Setelah MW menerima investigator dari luar, para jendral dalang islam
radikal nampaknya mulai rekalkulasi dan satu satu membubarkan diri.
Organisasi bisa mulus bubar? kelihatan benar soldadunya. Sayanygnay banyak
ummat islam ketipu oleh kemasan
Salam

SBN

SUARA PEMBARUAN DAILY
----------------------------------------------------------------------------
----
Pembubaran Laskar dan Satgas Keinginan Masyarakat
JAKARTA - Pembubaran kelompok para militer seperti yang sudah dilakukan
Front Pembela Islam (FPI) dan Laskar Jihad (LJ) sudah menjadi keinginan
masyarakat. Sebab, masyarakat sudah muak melihat tindakan anarkis yang
mereka lakukan selama ini. Kini masyarakat menanti pembubaran laskar dan
satgas lainnya.

"Saya kira pembubaran laskar-laskar itu bukan skenario Barat, tetapi
kebutuhan masyarakat kita sendiri. TNI, Polisi dan dunia luar sudah gerah
melihat kiprah mereka. Sudah saatnya untuk tidak mengelus-elus mereka lagi,"
kata pakar kriminologi dari Universitas Indonesia Adrianus Meliala Kamis
(7/11) di Jakarta. Dia dimintai komentar berkaitan pembekuan FPI pimpinan
Habib Rizieq Shihab, Rabu (6/11).

Menurut dia, baik FPI maupun LJ diidentikkan dengan pimpinannya
masing-masing. FPI diidentikkan dengan Habib Rizieq Shihab dan LJ
diidentikkan dengan Ja'far Umar Thalib. Akibatnya, ketika pimpinan kedua
organisasi itu diadili, para anggotanya kehilangan semangat, hingga
mengambil keputusan untuk membubarkan diri.

Padahal kalau organisasi-organisasi keagamaan itu memiliki sistem yang kuat
dan rapi serta tidak bergantung pada figur pemimpin, kendati sang pemimpin
memiliki kharisma yang tinggi, begitu ketuanya dijadikan tersangka,
organisasinya tidak harus dibubarkan.

Dia melihat, pembubaran kelompok para militer itu tentu saja mempunyai
hitungan-hitungan tersendiri. Apalagi, sudah ada elite politik yang mau
memanfaatkan tokoh-tokoh organisasi radikal itu untuk kepentingan politik
2004. "Kelompok-kelompok seperti itu kan (LJ dan FPI) seperti menyalip di
tikungan," ujarnya.

Sementara ketika ditanya soal kelompok para militer di partai politik
(Parpol) yang disebut satuan tugas (satgas) Parpol, Adrianus mengatakan,
karekteristik satgas dengan laskar-laskar yang berasaskan keagamaan sangat
berbeda. Satgas-satgas, baru muncul ke permukaan saat kampanye Parpol.
Kalaupun mereka beraksi keras, tindakan mereka tidak sekeras dan sekasar LJ
dan FPI. "Kalau belum kampanye, seolah-olah kelompok seperti itu tidak ada,"
imbuhnya.

Kendatipun demikian, hal itu tidak bisa dijadikan alasan maaf bagi aparat
keamanan untuk tidak menindak tegas Satgas Parpol yang melakukan tidak
kejahatan. Masalahnya, Polisi juga masih hitung-hitung dan hati-hati.

Dia mengakui, hingga saat ini belum ada ketentuan pemerintah yang mengatur
keberadaan kelompok para militer seperti itu. "Sejauh mereka tidak
petantang-petenteng membawa senjata ke mana-mana ya dibiarkan saja. Tetapi
ketika mereka sudah melakukan tidak kejahatan, aparat harus berani menindak
tegas mereka," ujarnya.

DPP FPI (Front Pembela Islam), Rabu (6/11) siang, secara resmi membekukan
keberadaan FPI di Indonesia sampai batas waktu yang belum bisa ditentukan.

Pejabat sementara Ketua Umum DPP FPI, Habib Muhsin Ahmad Alatas, di Jakarta,
Rabu (6/11), mengatakan pembekuan itu dilakukan sebagai langkah instrospeksi
ke dalam karena di tubuh laskar FPI diduga telah terjadi penyusupan sejumlah
oknum yang jika dibiarkan akan menyebabkan pembusukan dalam tubuh
organisasi.

"Ini sifatnya hanya pembekuan, jadi mungkin saja suatu saat diaktifkan
kembali. Mungkin memerlukan waktu beberapa bulan,'' ujar Habib Muhsin.

Proses pembusukan yang dimaksud, ujar Habib Muhsin, karena melihat sejumlah
kejadian dimana terdapat beberapa oknum anggota saat penggerebekan melakukan
tindakan-tindakan diluar perintah komandan lapangan. "Oknum itu juga anti
negosiasi,'' ujar Habib Muhsin yang mengaku jumlah oknum itu hanya sedikit.

Hingga Kamis (7/11) pagi ini, Markas Besar Front Pembela Islam (FPI) di
Jalan Petamburan III No 17 Tanah Abang Jakarta Pusat masih dipenuhi beberapa
anggotanya. Mereka yang berada di dalam markas terlihat beristirahat dan
beberapa orang lainnya tampak duduk-duduk di depan markas.

Di dalam markas FPI yang berbentuk rumah ini terdapat seorang yang bertugas
sebagai penerima tamu, namun, baik pejabat sementara FPI maupun beberapa
anggota lainnya tidak terlihat di dalam markas tersebut.

Di depan markas FPI terbentang spanduk berwarna hitam bertuliskan Bebaskan
Ba'asyir dan Rizieq, Tolak Perpu Anti Teroris = Subversi = Anti Demokrasi
Tolak Intervensi Asing, Kami Bangsa Yang Berdaulat.

Menurut Habib Muchsin yang dihubungi di rumahnya, mengatakan, kegiatan FPI
saat ini hanyalah kegiatan kerohanian seperti dakwah, pengajian, dzikir dan
pengajaran lainnya yang dilakukan oleh ustadz.

"Saat ini, para santri kembali ke simpul-simpulnya dan melakukan pengajian.
Dakwah tetap kita jalankan," kata Habib. Sedangkan pemantauan tempat hiburan
tetap dilakukan oleh DPP FPI. Namun, karena kegiatan FPI sudah dibekukan
mereka tidak akan melakukan sweeping terhadap tempat-tempat hiburan itu.

Untuk saat ini, ujarnya, pembenahan intern terhadap FPI akan dilakukan
hingga waktu sekitar 3 bulan ke depan. Dalam pembenahan ini mereka juga akan
mencari laskar yang tetap konsisten dengan tujuan FPI.

Menurut dia, dalam beberapa bulan terakhir ada sinyal yang menunjukkan
beberapa anggota tidak konsisten dan membangkang perintah dari komando FPI,
mereka itu sudah diidentifikasi oleh para pemimpin FPI.

"Untuk yang tidak konsisten dengan FPI akan dilakukan pemecatan, dan bila
pendaftaran dibuka untuk FPI mereka tidak akan diterima dalam laskar
tersebut," katanya.


----- Original Message -----
From: "Nofendri T. Lare" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Thursday, November 07, 2002 9:36 AM
Subject: Re: [RantauNet.Com] Fw: Mujahidin Chechen, Bukan Terrorist, bukan
syahid


> Sanak Budi,
>
> Kalau secaro terus terang angku SBN yo alun pernah mandukuang penguasa2
nan
> ambo sabuiktuh, tapi siapun disiko tau.... bahwa Angku SBN tuh slalu
> meng-amini cara2 yang
> dilakukan Barat dan antek2nya terhadap yang namanya ISLAM.
>
> ----- Original Message -----
> From: "Budi Kurniawan" <[EMAIL PROTECTED]>
> To: <[EMAIL PROTECTED]>
> Sent: Wednesday, November 06, 2002 7:47 PM
> Subject: Re: [RantauNet.Com] Fw: Mujahidin Chechen, Bukan Terrorist, bukan
> syahid
>
>
> > Sanak Nofendri,
> >
> > Bilo kito liek postingan dari Mamak SBN, beliau iko indak pernah
> mandukuang
> > nan namonyo penguasa nan sanak sabuikkan iko doh...
> > Menentang atau mendukung sesuatu bukan berarti secara otomatis menentang
> > atau mendukung satu yg lainnya toh?
> --------cut-------------
>
>
> RantauNet http://www.rantaunet.com
> Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
> ===============================================
> Tanpa mengembalikan KETERANGAN PENDAFTAR ketika subscribe,
> anda tidak dapat posting ke Palanta RantauNet ini.
>
> Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di:
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3
> ===============================================
>


RantauNet http://www.rantaunet.com
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
===============================================
Tanpa mengembalikan KETERANGAN PENDAFTAR ketika subscribe,
anda tidak dapat posting ke Palanta RantauNet ini.

Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di: 
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3
===============================================

Kirim email ke