|
��-----Original Message----- ��From: -- (*V*) -- [mailto:[EMAIL PROTECTED]] ��Sent: ��Yth. Mak Parapatiah, [dm] Lai
Evi. �� ��Hehehe...sebetulnya, kalau kita memandang dari kaca mata bisnis ��yang murni, berasio dingin dan rasional, tidak ada yang perlu ��di kuatirkan dengan hutang yang hanya 900 milyar untuk ��pembangunan bandara Katapiang seperi yang di lansir oleh tuan DD ��kemarin. [dm] Lain
tompaik tagak lain suduik pandang. �� ��Jika benar kita meminjam mencapai angka 900 milyar itu, saya ��yakin pinjaman itu tidak murni hard currency alias duit melulu. ��Logikannya untuk membangun infrastruktur canggih seperti ��Bandara, kita butuh teknologi canggih, alat-alat canggih dan ��berbagai strategi canggih lainya. "Hongop"nya (ongok)kita, kita ��pengen membangun infrastrutur canggih tapi tidak punya otak ��canggih. Nah, sebagai negara yang memiliki bermacam-macam ��kecanggihan, tidak sulit bagi Jepang untuk memetakan apa saja ��yang menjadi kebutuhan pemda Sumbar untuk memulai proyek ini. ��Misalnya, kita perlu alat-alat berat, teknologi, aspal, beton ��dll, ya tinggal beli pada mereka. Setelah di tambah sedikit hard ��currency agar pemda sedikit liquid, tampaknya jadi setumpuklah ��utang kita. [dm] Batua Evi, nan diapakai dari awak
saketek bana nanti, paliang kuli angkek jo
kasiak sajo. �� ��Tapi kosa kata hutang adalah konsep uang di mata kebanyakan ��orang miskin (hehehe...keluar lagi deh ilmu dari si ayah kaya ��yang mamak pernah rekomendasikan ke saya). Dalam suatu ��percaturan bisnis, sebetulnya tidak ada konsep hutang, jika yang ��satu memberi pinjaman sedang yang lain menerima pinjaman, bukan ��berarti yang satu kedudukannya lebih rendah dari yang yang lain ��sehingga harus maibo-iboan parasaian sebagai si terhutang. Yang ��sebenarnya terjadi adalah kedua toke sedang sama-sama sedang ��cari untung. [dm] Gini Evi, saya berfikir sistim prioritas, apa kita yang sedang tekor perlu hal
yang canggih dibeli. Makan susuh apa anak perlu dibelikan TV dan computer. Yang paling penting kini adalah
menaikan daya beli masyarakat, sehingga kesanggupan membayar pajak setiap komponen terpajak juga meningkat.
Bagaimana kalau seandainya yang dibawa ke Sumbar pabrik
makanan, sehingga hasil pertanian kita yang harga dipasarnya seperti mata gergaji bisa
distabilkan. Yah paling tidak
ya ada margin untuk petaninya. Coba disaat panen
tomat kadang harganya Cuma Rp.
300, dan disaat yang lain harganya bisa samapai
Rp. 6000/kg. �� ��Saya ngaco? Tidak! Yang diperlukan cuma merubah persepsi dari ��persepsi orang miskin menjadi persepsi orang kaya. Caranya? ��Rubah cara berfikir bahwa akumulasi 900 milyar tidak berarti ��kita sedang menggadaikan anak cucu sampai 15 turunan.Angka 900 ��milyar tidak berarti apa- apa jika kita "imbal jualan" dengan ��Jepang. Kita kasih Jepang pangsa pasar untuk sepeda motor ��"Honda" nya di sumbar (orang Sumbar ��alat transportasi mungil ini), kita kita kasih mereka membangun ��sektor pariwisata, perikanan, hutan dll.Mengingat potensi pasar ��dan kekayaan bumi Sumbar, rasanya angka 900 milyar itu tidak ��berarti apa-apa deh, Mak. Keuntungan lain adalah, roda ekonomi ��Sumbar mergerak maju. Disini memang memerlukan seorang yang ��cerdas (seperti saya hehehe...) untuk bernegosiasi masalah ��prosentase dan waktu dengan Jepang sebab jika tidak demikian, ��tidak asyik pula jika membiarkan Jepang sampai 15 turunan ��bercokol di bumi nusantara. [dm] Yah
itulah Evi, perlu kecerdasan bernegosiasi. Kalau seandainya diadakan barter dengan Japang misalnya dengan konsesi, anata bisa tangkap
ikan saya dilaut lepas selama
…. Tahun, tapi pakai crew dan junior officer orang Ina, iko iyo rancak. Tapi
ambo picayao, nan
900 M nantun barupo pinjaman. Sarancakno iyo taulah dulu,
jenis pinjamannya. Kalau commercial loan, matilah anak cucu kita. �� ��So mak Parapatiah, itu lah sebab mengapa kemarin saya mengajak ��tuan DD untuk main monopoli tapi tampaknya beliau "ngeper" tuh. ��Buktinya sampai sekarang diam saja. [dm] DD tamapakno takantuak kantuak, jadinyo agak balain
angguak jo ilalah. Awak tunggulah,
nanti inyo maunjuakkan tariangnyo tu, kok lai
batariang juo. �� ��Wassalam, �� ��Si Padang alias si PAnDAi dagaNG ��(sebutan kehormatan yang saya dapat akibat rajin berkunjung ke ��Surau lho, Mak).[dm] semoga jadi orang cerdas
secara financial [dm]
Evi = Excellence in Vinancial. �� *************** |
- Fw: [RantauNet.Com] Main monopoli yuk! Darul Makmur
- Fw: [RantauNet.Com] Main monopoli yuk! Andria Agusta

