|
Assalamu'alaikum wr. wb.
Soal pelaksanaan hukum acara pidana di nagari awak
ko baiak di jawa sarato di minang, ambo iyo sangaik kurang bana muatan hak azasi
manusia nyo, pulisi labiah cenderung mancari panyalasaian jo damai antaro nan
basalisiah walaupun salah surang alah taluko fisiknyo. Baitu pulo para istri nan
ditangani suami, jarang sakali kadapek perlindungan dari polisi.
Salam
SBN
----- Original Message -----
Sent: Thursday, October 24, 2002 1:09
PM
Subject: RE: [RantauNet.Com] melihat
kondisi nyata
wa'alaikum salam ww,
mak
Basri, awak punyo ciek pangalaman pribadi wakatu naik aji th 1997, bak
nangko:
Ado
surang jamah'ah haji dari negara bagian soviet nan malaporkan ka palisi Arab
kalo inyo maraso ado hal-hal nan ndak manyanangkan dari parbuatan surang
jama'ah hari dari Pakistan. Tapi katiko di konfirmasi (ditanyokan) ka jama'ah
Pakistan nantun inyo manulak karano maraso indak basalah. Akianyo dek palisi
nantun kaduo-duonyo dipatamukan untuak mancocokkan laporan jo bantahan. Kok
salanjuiknyo io indak tahu wak doh baa hasilnyo karano di proses lanjuiknyo di
kantua palisi Arab nantun.
Kiro-kiro di nagari/palisi awak baa mak kalo ado laporan nama dulu nan
di karajoan...
Untuak ni Rahima apokoh kajadian nan awak caliak nantun memang proses
peradilan dari palisi arab atau memang kabatulan sajo ka duo-duonyo dibao
untuak panyalasaian.
tarimo kasi.
wassalam
Assalamu'alaikum wr. wb.
Berikut ini sebuah kutipan dari seorang yang
tidak mau disebutkan namanya, karena saya bersependapat, boleh saja disebut
pendapat saya.
Saya justru tidak pernah mendengar kalau dikalangan awam selama ini
memojokan Islam, baik itu dalam konteks agama maupun pribadi
pemeluknya. Rasanya kita semua sadar dan tahu, bahwa teror yang selama
ini hanyalah dilakukan oleh beberapa pihak, baik sendiri-sendiri maupun
bersama-sama. Misalnya TNI, Kelompok Radikal, Pejabat yang kecewa dll.
Dan itupun karena kepentingan yang berbeda. Selama ini banyak orang
yang justru dari kelompok radikal atau orang-orang yang sering membela
kelompok ini yang selalu membuat komentar bahwa Islam dituduh, Islam
dipojokan, Islam difitnah terorist dsb. Segala sesuatu yang menyudutkan
mereka langsung mengaitkan dengan Islam, bahwa orang-orang seperti itu
banyak disini. Tapi merekalah yang memang paling rajin bikin
pernyataan, dan diekspos besar-besaran oleh pers kita yang memang
senang jual kecap. Tentunya kita juga sadar kalau ada juga orang yang
termakan kata-kata mereka, dan menjadi tugas kita untuk meluruskan hal
itu dilingkungan kita masing-masing.
Kalau kita lihat kerusuhan yang ada sekitar kita, dengan mudah terlihat
dua hal: bahwa kerusuhan itu tidak lahir dari orang biasa itu sendiri.
kedua, bahwa provokatornya dalah itu-itu juga, yang disebut oknum-oknum
aparat negara.
Trend menyalahkan Al Qaeda, JI dsb lahir setelah Bush
melancarkan propaganda anti-teror setelah 11 September. Trend
menyalahkan CIA dsb datang dari orang yang mudah terpengaruh propaganda
orang yang tidak mengenal masyarakat di luar negeri.
Sekarang
bagus sekali bahwa pemerintah Indonesia bisa terbuka bekerjasama dengan
pihak Australia dan AS. Sampai-sampai penyelidikan bom Bali dilakukan
oleh tim gabungan Indonesia-Australia. Tidak ad lagi
demo anti-Australia. Ratusan mahasiswa datang ke Kedutaan Australia,
tapi bukan untuk demo. Mereka menyatakan simpati. Bunga berpuluh-puluh
numpuk di gedung Kedutaan. Di Bali, turis Australia bekerja bahu
membahu dengan orang lokal. Mengapa tidak ada lagi keributan anti-asing
seperti waktu referendum Timor Timur? Jawaban sederhana adalah bahwa
tidak ada provokator yang membayar demonstrasi. Orang biasa tidak ingin
ribut. Yang ribut adalah orang yang memang senang sibut, atau dibayar
untuk itu dan tidak punya income yang menyaingi proyek
kerusuhan.
Tapi lihat segi lain dari keadaan sekarang. Laskar Jihad
membubarkan diri, pimpinan FPI ditangkap, pimpinan JI ditangkap.
Tadinya susah sekali menindak mereka, karena mempunyai sponsor yang
berkuasa. Sekarang sponsor itu berubah haluan dan membersihkan diri
dari kelompok itu.
Pihak Australia dan AS bekerja sama dengan aparat
Indonesia, dan mendadak kelompok teror dalam negeri ditindak, tapi
dilain pihak pemerintah Australia dan AS tidak lagi mempersoalkan
pelanggaran HAM oleh oknum aparat di masa lalu.
Kalau mau
mengikuti maslah teroris, barangkali ada baiknya kita berpikir secara
jernih dan sederhana berdasarkan fakta yang kita lihat,
daripada berspekulasi tentang hal-hal eksotik yang hanya kita kenal
dari provokasi media.
Salam
SBN
|