Kompas, Kamis, 24 Oktober 2002


Kelompok Radikal Tidak Identik dengan Teroris

Jakarta, Kompas - Terorisme harus diperangi. Namun, memeranginya harus
didasari paradigma yang jelas, tidak campur aduk. Aparat penegak hukum harus
dapat membedakan antara terorisme dengan gerakan fundamentalis maupun
kelompok radikal ekstrem. Pasalnya, keduanya belum tentu identik dengan
terorisme.

Direktur Pascasarjana Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Frans Magnis Suseno
SJ menyampaikan hal itu saat berbicara dalam acara "Komitmen Bersama bagi
Ke-manusiaan", yang diselenggarakan Kantor Berita Antara, Centre for
Strategic and International Studies (CSIS), Forum Komunikasi Kesatuan Bangsa
(FKKB), Paramadina, dan The Habibie Center, Rabu (23/10), di Jakarta.

Magnis berpendapat, penanganan terorisme tanpa paradigma yang jelas akan
menimbulkan kekacauan yang tidak menguntungkan semua pihak. "Semua orang
yang tidak pernah melakukan teror dianggap teroris hanya karena dia memiliki
pandangan eksklusif. Lalu dalam mengusut teroris pun akhirnya akan keliru,"
paparnya.

Kelompok fundamentalis, papar Magnis, memiliki pandangan ekstrem tentang
agama. Tetapi, mereka belum tentu identik dengan kelompok radikal ekstrem
maupun teroris. "Seorang fundamentalis bisa saja seorang yang cinta
kedamaian. Memang dalam agama dia akan eksklusif. Ta-pi, dia bisa peaceful,"
ucapnya.

Demikian pula halnya dengan sejumlah kelompok radikal militan yang selama
ini banyak melancarkan aksi-aksi. Kelompok ini pun tidak bisa serta-merta
diidentikkan dengan teroris, karena berbeda satu dengan yang lain.

"Mungkin mereka itu merusak jendela dan mungkin juga memukul orang. Tapi,
merencanakan memasang bom itu sesuatu yang lain sama sekali. Secara logistik
pun tidak sama dengan teroris," kata Magnis lagi.

Salah satu ciri utama terorisme, lanjut Magnis, adalah bekerja dalam sel-sel
dan dengan perencanaan ketat serta bersifat rahasia. Sementara, banyak
kelompok radikal yang hidup di negara Indonesia terikat dalam sebuah
organisasi besar dan bersifat terbuka karena memiliki kantor pusat.

Oleh karena itu, dalam memerangi terorisme, Magnis mengajak semua pihak
untuk tidak dengan mudah menuduh kelompok tertentu, tapi tetap membuka
pikiran terhadap kemungkinan-kemungkinan tersangka lain.

Lakukan pendekatan

Kepada wartawan--usai acara seminar "Konflik dan Modal Kedamaian Sosial
dalam Konsepsi Lintas Kalangan di Tanah Air: Kon-tribusi bagi Strategi
Ke-bijakan untuk Integritas Bangsa" di Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatulah, Jakarta, kemarin-Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah mengemukakan,
untuk mengha-dapi Islam garis keras ha-rus dilakukan pendekatan. Dengan
pendekatan-pende-katan yang dilakukan, maka diharapkan pihak yang
berpandangan keras tersebut akan dapat memahami dan sependapat dengan
langkah-langkah pemerintah.

"Saya kira harus ada pendekatan. Dari pendekatan bisa kita jelaskan.
Kalaupun ada kelompok-kelompok yang keras, tapi kalau dengan
pendekatan-pendekatan yang kita lakukan tentu dia akan memahami dan bisa
sependapat dengan langkah-langkah yang kita tawarkan," katanya.

Menurut Chamsyah, ada banyak hal yang menjadi akar persoalan konflik di
daerah rawan konflik, seperti masalah kepentingan. Tidak benar jika konflik
terjadi disebabkan oleh agama. Ada banyak faktor mengapa konflik terjadi,
mulai dari struktur yang tidak adil, karena kepentingan, karena nilai, atau
karena data yang salah. (sut/lok)


----- Original Message -----
From: "Nofendri T. Lare" <[EMAIL PROTECTED]>
To: "Milis RantauNet" <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Wednesday, October 23, 2002 8:11 PM
Subject: [RantauNet.Com] Frans Magnis: Tak Ada Kaitan Aksi Teror dengan
Agama di Indonesia


> Assalamualaikum, Wr. Wb.
>
> Liat tuuh...........
> Seorang Rohaniawan kristenpun tidak asal tuduh tentang teroris....
> ===========================================
>
> Rabu, 23 Oktober 2002 13:03:00
> Frans Magnis: Tak Ada Kaitan Aksi Teror dengan Agama di Indonesia
>
> Jakarta-RoL--Pakar etika politik, Frans Magnis Suseno SJ
>  mengungkapkan kecemasannya atas apa yang berkembang saat ini yang
>  mengasosiasikan teror dengan satu agama.
>
>  Menurut dia, tidak ada kaitannya antara aksi-aksi biadab itu dengan
>  agama-agama di Indonesia.
>
>  Karenanya, ia mengatakan, apabila ada tudingan yang mengarah kesana
>  harus terus menerus dibantah, dan agama-agama di Indonesia harus
>  bersatu melawan semua aksi terorisme yang mendiskreditkannya.
>
>  Selain itu, katanya lebih lanjut, perlu ada distingsi yang tegas
>  antara pemahaman teroris, fundamentalis dan ekstrim radikal dalam
>  menanggapi berbagai aksi terorisme, kata Frans Magnis.
>
>  Saat berbicara dalam diskusi bertema Komitmen Bersama Bagi
>  Kemanusiaan di Jakarta, Rabu, Magnis mengatakan ketiga kriteria itu
>  memiliki perbedaan satu dengan lainnya.
>
>  "Seorang fundamentalis belum tentu seorang teroris. Demikian pula
>  seorang teroris belum tentu juga seorang yang ekstrim
>  radikal,"katanya.
>
>  Saat ini, katanya, memang ada banyak fundamentalis yang melakukan
>  berbagai aksinya semata-mata untuk mempertahankan ajaran-ajaran
>  agamanya secara murni.
>
>  Namun aktivitas mereka itu tidak dapat serta merta dikategorikan
>  sebagai kegiatan terorisme yang mengancam kehidupan banyak orang,
>  katanya.
>
>  Magnis yang juga guru besar filsafat pada Sekolah Tinggi Filsafat
>  (STF) Drijarkara itu mengatakan, distingsi seperti itu perlu
>  ditekankan karena selain untuk menguak kebenaran, juga mengarahkan
>  bagaimana pihak-pihak bersikap kepada mereka.
>
>  Sementara pembicara lainnya, Lily Zakiah Munir mendeskripsikan
>  sejumlah ciri seorang fundamentalis.
>
>  Menurut dia, secara teoritis ada sejumlah ciri fundamentalis,
>  diantaranya, sikap yang terlalu teosentris, anti pluralisme, anti
>  kesetaraan jender hingga anti HAM.
>
>  Sikap yang teosentris itu terlihat dari semua tindak tanduk yang
>  dilakukan atas nama Tuhan, kendati apa yang dilakukannya itu
>  seringkali jauh dari realitas karena kerapkali menggunakan kekerasan.
>
>  "Sedangkan anti jender tercermin pada fakta tidak adanya kesempatan
>  bagi kaum perempuan untuk menempati posisi pemimpin. Tidak ada
>  pemimpin perempuan dalam kelompok mereka," katanya.
>
>  Antara/aih
>
>
> RantauNet http://www.rantaunet.com
> Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
> ===============================================
> Tanpa mengembalikan KETERANGAN PENDAFTAR ketika subscribe,
> anda tidak dapat posting ke Palanta RantauNet ini.
>
> Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di:
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3
> ===============================================
>


RantauNet http://www.rantaunet.com
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
===============================================
Tanpa mengembalikan KETERANGAN PENDAFTAR ketika subscribe,
anda tidak dapat posting ke Palanta RantauNet ini.

Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di: 
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3
===============================================

Kirim email ke