----- Original Message ----- From: "Yesi Elsandra" <[EMAIL PROTECTED]>
Assalamualaikum, Yesi Wrote: > Saya salut dengan mereka yang berada di kedua bi'ah ini, mereka > memiliki resistensi yang cukup tinggi menghadapi dua tempat yang > berlainan market orientationnya=== Dear Yesi, Saya sudah baca pendapat dunsanak Susi, Yusniar dan Yesi sendiri antara perbedaan sikap berlaku di Lapau dan di Surau. Meski tidak searah tapi saya menghargai pendapat tersebut. Untuk saya, sebuah pendapat dan argumen bersifat relatif dan karenanya tidak memiliki bobot nilai benar dan salah.Dan senang juga jika Yesi merasa salut atas resistensi saya bolak-balik antara Lapau dan Surau yang berlainan market orientasinya tapi tetap enjoy memasuki ke dua wilayah publik tsb. Mau tahu rahasianya? Begini, untuk saya, antara Lapau dan Surau itu mestinya tidak boleh ada perbedaan. Jika di Surau kita dilarang ngomongin orang, mestinya di Lapau juga berlaku aturan tersebut.Jika di Surau kita harus bisa duduk secara sopan, mestinya hal ini juga di berlakukan di Lapau. Duduk secara sopan mestinya adalah tata tertib pergaulan baku, berlaku di Surau dan di lapau. Begitu pula jika ke Surau harus berpakaian bersih dan rapi, mestinya pergi ke Lapau kita juga harus berpakaian bersih dan rapi. Begitu pula jika bermaksud mensucikan nama Allah, mestinya Surau dan Lapau adalah ruang publik yang tidak bersekat. Begitu pun sebaliknya, jika di Lapau kita boleh ngomongin politik secara berapi-api, apa salahnya itu juga di lakukan di Surau? Bila Lapau punya kehangatan, persaudaraan,rasa senasib sepenanggungan, apa salahnya itu di bawa ke surau. Bila di Lapau kita mudah menyunggingkan senyum, apa dosanya jika itu di bawa ke Surau? Nah, itu Yesi, mengapa hingga detik ini saya menikmati berada dalam dua komunitas yang menurut Yesi seharusnya berbeda. Dan itu lah sebab mengapa saya suka terheran-heran sendiri mengapa orang Minang harus ganti baju (pinjam istilah bung Wirman)bila masuk Surau dan memakai baju yang lain bila masuk Lapau sementara badan yang dibawa masuk yang itu-itu juga.Saya kuatir jika kita tetap mendirikan dua dikotomi antara Surau dan Lapau, tidak berusaha membawa nilai-nilai Surau ke Lapau atau nilai-nilai positive yang ada di Lapau ke dalam Surau, orang Minang akan memiliki kepribadian terbelah,shalat dan puasa rajin tapi korupsi jalan terus. > betul sekali uni. karena itu pulalah saya yang ilmunya sedikit ini > sedang memutar otak nih bagaimana caranya agar saya cepat > menyelesaikan kuliah, kemudian menjadi doktor dalam usia 30 tahun. Hei, sebagai sesama perempuan, aku sangat bangga kepadamu. Aku hanya ikut berdoa kurang lebih 4 tahun lagi akan ada seorang perempuan Minang menyodorkan kartu nama Dr. Yesi Elsandra yang ekonom kepada kolega-kolega barunya.Perihal TV dan BMW, hehehe...yakinlah, itu cuma tinggal tunggu waktu.Kalau aku bilang kamu harus banyak-banyak berdoa, itu sama saja dengan mengajarkan tentara berbaris dan saya ogah nampak "tolil" begitu. Jadi yang dapat ku katakan hanyalah kamu harus yakin bahwa suatu hari akan nyetir BMW sendiri.Rumus sederhananya begini, kalau kita cari pekerjaan, akan dapat dapat kerja kan? Kalau kita cari celaka akan dapat celaka. Jadi kalau kamu berniat cari BMW berserta derivatnya yang akan kamu sumbangkan untuk dakwah, kamu pasti akan mendapatkannya.So,mulailah dari sekarang merasa yakin bahwa BMW dan derivatnya cuma tunggu waktu untuk menghampiri Yesi. > > Namun yang lebih penting dari itu dan sering dilupakan manusia > adalah, betapa Maha Pengasih, Penyayang dan Pemurahnya Allah. ilmu > dikasih, walaupun harus memutar otak mendapatkannya (kata uni), harta > dikasih, kesehatan di kasih. Bahkan yang tidak memerlukan otakpun > kita dikasih, udara untuk bernafas, sinar matahari yang membantu > tumbuhan melakukan potosintesis, air yang melimpah ruah untuk minum, > kesehatan yang prima dan seribu nikmat lainnya. Betul Allah maha pengasih dan penyayang. Tapi juga maha angkara murka bukan? Keangkara murkaannya itu kan yang selama ini sering di dengungkan-dengungkan guru mengaji agar kita takut pada asab akhirat nanti? Yesi menyuruh sidang pembaca untuk membalik al Quran untuk mengingat betapa pedih hari pemalasan nanti. Terlebih dahulu saya minta maaf dik, saya tidak bermaksud menyombongkan diri, tapi saya sudah baca surat-surat seperti itu sejak duduk di bangku SD. Tidak secara langsung dari Al Quran memang tapi melalui komik, buku bergambar. Dari komik-komik ttg siksa neraka saya dapat gambaran jelas, bagaimana lidah si tukang gossip yang tidak berhenti mulur walau di potong berkali-kali, bagaimana besi panas menusuk vagina (maaf) seorang perempuan yang melakukan zina, bagaimana cairan besi panas lewat kerongkongan peminum arak, bagaimana siksa orang-orang yang tidak bersedekah, menelantarkan anak yatim dan sebagainya. Menurut ahli, anak-anak menerima informasi tanpa filter, tanpa preseden, tanpa curiga dan mungkin itu lah sebab hingga detik ini bayang-bayang dalam komik itu tidak mau pupus dari kepala saya. Tapi setelah dewasa, dengan membaca banyak buku, menemukan seorang 'guru ngaji" yang tepat bahwa dalam kemahaan-Nya itu, Allah juga punya wajah lain selain keangkara murkaan. Dia maha kasih, maha pemurah, maha tertawa, maha perhatian dan maha2 baik lainya, lalu saya putuskan bahwa saya akan akan mengenal Allah dari wajah-Nya yang surgawi itu. Dengan menyimpan memori bahwa di akhirat nanti ada surga dan neraka, saya memutuskan agar berusaha untuk masuk pintu surga melalui wajah Allah yang surgawi. Begitu pula dalam mendidik anak-anak, saya berusaha menonjolkan sifat2 surgawi Allah, hal-hal yang "mengerikan" hanya saya berikan dalam bentuk informasi. Jadi saya tidak menanamkan "rasa takut" kepada anak-anak saya dalam beragama. Jika mereka menjauhi apa yang di larang-Nya dan menjalan apa yang disuruh-Nya, tidak ada alasan untuk takut kepada-Nya. > bagaimana seandainya tiba-tiba saja itu semua lenyap dari diri kita, > tiba-tiba kita tidak bisa bernafas (minum nafasin dong, kata iklan, > tapi jangan percaya deh), tiba-tiba kita buta, tiba-tiba ada bom > (bilang aja "coba kalo berani" emang permen polo) lalu semuanya jadi > berantakan... Jika seorang manusia telah bersaha keras memenuhi harapan Allah, apakah perlu takut jika tiba-tiba harus mati? Kalau memang saatnya harus menghadap sang khalik, tidak ada yang perlu di cemaskan. Mati ya mati saja, mengapa pula harus menawar. Cuma bagaimanapun kita harus tetap berusaha, bila sakit, harus berusaha cari obat untuk sembuh. Siapa tahu itu cuma cobaan dari-Nya. Begitu pula bila kecelakaan, berusaha menyelamat diri, tapi jika semua usaha telah di lakukan dan elmaut tidak mau menghindar juga, itu lah saatnya untuk pasrah.Sederhana saja kan? Yang jelas bila kita yakin pada diri sendiri bahwa di dunia kita telah berusaha berjalan dalam garis-garis Allah, tidak perlu menyimpan kekuatiran ttg akhirat. Sekian dulu. Senang bisa berdikusi dengan dik Yesi. Wassalam, GM > RantauNet http://www.rantaunet.com Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3 =============================================== Tanpa mengembalikan KETERANGAN PENDAFTAR ketika subscribe, anda tidak dapat posting ke Palanta RantauNet ini. Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di: http://www.rantaunet.com/subscribe.php3 ===============================================

