Uni Elma, sato ambo senek..
kalau diambiak dari segi baiaknyo sajo tantu iyo bamanfaat
khususnyo bagi nan bapikiran samo, tapi sinetron ko
ditonton dek banyak urang mungkin ampia di saluruah
nusantara ko, apo mereka ( salain urang Pdg-Red ) tu
bapikia maambiak baiaknyo ??? tentu tidak, manuruik ambo
akan terlintas dalam pikiran mereka tu bahwa oooo baitu yo
urang Padang, ooo baitu parangai Datuak�nyo.....

apokah kito akan membiarkan istilah� baru muncul untuak
nagari awak ranah minang nan tacinto ko ..????

mungkin indak asiang ditalingo kito istilah urang padang
BENGKOK ........ urang Padang PANDUTO atau urang lua Padang
takuik kawin jo rang Padang karano alah punyo bini
dikampuang..... dari maa istilah atau anggapan tu datang
klo indak dari media cetak/elektronik.....

nah supayo jan batamba buruak nagari awak, eloklah awak
suruah hantian acara tu, atau kalau ingin baparodi jua,
agiahlah note senek, bak kato Bundo Risma.....

baitu dari ambo..

Ysf

On Sat, 5 Oct 2002 02:33:46 -0700 (PDT)
elma lin <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 
> Sebelumnya maafkan saya kalau pendapat saya salah.......,
> saya selaku pemudi minang,justru sangat bangga dengan
> adanya sinetron "Duo Datuk",karna masih ada orang yang
> mau menggenang cerita yang sebelumnya tidak saya dapatkan
> ,walaupun itu cuma berbentuk parodi,bagi saya justru yang
> saya ambil baiknya saja,kalau pun ada kelemahannya saya
> rasa itu masih wajar dan mungkin saja itu benar2 pernah
> terjadi.
>  benzuara wrote:Sedikit masukan, dan salut atas upaya
> bapak2, mamak kita yang sangat memperhatikan eksistensi
> budaya minang. Saya hanya mengemukakan sedikit pendapat
> saya tentang tulisan yg memuat sinetron "Duo Datuk",
> selaku orang minang terus terang ada rasa kecewa melihat
> tokoh dan alur cerita dari sinetron ini, tetapi dari segi
> tingkat intelektual kita, saya hanya mengimbau untuk
> mengahadapi masalah ini kita jangan mendahulukan emosi
> dengan melupakan nilai dan fakta yang telah terjadi di
> kampung halaman kita. Kenapa saya berkata begitu, dengan
> melihat kenyataan sekarang ini, khususnya didaerah saya
> sendiri dan telah kita ketahui bersama, gelar2 datuk akan
> jatuh ke tangan kemenakan dari datuk sebelumnya, disini
> kita dapat melihat, ada sebagian sipenerima banyak yg
> tidak siap bahkan boleh dibilang banyak yg tidak
> mengetahui fungsi dan tanggung jawab dari gelar yang dia
> sandang atau si penerima gelar mencontoh  banhkan pernah
> melihat prilaku2 buruk dari pemegang gelar itu se
>  ndiri, dengan demikian memungkinkan tokoh dan alur
> cerita
>  yang dipertotonkan oleh sinetron "Duo Datuk" itu bisa
> saja terjadi bahkan lebih dari itu. Disini kita tidak
> mencari siapa yang salah, tapi sebaiknya kita mencoba apa
> yang hilang dari budaya kita masyarakat minangkabau,
> marilah bertanya pada hati nurani kita masing, kita
> merasa orang minangkabau apakah perbuatn dan tingkah laku
> kita telah mencerminkan orang minangkabau?, yang saling
> peduli, berpikir tajam, punya adat dan
> beradab?....mungkin hati nurani masing2 lah yang bisa
> menjawab.Kesimpulan terakhir dari saya, kalau kita bisa
> mengkritik berikan sekaligus solusinya, jangan hanya
> bersifat membangkitkan emosi yang bisa merugikan semua
> pihak...Saya percaya bapak2, mamak2 adalah orang2 yang
> arif dan bijaksana dalam menyelesaikan masalah. Salam
> hangat buat orang2 minang Lupak Jawa  ----- Original
> Message ----- From: Jasman To: [EMAIL PROTECTED]
> Sent: Tuesday, October 01, 2002 8:24 AMSubject:
> [RantauNet.Com] Heboh Sinetron "Duo Datuk"
> Selasa, 1/10/2002 01.11 WIB 
> Heboh Sinetron �Duo Datuk� 
> Padang, mimbarminang.com � Sinetron Mini Seri �Duo Datuk�
> yang mulai ditayangkan stasiun televisi SCTV, Rabu
> (25/9/2002) lalu mengundang protes di kalangan masyarakat
> Minang. Sebuah seminar yang digelar di Jakarta, Sabtu
> lalu, berubah menjadi ajang memperkatakan sinetron yang
> baru episode-nya saja ditayangkan. 
> 
> �Ya, kita di LKAAM memang sudah mendapat banyak
> masukan.Kalau kita lihat episode pertama nya itu, bisa
> mengarah kepada pelecehan budaya (cultural harashment),�
> kata Ketua Umum Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau
> (LKAAM) H.K.R. Dt.P. Simulie. 
> 
> Melihat karakter dua datuk yang ditampilkan dalam episode
> pertama, Datuk Rajo Di Hati (Anwar Fuadi) yang gila harta
> dan Datuk Maringgih (HIM Damsyik) yang gila wanita, maka
> jelas sangat jauh dari prototipe datuk (pemangku adat)
> yang ideal menurut adat Minangkabau. �Jangankan datuk
> pemangku adat, orang biasa saja tidak ada yang
> berperilaku seperti itu,� kata Datuk Simulie. 
> 
> Karena adanya kritik dan reaksi bahkan protes yang
> menolak sinetron tersebut, Datuk Simulie menyatakan bahwa
> LKAAM akan membicarakan-nya di dalam rapat pangurus yang
> segera akan diadakan. 
> 
> Sinetron �Dua Datuk� itu sendiri memang terlihat dikemas
> sebagai sebuah lakon parodi yang terkesan satir dan
> tajam, dengan setting adat dan budaya serta alam
> Minangkabau. Pada episode pertama saja sudah kelihatan
> betapa kedua (atau tiga) tokoh utama dalam cerita itu
> tampil sebagai tokoh antagonis yang melawan arus. 
> 
> Inilah tampaknya yang memancing reaksi. Dalam seminar
> bertajuk �Pergeseran Nilai di Masyarakat Minangkabau�
> yang digelar di Jakarta hari Sabtu (28/9) lalu, justru
> soal cerita sinetron ini yang menjadi ajang pembicaraan.
> Ini dipicu pertamasekali oleh salah seorang pembicara,
> Drs.H. Hawari Siddik. Mantan Asistem III Sekwilda Sumbar
> dan salah seorang wakil ketua Dewan Kesenian Sumatra
> Barat ini menganggap lakon dalam sinetron itu tidak
> mecerminkan perilaku datuk di Minangkabau. 
> 
> Protes Hawari diamini oleh sejumlah elite Minang lainnya,
> di antaranya anggota DPR asal Sumbar Ny. Hj. Aisyah
> Amini, Djamal Doa dan Syahrudji Tandjung.Mereka bahkan
> meminta SCTV menghentikan penayangan sinetron tersebut. 
> 
> Merusak Citra Datuk 
> 
> Ketua MUI Sumbar, Mansur Malik, mengata-kan kalau
> sinetron itu menyajikan prilaku datuk yang mengeluarkan
> kata-kata kotor seperti pada episode pertama itu maka
> akan berdampak buruk pada citra datuk di daerah ini.
> �Janganlah gambarkan datuk kita seperti itu, itu bisa
> membangun citra buruk terhadap datuk pemangku adat di
> daerah ini. Sementara kita sedang dalam upaya
> mengembalikan citra Minangkabau dengan kembali ke nagari,
> memfungsikan datuk sebagai ninik mamak,� kata Mansur
> kepada Mimbar Minang via telepon, Senin (30/9/2002). 
> 
> Bila kesan datuk dibuat buruk, kata Mansur, maka akan
> berpengaruh pada tataran kehidupan berbudaya di daerah
> Minangkabau. 
> 
> Tetap Ditayangkan 
> 
> Sekaitan dengan reaksi sejumlah elite Minang atas
> penyiaran sinetron �Duo Datuk� itu, manajer Humas SCTV
> Budhi Darmawan kepada Mimbar Minang kemarin mengatakan
> tetap akan menyiar kan sinetron hingga episode terakhir. 
> 
> Menurut Budhi, cerita itu parodi itu menam-pilkan
> pesan-pesan sosial dan budaya yang amat penting, dan
> tidak menyinggung atau melecehkan nilai-nilai budaya
> Minang. Justru sebaliknya. Dalam hal ini, ia memperoleh
> penyataan dari Edy Utama,konsultan produksinya yang juga
> Ketua Dewan Kesenian Sumatra Barat. 
> 
> �Berdasarkan surat pernyataan Konsultan Produksi Sinteron
> Duo Datuk, Edy Utama, maka kami akan tetap menayangkan
> sinetron Duo Datuk untuk ke enam episodenya. Silahkan
> saksikan, sinetron itu tidak akan mengganggu orang
> Minang,� kata Budhi. 
> 
> Dikatakan, dalam surat pernyataannya ke SCTV, Edy Utama
> menyebutkan bahwa sinetron mini seri karya Yasman Yazid
> itu tidak melanggar hak cipta pihak ketiga sebagian atau
> seluruhnya. �Termasuk tidak melanggar nilai adat Sumbar,�
> katanya mengutip pernyataan Edy Utama. 
> 
> Budhi menyampaikan hal itu, sekaitan dengan sebelumnya
> Herman L. Dt. Bandaro, anggota Komisi I DPR RI, meminta
> SCTV untuk mencabut dan menghentikan penayangan sinetron
> Duo Datuk, karena tidak sesuai dengan kehidupan
> masyarakat Minang. Pada kesempatan itu Herman L juga
> mempertanyakan kapasitas Edy Utama dalam pernyataan
> sikapnya kepada SCTV yang memegang kopi siarannya. 
> 
> Saksikan Secara Utuh 
> 
> Meskipun sependapat bahwa episode pertama sinetron itu
> menapilkan tokoh kontroversial, datuk yang bukan
> prototipeideal pemangku adat Minangkabau, namun sejarawan
> dan pengamat kebudayaan Dr. Mestika Zed tidak mempunyai
> reaksi seperti kalangan lain. 
> 
> �Sebaiknya kita saksikan dulu secara lengkap, sehingga
> nanti setelah itu kita bisa menilainya,� ujar staf
> pengajar UNP itu. 
> 
> Sebagai sebuah karya seni, wajar saja sebuah sinetron
> mengandung kritik sosial. �Tapi mungkin juga ada pesan
> sosial penting yang bermanfaat. Itu tentu kita ketahui
> setelah kita melihatnya secara utuh, tidak
> sepotong-sepotong,� ujarnya. 
> 
> Edy Utama, sang konsultan, tentu saja membela sinetron
> itu. �Silakan tonton secara utuh,semua episodenya. Justru
> ada pesan penting di sana, bahwa hukum dan mekanisme adat
> masih tetap berlaku di Minangkabau,� ujarnya..(son/sal) 
> 
> 
> ---------------------------------
> Do you Yahoo!?
> Faith Hill - Exclusive Performances, Videos, & more
> faith.yahoo.com

=============================================================================
Ikutan Kuis Berhadiah ? Klik www.kuissiapaberani.com
=============================================================================
Khusus Pelanggan Telkom DIVRE 2, Tekan 166 untuk mendengarkan pesan Anda.
=============================================================================

RantauNet http://www.rantaunet.com
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
===============================================
Tanpa mengembalikan KETERANGAN PENDAFTAR ketika subscribe,
anda tidak dapat posting ke Palanta RantauNet ini.

Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di: 
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3
===============================================

Kirim email ke