|
Tanyo ciek DD, iko samo jo monopoli apo indak? SBN Konsistensi
Manajer Investasi dan Irasionalitas Investor
DENGAN semakin maraknya Reksa Dana, manajer investasi dan pengelolaan portofolio semakin dikenal secara luas di masyarakat. Dalam pembentukan portofolio, dikenal dua strategi, yakni strategi aktif dan pasif. Strategi pasif tidak memerlukan analisis perusahaan (emiten) secara detail dan tidak memperhatikan pesaing lain. Adapun, strategi aktif sangat memperhatikan situasi pesaing, market timing, dan prediksi. Strategi aktif merupakan strategi portofolio yang banyak diterapkan manajer investasi untuk memilih portofolio. Dengan kata lain, strategi aktif digunakan manajer investasi untuk meningkatkan pengembalian portofolio dengan menggunakan informasi yang lengkap (superior information). Strategi aktif sangat cocok digunakan dalam pengelolaan portofolio pada bursa-bursa yang sedang berkembang, seperti di Bursa Efek Jakarta (BEJ). Strategi aktif mempunyai satu tahapan penting, yaitu pemilihan saham dalam portofolio. Saham yang dipilih dapat berupa saham bertumbuh (growth stocks), saham bernilai (value stocks), saham spekulasi (speculative stocks), sahan bertahan (defensive stocks), dan saham siklikal (cyclical stocks) sesuai dengan karateristik investor dalam mencapai tujuan investasinya. Pengelolaan dan pembentukan portofolio merupakan sebuah pekerjaan rumit, karena karakteristik saham yang dipilih dan tujuan investasi harus dicapai sesuai jangka waktu yang ditentukan. Pemilihan saham untuk dimasukkan dalam portofolio merupakan pekerjaan yang rumit pula karena mengandung risiko ketidakpastian dalam memperkirakan pendapatan perusahaan di masa mendatang. Di samping itu, hasil portofolio masih harus ditentukan dengan menggunakan sejumlah tolok ukur untuk memperhitungkan kinerja portofolio yang bersangkutan. Sementara penentuan tolok ukur dapat menjadi pekerjaan yang sangat rumit agar tingkat kinerja, outperform atau underperform, dapat dipahami pengelola dan investor.
***PERAN manajer investasi dalam pembentukan dan pengelolaan portofolio sangat penting. Keberhasilan atau kegagalan dalam menaikkan tingkat pengembalian (return) dan memperkecil tingkat risiko, berada di tangan manajer investasi. Oleh karena itu, pengetahuan tentang manajer investasi ini sangatlah penting untuk diteliti dan dipelajari. Disertasi saya (Konsistensi Pemilihan Saham dalam Pembentukan Portofolio Optimal di BEJ oleh Manajer Investasi Dikaitkan dengan Variabel Rasio Empirik Kinerja Perusahaan) mengemukakan sejumlah aspek yang berkaitan dengan tingkah laku manajer investasi dalam pembentukan dan pengelolaan portofolio untuk diteliti dan dikaji, yaitu pengalaman kerja, sumber dan pemanfaatan informasi, pertimbangan dan konsistensi dalam pemilihan saham. Pengalaman kerja merupakan salah satu ukuran yang sering dipergunakan dalam menilai keandalan seseorang dalam melaksanakan pekerjaannya. Dari data yang diperoleh, manajer investasi mempunyai pengalaman kerja di bidang pasar modal selama tujuh tahun. Rata-rata masa kerja manajer investasi adalah 9,3 tahun. Kecuali 6,25 persen yang hanya mempunyai pengalaman kerja selama empat tahun atau kurang, para manajer investasi ini pada umumnya sudah berperan serta dalam mengelola portofolio selama lebih dari lima tahun. Rata-rata pengalaman manajer investasi dalam pengelolaan portofolio adalah 4,2 tahun. Dari segi pengalaman, pekerjaan sebelum mengelola portofolio bermacam-macam pula. Ada yang sebagai analis di perusahaan broker, bankir, analis, dealer, corporate finance. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa manajer investasi mempunyai pengalaman kerja yang panjang dan menjadi analis sebelum menjadi manajer investasi. Aspek lain dalam pengelolaan portofolio, khususnya dalam menentukan dan memilih transaksi saham untuk dimasukkan dalam portofolio, adalah sumber dan jumlah informasi yang diterima manajer investasi. Dari survei ditemukan, manajer investasi mendapatkan informasi dari emiten, hasil analisa sendiri dan analisa broker. Kecenderungannya, manajer informasi menggunakan informasi yang telah dianalisis dan diolah dalam mengambil keputusan. Jumlah saham yang dimasukkan portofolio, berhubungan erat dengan tingkat risiko dalam mengelola portofolio tersebut. Evan dan Archer (1965) menyebutkan bahwa sembilan saham merupakan jumlah yang dapat membuat risiko portofolio mengalami penurunan yang tajam, sedangkan Manurung (1995) yang melakukan penelitian di Indonesia, menyimpulkan bahwa 30 saham merupakan jumlah saham yang maksimum dalam sebuah portofolio. Bila jumlah ditambah, pengurangan risiko tidak berarti. Dari survei ditemukan bahwa manajer investasi pada umumnya memasukkan 20 saham dalam portofolio yang dikelola meski ada juga yang 15 saham. Namun, pada dasarnya pengelola investasi memahami besaran jumlah saham yang dikelola dalam sebuah portofolio. Dari segi masa pemilihan, 37,5 persen manajer investasi memegang saham selama enam bulan, bahkan ada, namun kecil, yang memegang saham sampai 15 bulan. Dalam memilih saham (baik tipe maupun emitennya), manajer investasi mempunyai pertimbangannya sendiri, dan melalui sejumlah tahapan sebelum menentukan pilihan sahamnya.
***Markowitz (1952) menyebutkan bahwa risiko dan tingkat pengembalian saham merupakan faktor penting dalam pemilihan saham. Dalam studi yang dilakukan (Manurung 2002) untuk kasus Indonesia, beberapa variabel yang dimiliki saham dikenal dengan variabel rasio keuangan, dimasukkan untuk menentukan suatu saham masuk dalam portofolio. Variabel rasio keuangan yang diuji dengan variabel dikotomi masuknya saham dalam portofolio adalah aset, debt to equity ratio (DER), dividen yield, kapitalisasi pasar, likuiditas saham, price to book value (PBV), price earning ratio (PER), jumlah pemegang saham, tingkat pengembalian saham, return on equity (ROE), return on invested capital (ROIC), dan volatilitas. Hasil yang diperoleh dengan menggunakan regresi logistik adalah variabel aset, DER, likuiditas, kapitalisasi pasar, PBV, PER, dan volatilitas berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dikotomi pemilihan saham. Konsistensi pengelola portofolio dalam pemilihan saham dipengaruhi latar belakang pengelola dan situasi pasar, serta informasi yang diperoleh para pengelola yang bersangkutan. Ternyata, hanya 37,5 persen yang dianggap konsisten untuk memilih saham dalam dua tahap dengan menggunakan Analytic Hierarchy Process (AHP). Pertanyaannya, apakah manajer investasi yang konsisten ini dapat berhasil memberikan tingkat pengembalian yang baik bagi investor? Hasil yang diperoleh bahwa manajer investasi umumnya (62,5 persen) tidak konsisten dalam pemilihan saham sehingga manajer investasi tersebut menggunakan strategi acak untuk memenuhi tingkat pengembalian protofolio yang diinginkan investor. Manajer investasi tersebut mempunyai skala prioritas dalam memilih saham, di mana saham bertumbuh (growth stocks) sebagai prioritas utama dan saham bernilai (value stocks) sebagai prioritas kedua. Dalam hubungannya dengan variabel yang dimiliki saham bersangkutan, variabel kualitas manajemen merupakan prioritas utama dan profitabilitas sebagai prioritas kedua dalam pemilihan saham. Latar belakang manajer investasi yang selalu bergelut menganalisis saham-saham untuk dimasukkan dalam portofolio, diuji juga persepsinya terhadap rasio keuangan perusahaan yang dimiliki perusahaan. Hasil yang diperoleh yaitu tidak adanya hubungan antara latar belakang manajer investasi dengan persepsinya pada rasio keuangan perusahaan tersebut. Dalam pilar investasi ada tiga aspek penting yang selalu dibahas, yaitu konsistensi para manajer investasi dalam strategi investasinya, pasar yang efisien sehingga investor tidak dapat memperoleh tingkat pengembalian yang abnormal, dan rasionalitas dari investasi. Mengenai pasar yang efisien, telah diteliti para peneliti sebelumnya yang menyimpulkan bahwa BEJ tidak efisien (Husnan, 1991 dan 1992; Manurung, 1996a, 1997d; Hermanto, 1998; dan Jasmina, 1999). Tidak efisiennya bursa tersebut menunjukkan bahwa investor akan dapat menghasilkan tingkat pengembalian abnormal di BEJ. Berkaitan dengan faktor penyebab ketidakefisienan bursa ini, saya ingin menambahkan satu asumsi yang berkaitan dengan kepemilikan saham perusahaan. BEJ masih belum merupakan pasar yang efisien karena sebagian pemegang saham mayoritas perusahaan tercatat masih terdiri dari anggota satu keluarga tertentu. Dengan demikian, manajemen perusahaan yang bersangkutan masih didominasi anggota keluarga pemilik saham mayoritas sehingga informasi perusahaan akan lebih dahulu diketahui anggota keluarga dan keuntungan yang diperoleh keluarga dapat melebihi keuntungan pemegang/pemilik saham lainnya.
***ASPEK tidak konsistennya para manajer investasi telah diuraikan sebelumnya. Sementara rasionalitas investor belum dilakukan pengujian. Daniel Kahneman yang memperoleh Nobel Ekonomi tahun 2002 dengan "Teori Prospeknya" juga mempertanyakan rasionalitas investor. Hal ini juga menjadi pertanyaan pada investor di Indonesia karena banyak yang tidak rasional dalam berinvestasi. Hal ini dapat dilihat kejadian yang belakangan ini, misalnya investasi pada PT Qurnia Subur Alam Raya (QSAR). Ketika berbagai pihak menceritakan keuntungan sesaat yang diperoleh kepada pihak lain, maka pihak lain tersebut berlomba-lomba mengikuti investasi pada QSAR, tanpa memandang risiko yang dihadapi maupun risiko yang dapat ditolerir investor yang bersangkutan. Oleh karena itu, para peneliti selanjutnya perlu menguji mengenai rasionalitas investor tersebut karena sampai saat ini belum ada yang mengungkapkan ketidak rasionalnya investor. Dalam transaksi saham juga terjadi demikian, para investor berlomba memburu saham sampai harganya melambung walaupun para investor mengetahui harga intrinsiknya tidak senilai harga yang diburu. Akibatnya, harga saham menjadi buble sehingga ketika saham tersebut jatuh tajam karena dipermainkan oleh pihak yang mengetahuinya, investor memarahi berbagai pihak. Oleh karena itu, para peneliti selanjutnya perlu menguji ketidak rasionalitasnya para investor atau fakor lain yang membuat investor tersebut tidak rasional. ADLER HAYMANS MANURUNG Direktur PT Nikko Securities Indonesia
|
- RE: [RantauNet.Com] Main monopoli yuk! Darul Makmur
- Fw: [RantauNet.Com] Main monopoli yuk! Andria Agusta
- Re: [RantauNet.Com] Main monopoli yuk! RD
- Basri Hasan

