merencanakan hal yang terbaik untuk sebuah kelompok; walaupun kita berada dalam kelompok tersebut; seringkali bias. apalagi kalau sang perencana itu *tidak* berada pada kelompok tersebut.
sebuah kasus pembinaan suku terasing, misalnya, yang dilakukan oleh pt kletuk pecipak indonehi baru-baru ini membuktikan hal tersebut. sebagai seorang kapiten yang mempunyai pedang panjang, pada suatu hari saya ngobrol-ngobrol dengan seorang tetua suku; berikut adalah kutipan dari dialog tersebut.*) kapiten dua rarach: wah, alangkah senangnya bapak sekarang, sudah ada jalan besar hingga ke kampung ini tetua suku: amboiii, tidak jua nak. jalan ini justru bikin ambo lebih susah kapiten dua rarach: mengapakah demikian, bapak? bukankah dengan adanya jalan ini bapak jadi lebih mudah menjual hasil hutan dan lebih mudah untuk berhubungan dengan tempat-tempat lain? tetua suku: ondehhh nak, dengan terbuka jalan ke kampung kami, artinyo kami harus lebih masuk lagi ke pelosok. sebentar lagi semuaa padang, batak, jawa dan cino akan sampai ke kampung kami. manalah pula bisa kami bersaing dengan orang-orang tuunnn. mereka lebih punya keahlian dan ilimu pengetahuan. sebentar lagi akan habis ladang dan hutan di sekitar sini dibikin kebun sama mereka. nah, kami pun masuk lah lagi ke dalam hutannn... kapiten dua rarach: ------ (what could i say?) hal ini terjadi berulang-ulang. on most of rural development plannings. the design was made by smart city guys who think can immitate the point of view 'stupid' urban people. dan (sialnya) orang- orang desa yang terpilih untuk share idea adalah orang-orang desa yagn sedang mengimitasikan pemikiran orang kota. ~rarach *)sengaja dibuat dalam format sandiwara sekolahan, supaya yeyen lebih mangarati. note: kapiten dua adalah pangkat dalam militer negara timbuktu, sedikit di atas letnan dua belas. note lagi: timbuktu? hehehe, itu nama negeri terasing dalam cerita donal bebek. --- In [EMAIL PROTECTED], " -- (*V*) --" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Dalam essainya pada tahun 1967, Eric Fromm bertanya kepada audiensnya masyarakat Amerika, apakah mereka masih mencintai kehidupan? Dalam pertanyaan yang sekaligus dijadikannya sebagagai judul esai tersebut , Fromm sendiri mengakui memang agak aneh mempertanyakan hal seperti itu. Memangnya segala sesuatu yang telah mereka lakukan dalam hidup selama ini tidak menunjukan cinta pada kehidupan? Bagaimana mungkin masyarakat manusia bisa tumbuh dan bertahan jika mereka tidak mencintai kehidupan? > > Sederhanya begini: Mencintai itu tidak cukup sekedar "menginginkan yang terbaik" bagi makhluk hidup yang lain tetapi kita harus mengetahui kebutuhan kodrati dari tanaman, hewan, anak, lelaki atau perempuan. Kita tidak bisa mengintrodusir konsep "apa yang terbaik" bagi makhluk lain padahal sebenarnya itu berasal dari keinginan kita untuk mengontrol mereka. Sebab jika demikian yang terjadi, cinta kita akan menjadi destruktif. Ibarat memberikan sebuh ciuman beracun. Setidaknya itulah yang dikatakan om Eric Fromm (hehehe..jadi ingat rarach) seorang penggagas awal seputar isu seks dan gender dalam dunia psikologi. > > > Evi > 200802 RantauNet http://www.rantaunet.com Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3 =============================================== Tanpa mengembalikan KETERANGAN PENDAFTAR ketika subscribe, anda tidak dapat posting ke Palanta RantauNet ini. Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di: http://www.rantaunet.com/subscribe.php3 ===============================================

