|
Sedikit masukan, dan salut atas upaya bapak2, mamak
kita yang sangat memperhatikan eksistensi budaya minang. Saya hanya mengemukakan
sedikit pendapat saya tentang tulisan yg memuat sinetron "Duo Datuk", selaku
orang minang terus terang ada rasa kecewa melihat tokoh dan alur cerita dari
sinetron ini, tetapi dari segi tingkat intelektual kita, saya hanya mengimbau
untuk mengahadapi masalah ini kita jangan mendahulukan emosi dengan melupakan
nilai dan fakta yang telah terjadi di kampung halaman kita. Kenapa saya berkata
begitu, dengan melihat kenyataan sekarang ini, khususnya didaerah saya sendiri
dan telah kita ketahui bersama, gelar2 datuk akan jatuh ke tangan
kemenakan dari datuk sebelumnya, disini kita dapat melihat, ada sebagian
sipenerima banyak yg tidak siap bahkan boleh dibilang banyak yg tidak mengetahui
fungsi dan tanggung jawab dari gelar yang dia sandang atau si penerima gelar
mencontoh banhkan pernah melihat prilaku2 buruk dari pemegang gelar itu
sendiri, dengan demikian memungkinkan tokoh dan alur cerita yang
dipertotonkan oleh sinetron "Duo Datuk" itu bisa saja terjadi bahkan lebih
dari itu. Disini kita tidak mencari siapa yang salah, tapi sebaiknya kita
mencoba apa yang hilang dari budaya kita masyarakat minangkabau, marilah
bertanya pada hati nurani kita masing, kita merasa orang minangkabau
apakah perbuatn dan tingkah laku kita telah mencerminkan orang
minangkabau?, yang saling peduli, berpikir tajam, punya adat dan
beradab?....mungkin hati nurani masing2 lah yang bisa
menjawab.
Kesimpulan terakhir dari saya, kalau kita bisa
mengkritik berikan sekaligus solusinya, jangan hanya bersifat membangkitkan
emosi yang bisa merugikan semua pihak...Saya percaya bapak2, mamak2 adalah
orang2 yang arif dan bijaksana dalam menyelesaikan masalah.
Salam hangat buat orang2 minang
Lupak Jawa
----- Original Message -----
Sent: Tuesday, October 01, 2002 8:24
AM
Subject: [RantauNet.Com] Heboh Sinetron
"Duo Datuk"
Selasa, 1/10/2002 01.11 WIB
Heboh Sinetron �Duo Datuk� Padang, mimbarminang.com � Sinetron
Mini Seri �Duo Datuk� yang mulai ditayangkan stasiun televisi SCTV, Rabu
(25/9/2002) lalu mengundang protes di kalangan masyarakat Minang. Sebuah
seminar yang digelar di Jakarta, Sabtu lalu, berubah menjadi ajang
memperkatakan sinetron yang baru episode-nya saja ditayangkan.
�Ya,
kita di LKAAM memang sudah mendapat banyak masukan.Kalau kita lihat episode
pertama nya itu, bisa mengarah kepada pelecehan budaya (cultural harashment),�
kata Ketua Umum Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) H.K.R. Dt.P.
Simulie.
Melihat karakter dua datuk yang ditampilkan dalam episode
pertama, Datuk Rajo Di Hati (Anwar Fuadi) yang gila harta dan Datuk Maringgih
(HIM Damsyik) yang gila wanita, maka jelas sangat jauh dari prototipe datuk
(pemangku adat) yang ideal menurut adat Minangkabau. �Jangankan datuk pemangku
adat, orang biasa saja tidak ada yang berperilaku seperti itu,� kata Datuk
Simulie.
Karena adanya kritik dan reaksi bahkan protes yang menolak
sinetron tersebut, Datuk Simulie menyatakan bahwa LKAAM akan membicarakan-nya
di dalam rapat pangurus yang segera akan diadakan.
Sinetron �Dua
Datuk� itu sendiri memang terlihat dikemas sebagai sebuah lakon parodi yang
terkesan satir dan tajam, dengan setting adat dan budaya serta alam
Minangkabau. Pada episode pertama saja sudah kelihatan betapa kedua (atau
tiga) tokoh utama dalam cerita itu tampil sebagai tokoh antagonis yang melawan
arus.
Inilah tampaknya yang memancing reaksi. Dalam seminar bertajuk
�Pergeseran Nilai di Masyarakat Minangkabau� yang digelar di Jakarta hari
Sabtu (28/9) lalu, justru soal cerita sinetron ini yang menjadi ajang
pembicaraan. Ini dipicu pertamasekali oleh salah seorang pembicara, Drs.H.
Hawari Siddik. Mantan Asistem III Sekwilda Sumbar dan salah seorang wakil
ketua Dewan Kesenian Sumatra Barat ini menganggap lakon dalam sinetron itu
tidak mecerminkan perilaku datuk di Minangkabau.
Protes Hawari diamini oleh
sejumlah elite Minang lainnya, di antaranya anggota DPR asal Sumbar Ny. Hj.
Aisyah Amini, Djamal Doa dan Syahrudji Tandjung.Mereka bahkan meminta SCTV
menghentikan penayangan sinetron tersebut.
Merusak Citra Datuk
Ketua MUI Sumbar, Mansur Malik, mengata-kan kalau sinetron itu
menyajikan prilaku datuk yang mengeluarkan kata-kata kotor seperti pada
episode pertama itu maka akan berdampak buruk pada citra datuk di daerah ini.
�Janganlah gambarkan datuk kita seperti itu, itu bisa membangun citra buruk
terhadap datuk pemangku adat di daerah ini. Sementara kita sedang dalam upaya
mengembalikan citra Minangkabau dengan kembali ke nagari, memfungsikan datuk
sebagai ninik mamak,� kata Mansur kepada Mimbar Minang via telepon, Senin
(30/9/2002).
Bila kesan datuk dibuat buruk, kata Mansur, maka akan
berpengaruh pada tataran kehidupan berbudaya di daerah Minangkabau.
Tetap Ditayangkan
Sekaitan dengan reaksi sejumlah elite
Minang atas penyiaran sinetron �Duo Datuk� itu, manajer Humas SCTV Budhi
Darmawan kepada Mimbar Minang kemarin mengatakan tetap akan menyiar kan
sinetron hingga episode terakhir.
Menurut Budhi, cerita itu parodi itu
menam-pilkan pesan-pesan sosial dan budaya yang amat penting, dan tidak
menyinggung atau melecehkan nilai-nilai budaya Minang. Justru sebaliknya.
Dalam hal ini, ia memperoleh penyataan dari Edy Utama,konsultan produksinya
yang juga Ketua Dewan Kesenian Sumatra Barat.
�Berdasarkan surat
pernyataan Konsultan Produksi Sinteron Duo Datuk, Edy Utama, maka kami akan
tetap menayangkan sinetron Duo Datuk untuk ke enam episodenya. Silahkan
saksikan, sinetron itu tidak akan mengganggu orang Minang,� kata Budhi.
Dikatakan, dalam surat pernyataannya ke SCTV, Edy Utama
menyebutkan bahwa sinetron mini seri karya Yasman Yazid itu tidak melanggar
hak cipta pihak ketiga sebagian atau seluruhnya. �Termasuk tidak melanggar
nilai adat Sumbar,� katanya mengutip pernyataan Edy Utama.
Budhi
menyampaikan hal itu, sekaitan dengan sebelumnya Herman L. Dt. Bandaro,
anggota Komisi I DPR RI, meminta SCTV untuk mencabut dan menghentikan
penayangan sinetron Duo Datuk, karena tidak sesuai dengan kehidupan masyarakat
Minang. Pada kesempatan itu Herman L juga mempertanyakan kapasitas Edy Utama
dalam pernyataan sikapnya kepada SCTV yang memegang kopi siarannya.
Saksikan Secara Utuh
Meskipun sependapat bahwa episode pertama sinetron itu
menapilkan tokoh kontroversial, datuk yang bukan prototipeideal pemangku adat
Minangkabau, namun sejarawan dan pengamat kebudayaan Dr. Mestika Zed tidak
mempunyai reaksi seperti kalangan lain.
�Sebaiknya kita saksikan
dulu secara lengkap, sehingga nanti setelah itu kita bisa menilainya,� ujar
staf pengajar UNP itu.
Sebagai sebuah karya seni, wajar saja sebuah
sinetron mengandung kritik sosial. �Tapi mungkin juga ada pesan sosial penting
yang bermanfaat. Itu tentu kita ketahui setelah kita melihatnya secara utuh,
tidak sepotong-sepotong,� ujarnya.
Edy Utama, sang konsultan, tentu saja
membela sinetron itu. �Silakan tonton secara utuh,semua episodenya. Justru ada
pesan penting di sana, bahwa hukum dan mekanisme adat masih tetap berlaku di
Minangkabau,� ujarnya..(son/sal)
|