Cocok bana tuh mah di ambo sanak Hendra... Wassalam, BUDI
----- Original Message ----- From: <[EMAIL PROTECTED]> To: <[EMAIL PROTECTED]> Sent: Wednesday, November 20, 2002 7:52 PM Subject: Re: [RantauNet.Com] Adat Basandi Syarak > > sebagai tambahan sajo , ttg syarak ( syariat ) > > kebetulan tadi malam , ambo ikuik babuko puaso basamo yo kawan kawan , dan > mandangakan ceramah dari bang Imad ( Imadudin Abdurahiim ) , bang Imad > menjelaskan bahwa orang sering salah memahami makna syariat dan cenderung > mengarahkan nya pada makna yg sempit , sehingga timbul lah pandangan yg > negatif. > > dari sekitar 6000 ayat di Al Qur'an menurut beliau , hanya sekitar 200 yg > berkaitan dg hukum , yg lain berkaitan dg sejarah, kenyataan alam dll . > Nah syariat Islam itu tak hanya masalah hukum yg hanya sekitar 200 ayat itu > , tapi mencakup keseluruhan ayat Al Qur'an , dalam hal ini lah orang sering > salah mengartikan. > > Ketika nabi pertama kali disuruh membaca ( surat Iqra ) , tak ada tulisan > apa pun ,terus apa pula yg akan di baca ? > nabi di suruh membaca alam, kehidupan dunia , itu lah semua ayat Allah. > Yang kalau dalam konstelasi budaya minang dikenal sebagai istilah " Alam > terkembang jadi guru" , alam nan terkembang itu lah ayat Allah , seluas itu > pula yg namanya Syariat itu . > > Bisa jadi rang gaek awak dulu , mengembangkan konsep "Adat Basandi Syarak" > itu , bahubuangan pulo yo konsep > " Alam takambang jadi guru" . > > Bang Imad berkata bahwa hal tsb ( ayat Allah yg luas ) akan lebih mudah > dipahami oleh orang yg punya latar belakang ilmu eksakta, sistematic & > creative thinking, karena logika nya bisa berputar dg terstruktur. > > Kalau dipahami oleh orang yg hanya berdasar nalar/hapalan belaka ( > sebagaimana banyak kita terima dari guru kita atau dari lulusan IAIN > misalnya ) , maka makna syariat akan menjadi cenderung sempit sehingga bisa > menimbulkan kesalah pahaman pada mereka yg hati nya tak mendapat cahaya > Allah. > > Bang Imad menambahkan pula ceritanya ,ketika sempat bertemu dg bung Hatta. > > Bung Hatta berkata bahwa bagi nya Islam itu adalah bagaikan gula atau garam > yg dimasukkan ke dalam air yg jernih , warna air tak berubah , tapi terasa > rasa nya. Bukan lah gincu (zat pewarna ) yg dimasukkan ke dalam air bening > tersebut , warna air memang berubah , tapi tak ada perubahan pada rasanya . > Yang penting adalah Esensi / substansial , bukan kulit /simbolik. > > sakian mungkin tambahan dari ambo , mohon maaf kalau kurang berkenan > > wassalam > > Hendra Messa > Pulau Gaduang RantauNet http://www.rantaunet.com Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3 =============================================== Tanpa mengembalikan KETERANGAN PENDAFTAR ketika subscribe, anda tidak dapat posting ke Palanta RantauNet ini. Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di: http://www.rantaunet.com/subscribe.php3 ===============================================

