Sanak Nofendri ybk,

Saya bisa memahami gejolak darah muda sanak...tapi menjadi muda tidak
membuat kita tidak bisa arif dan bijaksana khan?

Cobalah sanak lihat kenyataannya yg ada sekarang ini...apakah jalan atau
pilihan kekerasan dan teror ini membuat keadaan lebih baik? Apakah pilihan
utk menyandera rakyat sipil membuat rakyat Chechnya utk memperoleh
kedaulatan dan kemerdekaanya semakin mudah ataukah justru semakin
menyudutkan dan mempersulit upaya ini? Apakah sweeping yg dilakukan oleh
laskar FPI membuat Jakarta lebih bersih dari maksiat? Apakah aksi
penyerangan gedung WTC  membuat Islam semakin berjaya ataukah justru membuat
Islam yg dulunya merupakan the most fastest growing religion in America
menjadi babak belur...membuat jaringan ekonomi Islam yg mencapai nilai asset
puluhan miliar dollar guna mendukung upaya dakwah dan sosial menjadi hancur
lebur?...membuat mahasiswa muslim yg sangat briliant otaknya terancam tdk
bisa menyelesaikan studi mereka di universitas2 ternama di AS spt MIT,
Harvard, Princeton dll karena lembaga keuangan Islam yg dulunya memberikan
beasiswa dan dukungan finansial kepada mereka ditutup operasinya?

Sanak bilang, "tapi khan mereka ini memfitnah dan menzalimi kita, masak sih
kita diam saja?!" So what, apakah kita akan balek memfitnah dan menzalimi
mereka ini? Lalu apa bedanya dong antara kita dengan mereka yg menghalalkan
segala cara utk mencapai tujuan? Bukankah kita ini adalah ummat yg rahmatan
lil alamin, ummat yg membawa kedamaian dan ketentraman dimuka bumi ini?
Bukankah dulunya Rasulullah adalah orang pertama yg menjenguk orang sakit yg
dulunya mencaci maki dan melempari beliau dg kotoran?

Seperti pengalaman sanak diatas bus...dg menghardik orang yg menginjak kaki
sanak, barangkali masalah 'keterpijakan' kaki sana bisa selesai (atau bisa
juga jadi berbuntut panjang karena si penginjak merasa tidak enak dan balas
menghardik karena dia menginjak secara tidak sengaja)...namun baik sanak dan
si penginjak tentulah masih menyimpan rasa mangkel/jengkel...Kalaulah sanak
bilang "Ma'af pak/mas/uda kaki anda menginjak kaki saya", pastilah buntutnya
itu positif, si penginjak akan menangkat kakinya dan meminta ma'af...mungkin
akan saling berkenalan, membangun persahabatan baru...eeeh siapa tahu juga
si penginjak ini ternyata punya anak/saudara/kemenakan nan kamek dan elok
laku dan dijodohkan sama sanak, khan lumayan tuh.....hahaha....

Soal bagaimana bentuk perjuangan keras ini....banyak sekali jalannya sanak!
Tapi rasanya akan sulit sekali saya paparkan disini kepada sanak kalau hati
dan pikiran sanak masih diselimuti dg "BALAS...GANYANG...HANTAM...DARAM...LU
JUAL, GUE BELI" dan memandang tiada jalan damai dan sejuk yg bisa
ditempuh.... ;-) Kalau sanak sudah bisa terima adanya jalan damai dan sejuk
ini, diskusinya kita lanjutkan kembali...
Okey...saya mau berangkat ke kampus dulu, ada tugas paper yg musti
diserahkan...
Banyak ma'af atas kekurangan dan kekhilafan...

Wassalam,
BUDI


----- Original Message -----
From: "Nofendri T. Lare" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Thursday, November 07, 2002 2:00 AM
Subject: [RantauNet.Com] Kekerasan dan Cara anak Muda


> Sanak Budi,
>
> Berbeda pandangan dalam menilai Kekerasan, Teroris, deelel ini wajar dan
> bolehkan??
> Dalam menilai hal-hal yang saya maksud diatas, terus terang saya juga
nggak
> suka kekerasan, tapi juga nggak bisa dengan cara yang sanak budi
kemukakan.
> mungkin kalau umur panjang, saya bisa terima pemikiran dan cara demikian
itu
> pada usia 50-an nanti. Tapi kalau dalam usia saya yang masih 20-an ini
saya
> belum bisa terima.
>
> Istilah orang sekarang, LU JUAL GUE BELI. Kata-kata semacam ini masih
> menyatu dalam darah saya saat ini, kalau nggak bisa dengan cara yang
lunak,
> saya akan mencoba carra yang keras... dan itu nggak ada yang
larangkan?????
> karena itu hak saya.
> Sanak budi, saya masih ingat yang terjadi pada diri saya dan kebanyakan
> anak2 muda minang yang merantau.
> Dalam suatu bis kota yang padat, seorang penumpang ter-injak kakinya oleh
> orang lain, lalu orang yang terinjak bilang : Sambil senyum, ma'af mas,
kaki
> saya keinjak.
> Lain halnya terjadi pada anak muda minang (karena saya memang masih merasa
> muda, dan masih suka nongkrong dan keluyuran, dan alhamdulillah saya tidak
> terlibat untuk mengikuti hal-hal yang merusak) kalau dia ter-injak seperti
> itu maka ia akan bilang, Hei...... kau nggak lihat!! ini kaki namanya,
> (sambil nangkis kaki yang menginjak).
>
> Sanak Budi,
> Seperti kata sanak, kita semua harus berjuang dan berusaha keras untuk
> menegakkan kebenaran dan keadilan, tapi.... bagai mana caranya???? tolong
> kasih jalan yang baik.
> Apakah kita akan selalu diam dengan damai, sementara orang-orang
men-zalimi
> kita??
> Asal sanak tau, kekerasan timbul karena penguasa menggunakan kekerasan itu
> sendiri, Teroris lahir karena Teror nyata dari yang takut tersaingi.
> Tapi masalah kekerasan dan teror yang timbul akhir-akhir ini, adalah ulah
> penguasa-penguasa itu sendiri. Apakah selalu akan kita amini..... dan kita
> dukung????...
> Wallahualam,
>
>
>
> Ma'af..
> Saya beropini berdasarkan kata hati saya..... bolehkan?????
> Tidak ada referensi sama sekali.

RantauNet http://www.rantaunet.com
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
===============================================
Tanpa mengembalikan KETERANGAN PENDAFTAR ketika subscribe,
anda tidak dapat posting ke Palanta RantauNet ini.

Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di: 
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3
===============================================

Kirim email ke