|
Selasa,
1/10/2002 01.11 WIB
Heboh Sinetron �Duo Datuk�Padang, mimbarminang.com � Sinetron Mini Seri �Duo Datuk� yang mulai ditayangkan stasiun televisi SCTV, Rabu (25/9/2002) lalu mengundang protes di kalangan masyarakat Minang. Sebuah seminar yang digelar di Jakarta, Sabtu lalu, berubah menjadi ajang memperkatakan sinetron yang baru episode-nya saja ditayangkan. �Ya, kita di LKAAM memang sudah mendapat banyak masukan.Kalau kita lihat episode pertama nya itu, bisa mengarah kepada pelecehan budaya (cultural harashment),� kata Ketua Umum Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) H.K.R. Dt.P. Simulie. Melihat karakter dua datuk yang ditampilkan dalam episode pertama, Datuk Rajo Di Hati (Anwar Fuadi) yang gila harta dan Datuk Maringgih (HIM Damsyik) yang gila wanita, maka jelas sangat jauh dari prototipe datuk (pemangku adat) yang ideal menurut adat Minangkabau. �Jangankan datuk pemangku adat, orang biasa saja tidak ada yang berperilaku seperti itu,� kata Datuk Simulie. Karena adanya kritik dan reaksi bahkan protes yang menolak sinetron tersebut, Datuk Simulie menyatakan bahwa LKAAM akan membicarakan-nya di dalam rapat pangurus yang segera akan diadakan. Sinetron �Dua Datuk� itu sendiri memang terlihat dikemas sebagai sebuah lakon parodi yang terkesan satir dan tajam, dengan setting adat dan budaya serta alam Minangkabau. Pada episode pertama saja sudah kelihatan betapa kedua (atau tiga) tokoh utama dalam cerita itu tampil sebagai tokoh antagonis yang melawan arus. Inilah tampaknya yang memancing reaksi. Dalam seminar bertajuk �Pergeseran Nilai di Masyarakat Minangkabau� yang digelar di Jakarta hari Sabtu (28/9) lalu, justru soal cerita sinetron ini yang menjadi ajang pembicaraan. Ini dipicu pertamasekali oleh salah seorang pembicara, Drs.H. Hawari Siddik. Mantan Asistem III Sekwilda Sumbar dan salah seorang wakil ketua Dewan Kesenian Sumatra Barat ini menganggap lakon dalam sinetron itu tidak mecerminkan perilaku datuk di Minangkabau. Protes Hawari diamini oleh sejumlah elite Minang lainnya, di antaranya anggota DPR asal Sumbar Ny. Hj. Aisyah Amini, Djamal Doa dan Syahrudji Tandjung.Mereka bahkan meminta SCTV menghentikan penayangan sinetron tersebut. Merusak Citra Datuk Ketua MUI Sumbar, Mansur Malik, mengata-kan kalau sinetron itu menyajikan prilaku datuk yang mengeluarkan kata-kata kotor seperti pada episode pertama itu maka akan berdampak buruk pada citra datuk di daerah ini. �Janganlah gambarkan datuk kita seperti itu, itu bisa membangun citra buruk terhadap datuk pemangku adat di daerah ini. Sementara kita sedang dalam upaya mengembalikan citra Minangkabau dengan kembali ke nagari, memfungsikan datuk sebagai ninik mamak,� kata Mansur kepada Mimbar Minang via telepon, Senin (30/9/2002). Bila kesan datuk dibuat buruk, kata Mansur, maka akan berpengaruh pada tataran kehidupan berbudaya di daerah Minangkabau. Tetap Ditayangkan Sekaitan dengan reaksi sejumlah elite Minang atas penyiaran sinetron �Duo Datuk� itu, manajer Humas SCTV Budhi Darmawan kepada Mimbar Minang kemarin mengatakan tetap akan menyiar kan sinetron hingga episode terakhir. Menurut Budhi, cerita itu parodi itu menam-pilkan pesan-pesan sosial dan budaya yang amat penting, dan tidak menyinggung atau melecehkan nilai-nilai budaya Minang. Justru sebaliknya. Dalam hal ini, ia memperoleh penyataan dari Edy Utama,konsultan produksinya yang juga Ketua Dewan Kesenian Sumatra Barat. �Berdasarkan surat pernyataan Konsultan Produksi Sinteron Duo Datuk, Edy Utama, maka kami akan tetap menayangkan sinetron Duo Datuk untuk ke enam episodenya. Silahkan saksikan, sinetron itu tidak akan mengganggu orang Minang,� kata Budhi. Dikatakan, dalam surat pernyataannya ke SCTV, Edy Utama menyebutkan bahwa sinetron mini seri karya Yasman Yazid itu tidak melanggar hak cipta pihak ketiga sebagian atau seluruhnya. �Termasuk tidak melanggar nilai adat Sumbar,� katanya mengutip pernyataan Edy Utama. Budhi menyampaikan hal itu, sekaitan dengan sebelumnya Herman L. Dt. Bandaro, anggota Komisi I DPR RI, meminta SCTV untuk mencabut dan menghentikan penayangan sinetron Duo Datuk, karena tidak sesuai dengan kehidupan masyarakat Minang. Pada kesempatan itu Herman L juga mempertanyakan kapasitas Edy Utama dalam pernyataan sikapnya kepada SCTV yang memegang kopi siarannya. Saksikan Secara Utuh Meskipun sependapat bahwa episode pertama sinetron itu menapilkan tokoh kontroversial, datuk yang bukan prototipeideal pemangku adat Minangkabau, namun sejarawan dan pengamat kebudayaan Dr. Mestika Zed tidak mempunyai reaksi seperti kalangan lain. �Sebaiknya kita saksikan dulu secara lengkap, sehingga nanti setelah itu kita bisa menilainya,� ujar staf pengajar UNP itu. Sebagai sebuah karya seni, wajar saja sebuah sinetron mengandung kritik sosial. �Tapi mungkin juga ada pesan sosial penting yang bermanfaat. Itu tentu kita ketahui setelah kita melihatnya secara utuh, tidak sepotong-sepotong,� ujarnya. Edy Utama, sang konsultan, tentu saja membela sinetron itu. �Silakan tonton secara utuh,semua episodenya. Justru ada pesan penting di sana, bahwa hukum dan mekanisme adat masih tetap berlaku di Minangkabau,� ujarnya..(son/sal) |
- Re: [RantauNet.Com] Heboh Sinetron "Duo Datuk&qu... Jasman
- Re: [RantauNet.Com] Heboh Sinetron "Duo Dat... benzuara
- Re: [RantauNet.Com] Heboh Sinetron "Duo... elma lin
- Re: [RantauNet.Com] Heboh Sinetron "... young faizal
- Re: [RantauNet.Com] Heboh Sinetron &... Welly Hidayat
- [RantauNet.Com] Subscribe Satria
- Re: [RantauNet.Com] Subscri... Hayatun Nismah Rumzy
- RE: [RantauNet.Com] Sub... Satria
- Re: [RantauNet.Com] Heboh Sinetron "Duo Dat... Arwil Syafri
- Re: [RantauNet.Com] Heboh Sinetron "Duo... Ma'Dang JoLelo
- [RantauNet.Com] Sinetron "Duo Datuk... Hayatun Nismah Rumzy

