|
wa'alaikum salam ww,
mak
Basri, awak punyo ciek pangalaman pribadi wakatu naik aji th 1997, bak
nangko:
Ado
surang jamah'ah haji dari negara bagian soviet nan malaporkan ka palisi Arab
kalo inyo maraso ado hal-hal nan ndak manyanangkan dari parbuatan surang jama'ah
hari dari Pakistan. Tapi katiko di konfirmasi (ditanyokan) ka jama'ah Pakistan
nantun inyo manulak karano maraso indak basalah. Akianyo dek palisi nantun
kaduo-duonyo dipatamukan untuak mancocokkan laporan jo bantahan. Kok
salanjuiknyo io indak tahu wak doh baa hasilnyo karano di proses lanjuiknyo di
kantua palisi Arab nantun.
Kiro-kiro di nagari/palisi awak baa mak kalo ado laporan nama dulu nan di
karajoan...
Untuak
ni Rahima apokoh kajadian nan awak caliak nantun memang proses peradilan dari
palisi arab atau memang kabatulan sajo ka duo-duonyo dibao untuak
panyalasaian.
tarimo
kasi.
wassalam
Assalamu'alaikum wr. wb.
Berikut ini sebuah kutipan dari seorang yang
tidak mau disebutkan namanya, karena saya bersependapat, boleh saja disebut
pendapat saya.
Saya justru tidak pernah mendengar kalau dikalangan awam selama ini
memojokan Islam, baik itu dalam konteks agama maupun pribadi
pemeluknya. Rasanya kita semua sadar dan tahu, bahwa teror yang selama
ini hanyalah dilakukan oleh beberapa pihak, baik sendiri-sendiri maupun
bersama-sama. Misalnya TNI, Kelompok Radikal, Pejabat yang kecewa dll. Dan
itupun karena kepentingan yang berbeda. Selama ini banyak orang yang
justru dari kelompok radikal atau orang-orang yang sering membela
kelompok ini yang selalu membuat komentar bahwa Islam dituduh, Islam
dipojokan, Islam difitnah terorist dsb. Segala sesuatu yang menyudutkan
mereka langsung mengaitkan dengan Islam, bahwa orang-orang seperti itu
banyak disini. Tapi merekalah yang memang paling rajin bikin pernyataan,
dan diekspos besar-besaran oleh pers kita yang memang senang jual
kecap. Tentunya kita juga sadar kalau ada juga orang yang termakan
kata-kata mereka, dan menjadi tugas kita untuk meluruskan hal itu
dilingkungan kita masing-masing.
Kalau kita lihat kerusuhan yang ada sekitar kita, dengan mudah terlihat
dua hal: bahwa kerusuhan itu tidak lahir dari orang biasa itu sendiri.
kedua, bahwa provokatornya dalah itu-itu juga, yang disebut oknum-oknum
aparat negara.
Trend menyalahkan Al Qaeda, JI dsb lahir setelah Bush
melancarkan propaganda anti-teror setelah 11 September. Trend menyalahkan
CIA dsb datang dari orang yang mudah terpengaruh propaganda orang yang
tidak mengenal masyarakat di luar negeri.
Sekarang bagus sekali
bahwa pemerintah Indonesia bisa terbuka bekerjasama dengan pihak
Australia dan AS. Sampai-sampai penyelidikan bom Bali dilakukan oleh tim
gabungan Indonesia-Australia. Tidak ad lagi demo anti-Australia. Ratusan
mahasiswa datang ke Kedutaan Australia, tapi bukan untuk demo. Mereka
menyatakan simpati. Bunga berpuluh-puluh numpuk di gedung Kedutaan. Di
Bali, turis Australia bekerja bahu membahu dengan orang lokal. Mengapa
tidak ada lagi keributan anti-asing seperti waktu referendum Timor
Timur? Jawaban sederhana adalah bahwa tidak ada provokator yang membayar
demonstrasi. Orang biasa tidak ingin ribut. Yang ribut adalah orang yang
memang senang sibut, atau dibayar untuk itu dan tidak punya income yang
menyaingi proyek kerusuhan.
Tapi lihat segi lain dari keadaan sekarang.
Laskar Jihad membubarkan diri, pimpinan FPI ditangkap, pimpinan JI
ditangkap. Tadinya susah sekali menindak mereka, karena mempunyai sponsor
yang berkuasa. Sekarang sponsor itu berubah haluan dan membersihkan diri
dari kelompok itu.
Pihak Australia dan AS bekerja sama dengan aparat
Indonesia, dan mendadak kelompok teror dalam negeri ditindak, tapi dilain
pihak pemerintah Australia dan AS tidak lagi mempersoalkan pelanggaran
HAM oleh oknum aparat di masa lalu.
Kalau mau mengikuti maslah
teroris, barangkali ada baiknya kita berpikir secara jernih dan sederhana
berdasarkan fakta yang kita lihat, daripada berspekulasi tentang hal-hal
eksotik yang hanya kita kenal dari provokasi media.
Salam
SBN
|