Assalamu'alaikum wr. wb.
Berikut ini sebuah kutipan dari seorang yang tidak mau disebutkan namanya, karena saya bersependapat, boleh saja disebut pendapat saya.
 
Saya justru tidak pernah mendengar kalau dikalangan awam selama ini memojokan Islam, baik itu dalam konteks agama maupun pribadi pemeluknya. Rasanya kita semua sadar dan tahu, bahwa teror yang selama ini hanyalah dilakukan oleh beberapa pihak, baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama.
Misalnya TNI, Kelompok Radikal, Pejabat yang kecewa dll. Dan itupun karena kepentingan yang berbeda. Selama ini banyak orang yang justru dari kelompok radikal atau orang-orang yang sering membela kelompok ini yang selalu membuat komentar bahwa Islam dituduh, Islam dipojokan, Islam difitnah terorist dsb. Segala sesuatu yang menyudutkan mereka langsung mengaitkan dengan Islam, bahwa orang-orang seperti itu banyak disini. Tapi merekalah yang memang paling rajin bikin pernyataan, dan diekspos besar-besaran oleh pers kita yang memang senang jual kecap. Tentunya kita juga sadar kalau ada juga orang yang termakan kata-kata mereka, dan menjadi tugas kita untuk meluruskan hal itu dilingkungan kita  masing-masing.
 
Kalau kita lihat kerusuhan yang ada sekitar kita, dengan mudah terlihat dua hal: bahwa kerusuhan itu tidak lahir dari orang biasa itu sendiri. kedua, bahwa provokatornya dalah itu-itu juga, yang disebut oknum-oknum aparat negara.

Trend menyalahkan Al Qaeda, JI dsb lahir setelah Bush melancarkan propaganda anti-teror setelah 11 September. Trend menyalahkan CIA dsb datang dari orang yang mudah terpengaruh propaganda orang yang tidak  mengenal masyarakat di luar negeri.

Sekarang bagus sekali bahwa pemerintah Indonesia bisa terbuka bekerjasama dengan pihak Australia dan AS. Sampai-sampai penyelidikan bom Bali dilakukan oleh tim gabungan Indonesia-Australia. Tidak ad lagi demo anti-Australia. Ratusan mahasiswa datang ke Kedutaan Australia, tapi bukan untuk demo. Mereka menyatakan simpati. Bunga berpuluh-puluh numpuk di gedung Kedutaan. Di Bali, turis Australia bekerja bahu membahu dengan orang lokal. Mengapa tidak ada lagi keributan anti-asing seperti waktu referendum  Timor Timur? Jawaban sederhana adalah bahwa tidak ada provokator yang membayar demonstrasi. Orang biasa tidak ingin ribut. Yang ribut adalah orang yang memang senang sibut, atau dibayar untuk itu dan tidak punya income yang menyaingi proyek kerusuhan.

Tapi lihat segi lain dari keadaan sekarang. Laskar Jihad membubarkan diri,  pimpinan FPI ditangkap, pimpinan JI ditangkap. Tadinya susah sekali menindak mereka, karena mempunyai sponsor yang berkuasa. Sekarang sponsor  itu berubah haluan dan membersihkan diri dari kelompok itu.

Pihak Australia dan AS bekerja sama dengan aparat Indonesia, dan mendadak kelompok teror dalam negeri ditindak, tapi dilain pihak pemerintah Australia dan AS tidak lagi mempersoalkan pelanggaran HAM oleh oknum aparat di masa lalu.

Kalau mau mengikuti maslah teroris, barangkali ada baiknya kita berpikir secara jernih dan sederhana berdasarkan fakta yang kita lihat, daripada berspekulasi tentang hal-hal eksotik yang hanya kita kenal dari provokasi  media.
Salam
 
SBN
 

Kirim email ke