|
��-----Original Message----- ��From: GM [mailto:[EMAIL PROTECTED]] ��Sent: �� ��Huhuhu...curhatnya diterima dengan senang
hati. Hei, kami ��mengatakan kalau tinggal di negeri seribu menara ��tinggal di negeri seribu masalah lho, Ima. Iya di Sumbar kristenisasi ��meraja lela , iya kemiskinan semakin mencekik, iya mutu pendidikan semakin ��amburadul, iya 10 tahun lagi akan kekurangan air. So what? Sepanjang ��pengetahuanku sih, kita-kita ini, pak Emil Salim, dan pemimpin kita baru ��hanya sekedar tahu lho..Aku tahu lho beberapa blok dari rumah saya terjadi ��kecelakaan, aku tahu lho tidak jauh dari tempat tiggal saya terdapat ��sekelompok orang demo yang menuntut agar tanahnya yang dulu di rampas agar ��di ganti secara layak. Terus hanya sekedar tahu apakah itu cukup untuk ��keluar dari masalah? Menurut kamu ada tidak sih suatu mekanisme bagaimana ��caranya agar pengetahuan tsb berubah menjadi kerja? [dm] Alah pernah mandanga
carito pabrik tahu dari salah
satu pemda di Sumbar????????? Dalam suatu pertemuan dengan organ Sumbar di Jakarta duo bulan lalu, ado juo kato-kato,” iyo kalau baitu
kami tahu” “baitu sajolah: kirimkanlah pitih kakami dikampuang, nanti kami olah” Lai tahu
arati kato “kami olah” ……….
Kiro-kiro ……… pitih
habih samba indak lamak. �� �� ��Sudah ah! Nanti kita diomelin orang. �� ��Wassalam, �� ��GM *************** |

