----- Original Message -----
From: "Rahima" <[EMAIL PROTECTED]>



 Assalamualaikum,Wr.Wb.

> Waduh..duh,..enak banget yah jadi suami Uni Evi
> ini.Sampai2 pekerjaan kantorpun diselesaikan di
> rumah,dan di bantu oleh istri yg ayu ngak kepalang
> tanggung lagi.

Hush...Kalau sudah salah ya salah saja, tak usah membangun imej yang
tidak-tidak. Dasar jail!!


> Mesir,bintang flm itu,banyak yg bisa berbagai macam
> Bahasa,English,rata2 semua bisa,Francis
> apalagi,Jepang,jerman,dllnya.Yg jelas bintang flmnya
> berkaliber International bolehlah.Kalau di kita,saya
> rasa,selalu diutamakan wajahnya cantik.

Ima, kalau soal penguasaan bahasa asing, hehehe mari kita tertawa bersama.
Kamu tahu kan kalau kita pernah dipimpin oleh segerombolan manusia saleh,
bijak, dan ketebalan nasionalismenya tak diragukan lagi.Semasa pemerintahan
mereka, orang Indonesia yang menggunakan bahasa asing selain Indonesia punya
cap dikening sebagai tidak nasionalis, tidak cinta tanah air, tidak
menghargai bahasa nenek moyang yang luhur. Alhasil malah pernah ada satu
gerakan "nyeleneh" yang di sahkan oleh undang-undang untuk mengganti semua
nama-nama asing yang bercokol di etalase toko, properti, pasar, pinggir
jalan ke dalam bahasa Indonesia. Yah, kalau tidak mau di "resekin", para
pengusaha harus mengindonesiakan semua merek dagang mereka. Tapi perubahan
itu tidak semudah membuat undang-undang karena konsweksensi finansial yang
menyangkut surat-surat perizinan dan hukum dibelakangnya sangat mahal. Untuk
itu para pengusaha improvisasi dengan cerdik. Akhirnya Holland Bakery
berubah jadi Holan Bekeri, Indomart jadi Indomaret,Green Garden berubah jadi
Gren Gaden,dan entah apa lagi. Pokoknya, sewaktu Indonesialisasi nama-nama
itu sedang seru-serunya, aku sering tertawa sendiri oleh krativitas para
pengusaha kita.

Ima, maksudku adalah pendidikan kita (dulunya) tidak menempatkan bahasa
asing sebagai bahasa kedua dengan sebaik-baiknya. Berbeda dengan dengan
Malaysia, Singapur atau India yang tidak mempermasalahkan penduduknya mau
menggunakan bahasa Inggris atau bahasa ibu dalam pergaulan
sehari-hari.Singapur malah punya bahasa pergaulan internasional sendiri yang
dikenal sebagai Singlish (lucu lho kalau mendengar encik2 dan engkoh2
Singapur berbahasa Inggris).Jadinya yah  kita tidak bisa juga lah
menyalahkan bintang2 film kita yang cantik dan seksi itu tidak bisa
berbahasa Inggris karena atmosfir pendidikan nasinal kita mungkin beda
dengan atmosfir pendidikan nasinal para bintang Mesir.


> Tapi Uni evi,ada sedikit yg ingin saya spikan,ttg
> berita yg agak sedikit "gawat" kali.Sptnya Indonesia
> skrg benar2 jadi sasaran AS,dgn beralasan kita
> termasuk "sarangnya Teroris".

Yee...Jangan dengarkan apa kata AS! Kucing juga tahu kalau standar moral
yang mereka patok bercabang dua. Cuma yang jadi masalah untuk kita adalah
sampai sejauh mana bisa main "goblok2an" sama mereka. Dan tidak perlu sedih,
kita memang goblok beneran, jadi tidak tahu bagaimana caranya berdiplomasi,
tidak tahu bagaimana melawan sambil tersenyum, tidak tahu bagaimana caranya
mengarahkan teropong "teroris" itu ke wajah mereka sendiri. Akibatnya yah,
begini lah nasib bangsa kita, jadi bulan-bulanan terus.

Cuma sebagai ibu mungkin ada sedikit yang bisa kita lakuka yakni membuat
anak-anak kita berbahagia menjadi dirinya sendiri. Seseorang yang bahagia
dengan dirinya sendiri tidak akan diliputi oleh rasa rendah diri dan
seseorang yang tidak memiliki rasa rendah diri cenderung menjadi manusia
baik. Dan alam biasanya memberikan sejuta kemudahan kepada manusia2 seperti
itu. Salah satu kemudahannya mungkin mereka akan memperoleh semua kecerdasan
seperti IQ, EQ, AQ dan SQ yang sangat dibutuhkan dalam interelasi sesama
manusia. Insya Allah bila tiba saatnya, generasi Rahmat dan Adit adalah
generasi yang bisa berdiplomasi sambil tersenyum sehingga tidak sembarangan
orang bisa menuduh negaranya sebagai sarang teroris.


> Kristenisasi semakin merajalela di Sumbar,Keberadaan
> Amerika semakin leluasa di Indonesia ini,tetapi kita
> benar2 ngak dpt berbuat apa.Yg saya khawatirkan
> keadaan Indonesia 10 thn yg akan dtg benar2 dlm pintu
> jurang kemelaratan,sbgmn  Prof Emil Salim,mengatakan
> juga,Kita akan kekurangan "Air" 10 thn mendatang.Uni
> Evi,mari sama 2 kita mendo'akan Indonesia,juga Sumbar
> yg kita cintai ini Uni.Di Malam yg sepi,Hanya tangisan
> pilu yg selalu membasahi pipi ini,melihat kenyataan
> dunia yg kita alami sekarang.(sorry
> nih,..Curhat,..semoga kita fikirkan bersama2)


Huhuhu...curhatnya diterima dengan senang hati. Hei, kami kan pernah
mengatakan kalau tinggal di negeri seribu menara kan ya? Hehehe...Kalau aku
tinggal di negeri seribu masalah lho, Ima. Iya di Sumbar  kristenisasi
meraja lela , iya kemiskinan semakin mencekik, iya mutu pendidikan semakin
amburadul, iya 10 tahun lagi akan kekurangan air. So what? Sepanjang
pengetahuanku sih, kita-kita ini, pak Emil Salim, dan pemimpin kita baru
hanya sekedar tahu lho..Aku tahu lho beberapa blok dari rumah saya terjadi
kecelakaan, aku tahu lho tidak jauh dari tempat tiggal saya terdapat
sekelompok orang demo yang menuntut agar tanahnya yang dulu di rampas agar
di ganti secara layak. Terus hanya sekedar tahu apakah itu cukup untuk
keluar dari masalah? Menurut kamu ada tidak sih suatu mekanisme bagaimana
caranya agar pengetahuan tsb berubah menjadi kerja?


> Uni Evi,suami Uni beruntung sekali dpt Uni.bisa bantu
> kerja di kantor.Apa krn dulunya uni evi Sekretaris
> beliau.

Berutung? Hehehe..iya juga kali. Yang jelas aku sudah indoktrinasi dia bahwa
doi dapat satu perempuan dalam satu PAHE (paket hemat), ya sopir, ya
sekretaris (++ pijat2, buat kopi dan nasi goreng kalau lembur di malam
hari), ya akuntan,manejer keuangan, ya public relation, ya sleeping
companion dll. Cuma satu kekurangan dalam paket hemat ini, koki yang baik
tidak termasuk ke dalamnya.

Sudah ah! Nanti kita diomelin orang.

Wassalam,

GM



RantauNet http://www.rantaunet.com
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
===============================================
Tanpa mengembalikan KETERANGAN PENDAFTAR ketika subscribe,
anda tidak dapat posting ke Palanta RantauNet ini.

Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di: 
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3
===============================================

Kirim email ke