��-----Original Message-----

��From: -- (*V*) -- [mailto:[EMAIL PROTECTED]]

��Sent: Sunday, November 03, 2002 1:46 PM

 

��Yth. Mak Parapatiah,

 

[dm] Lai Evi.

��

��Hehehe...sebetulnya, kalau kita memandang dari kaca mata bisnis

��yang murni, berasio dingin dan rasional, tidak ada yang perlu

��di kuatirkan dengan hutang yang hanya 900 milyar untuk

��pembangunan bandara Katapiang seperi yang di lansir oleh tuan DD

��kemarin.

 

[dm] Lain tompaik tagak lain suduik pandang. Kan buliah balain. Cubo Evi, mangko Nan 900 nantun, 30% dihabihkan untuak survey (balaik ka si paminjam), sudah tu kasadoan supply barang nanti juo dari sipeminjam (balaik ka si paminjam). (Cubo caliak CGK, sampai loteng samiang diimport dari Perancis, sampai kini Angkasa Pura ko masih devisit sajo). Dan pekerja serta pekerja ahli nan dibasia maha juo dating dari sepeminjam (balaik ka si paminjam). Local content ……. sarik ka dilaksanakan tu. Nanti daerah otonomi nan sadang kambang kampih kantongnyo harus manyicia (100% pinjaman + bunga), antah lai ka talap antah indak.

��

��Jika benar kita meminjam mencapai angka 900 milyar itu, saya

��yakin pinjaman itu tidak murni hard currency alias duit melulu.

��Logikannya untuk membangun infrastruktur canggih seperti

��Bandara, kita butuh teknologi canggih, alat-alat canggih dan

��berbagai strategi canggih lainya. "Hongop"nya (ongok)kita, kita

��pengen membangun infrastrutur canggih tapi tidak punya otak

��canggih. Nah, sebagai negara yang memiliki bermacam-macam

��kecanggihan, tidak sulit bagi Jepang untuk memetakan apa saja

��yang menjadi kebutuhan pemda Sumbar untuk memulai proyek ini.

��Misalnya, kita perlu alat-alat berat, teknologi, aspal, beton

��dll, ya tinggal beli pada mereka. Setelah di tambah sedikit hard

��currency agar pemda sedikit liquid, tampaknya jadi setumpuklah

��utang kita.

 

[dm] Batua Evi, nan diapakai dari awak saketek bana nanti, paliang kuli angkek jo kasiak sajo. Nan lain dari Japang (barang canggih, tenaga ahli dll). Cubo untuak tukang las sajo harus didatangkan dari Japang (SQC). Awak Cuma bisa manonton debu pembangunan sajo nanti. SSasudah bautang harus dibaia. Tamasuak jasa teknologi, jasa kepintaran dlsb.

��

��Tapi kosa kata hutang adalah konsep uang di mata kebanyakan

��orang miskin (hehehe...keluar lagi deh ilmu dari si ayah kaya

��yang mamak pernah rekomendasikan ke saya). Dalam suatu

��percaturan bisnis, sebetulnya tidak ada konsep hutang, jika yang

��satu memberi pinjaman sedang yang lain menerima pinjaman, bukan

��berarti yang satu kedudukannya lebih rendah dari yang yang lain

��sehingga harus maibo-iboan parasaian sebagai si terhutang. Yang

��sebenarnya terjadi adalah kedua toke sedang sama-sama sedang

��cari untung.

 

[dm] Gini Evi, saya berfikir sistim prioritas, apa kita yang sedang tekor perlu hal yang canggih dibeli. Makan susuh apa anak perlu dibelikan TV dan computer. Yang paling penting kini adalah menaikan daya beli masyarakat, sehingga kesanggupan membayar pajak setiap komponen terpajak juga meningkat. Bagaimana kalau seandainya yang dibawa ke Sumbar pabrik makanan, sehingga hasil pertanian kita yang harga dipasarnya seperti mata gergaji bisa distabilkan. Yah paling tidak ya ada margin untuk petaninya. Coba disaat panen tomat kadang harganya Cuma Rp. 300, dan disaat yang lain harganya bisa samapai Rp. 6000/kg.

��

��Saya ngaco? Tidak! Yang diperlukan cuma merubah persepsi dari

��persepsi orang miskin menjadi persepsi orang kaya. Caranya?

��Rubah cara berfikir bahwa akumulasi 900 milyar tidak berarti

��kita sedang menggadaikan anak cucu sampai 15 turunan.Angka 900

��milyar tidak berarti apa- apa jika kita "imbal jualan" dengan

��Jepang. Kita kasih Jepang pangsa pasar untuk sepeda motor

��"Honda" nya di sumbar (orang Sumbar kan tergila-gila sangat pada

��alat transportasi mungil ini), kita kita kasih mereka membangun

��sektor pariwisata, perikanan, hutan dll.Mengingat potensi pasar

��dan kekayaan bumi Sumbar, rasanya angka 900 milyar itu tidak

��berarti apa-apa deh, Mak. Keuntungan lain adalah, roda ekonomi

��Sumbar mergerak maju. Disini memang memerlukan seorang yang

��cerdas (seperti saya hehehe...) untuk bernegosiasi masalah

��prosentase dan waktu dengan Jepang sebab jika tidak demikian,

��tidak asyik pula jika membiarkan Jepang sampai 15 turunan

��bercokol di bumi nusantara.

 

[dm] Yah itulah Evi, perlu kecerdasan bernegosiasi. Kalau seandainya diadakan barter dengan Japang misalnya dengan konsesi, anata bisa tangkap ikan saya dilaut lepas selama …. Tahun, tapi pakai crew dan junior officer orang Ina, iko iyo rancak. Tapi ambo picayao, nan 900 M nantun barupo pinjaman. Sarancakno iyo taulah dulu, jenis pinjamannya. Kalau commercial loan, matilah anak cucu kita.

��

��So mak Parapatiah, itu lah sebab mengapa kemarin saya mengajak

��tuan DD untuk main monopoli tapi tampaknya beliau "ngeper" tuh.

��Buktinya sampai sekarang diam saja.

 

[dm] DD tamapakno takantuak kantuak, jadinyo agak balain angguak jo ilalah. Awak tunggulah, nanti inyo maunjuakkan tariangnyo tu, kok lai batariang juo.

��

��Wassalam,

��

��Si Padang alias si PAnDAi dagaNG

��(sebutan kehormatan yang saya dapat akibat rajin berkunjung ke

��Surau lho, Mak).[dm] semoga jadi orang cerdas secara financial

[dm] Evi = Excellence in Vinancial.

��

 

***************
DISCLAIMER:
Privileged/Confidential information may be contained within this message. If you are not the intended recipient, you must not use, copy, retain, distribute, or disclose any of its content to others. Instead, please notify the sender immediately and then delete this e-mail entirely. We have checked this e-mail for any viruses and harmful components however; we cannot guarantee it to be secured or virus free. PT Perusahaan Pelayaran EQUINOX does not accept any responsibility for any damages or any consequences therefrom.

Kirim email ke