawabnya tentu tidak. Jadi kehidupan seseorang bisa ditebak tapi sekaligus tidak. Hal ini lah yang menjadi paradoks terbesar dalam kehidupan, penuh kejutan, tapi ia sendiri tidak lebih teratur dari materi mati.
 
Dalam kehidupan bermasyarakat, demi keteraturan sosial, kita menciptakan pengharapan-pengaharapan ideal yang bernama "tatanan". Bila terjadi kesepakan diantara sebagian besar anggota,tatanan itu di terima dan hidup mengalir sesuai dengan romansa masing-masing.  Namun sering juga terjadi penyimpangan dengan terdapatnya sebuah pikiran yang mencoba  mengakategorikan idealisasi sebuah tatanan atas makhluk hidup yang lain. Saat itu terjadi, dia akan kecewa. Apalagi jika hasratnya terhadap tatanan itu sangat kuat, maka dalam frustrasi dan kemarahannya, dia akan mencoba memaksa hidup ke dalam pola-pola yang mengontrolnya. Ketika sadar dia tidak dapat mengotrol,  dia akan mencoba menekan dan bahkan tidak jarang membunuh. Sampai disini dia sudah menjadi seseorang yang pembenci karena dia tidak dapat membebaskan dirinya sendiri dari hasrat untuk mengontrol. Artinya, dia telah gagal dalam mencintai kehidupan, sebab "cinta adalah anak kemerdekaan".
 
Dan perlu disadari bahwa memegang kebenaran tidak hanya sikap kita terhadap orang lain, tetapi juga sikap kita terhadap diri sendiri. Diantara sekelompok orang, ada saja orang2 yang tidak spontan, yang kikuk, yang takut ini dan takut itu, yang tidak merasa bebas karena dia selalu memaksakan pengontrolan atas perasaan-perasaan, pikiran2 dan tindakan2nya. Dia tidak akan pernah bertindak kecuali dia mengetahui dengan pasti apa yang akan terjadi. Keraguan untuknya adalah kecelakaan, lalu bermodalkan itu dia mencari kepastian secara gila-gilaan. Akibatnya dia akan ditekan oleh keraguan dan merasa akan mati bila kepastian tidak kunjung juga menampakan batang hidung.
 
Dalam dunia psikiatris terdapat istilah Neurosis kumpulsif-obsesif (NKO), sebuah sebutan yang diberikan kepada orang-orang yang terobsesi dengan kebutuhan untuk mengontrol. Mereka bisa menjadi ramah atau kejam, yang penting untuk mereka hanya satu bahwa subjek kebutuhan mereka terpenuhi: Mengontrol. Kepribadian yang menjadi bagian dari sadisme ini jika dibawa kebagian kejiawaan  RSCM  akan ditangani oleh para psikiatris dalam klasifikasi sakit mental. Namun dari sudut pandang yang lain, orang bisa saja mengatakan bahwa pribadi ini tengah menderita atas ketidak mampuannya untuk mencintai kehidupan, bahwa dia takut pada kehidupan seperti juga dia akan takut pada segala sesuatu yang tidak dapat dikontrolnya.
 
Satu hal yang pasti dan inheren dalam soal cinta, apakah cinta terhadap kehidupan,cinta terhadap seorang manusia, atau kah cinta terhadap sekuntum mawar yang cantik, saya hanya bisa dikatakan mencintai ketika cinta saya pantas dan berkerosponden dengan kebutuhan-kebutuhan dan kodrat dari apa yang saya cintai. Jika mawar merah saya membutuhkan kelembaban, maka cinta saya diekspresikan dengan membiarkannya memiliki sedikit kelembaban yang ia butuhkan. Tetapi ada yang perlu dicatat disini, terutama bagi mereka yang sensitive terhadap kesetaraan gender bahwa membiarkan suami menikah lagi dengan alasan takut ia akan berbuat dosa dengan berzina, itu  bukanlah sebuah ungkapan cinta sebab mengumbar nafsu bukanlah kodrat makhluk Tuhan yang berakal dan berperangai, apa lagi beriman.
 
Sederhanya begini: Mencintai itu tidak cukup sekedar "menginginkan yang terbaik" bagi makhluk hidup yang lain tetapi kita harus mengetahui kebutuhan kodrati dari tanaman, hewan, anak, lelaki atau perempuan. Kita tidak bisa mengintrodusir konsep "apa yang terbaik" bagi makhluk lain padahal sebenarnya itu berasal dari keinginan kita untuk mengontrol mereka. Sebab jika demikian yang terjadi, cinta kita akan menjadi destruktif. Ibarat memberikan sebuh ciuman beracun. Setidaknya itulah yang dikatakan om Eric Fromm (hehehe..jadi ingat rarach) seorang penggagas awal seputar isu seks dan gender dalam dunia psikologi.
 
 
Evi
200802
 

Kirim email ke