-----Original Message-----
From:
[EMAIL PROTECTED] To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: Re: [RantauNet.Com] Adat Basandi Syarak

sebagai tambahan sajo , ttg syarak ( syariat )

kebetulan tadi malam , ambo ikuik babuko puaso basamo yo kawan kawan , dan
mandangakan ceramah dari bang Imad ( Imadudin Abdurahiim ) , bang Imad
menjelaskan bahwa orang sering salah memahami makna syariat dan cenderung
mengarahkan nya pada makna yg sempit , sehingga timbul lah pandangan yg
negatif. dari sekitar 6000 ayat di Al Qur'an menurut beliau , hanya sekitar
200 yg berkaitan dg hukum , yg lain berkaitan dg sejarah, kenyataan alam dll
. Nah syariat Islam itu tak hanya masalah hukum yg hanya sekitar 200 ayat
itu , tapi mencakup keseluruhan ayat Al Qur'an , dalam hal ini lah orang
sering salah mengartikan. Ketika nabi pertama kali disuruh membaca ( surat
Iqra ) , tak ada tulisan apa pun ,terus apa pula yg akan di baca ?
nabi di suruh membaca alam, kehidupan dunia , itu lah semua ayat Allah. Yang
kalau dalam konstelasi budaya minang dikenal sebagai istilah " Alam
terkembang jadi guru" , alam nan terkembang itu lah ayat Allah , seluas itu
pula yg namanya Syariat itu .

Bisa jadi rang gaek awak dulu , mengembangkan konsep "Adat Basandi Syarak"
itu , bahubuangan pulo yo konsep " Alam takambang jadi guru" . Bang Imad
berkata bahwa hal tsb ( ayat Allah yg luas ) akan lebih mudah dipahami oleh
orang yg punya latar belakang ilmu eksakta, sistematic & creative thinking,
karena logika nya bisa berputar dg terstruktur. Kalau dipahami oleh orang yg
hanya berdasar nalar/hapalan belaka (sebagaimana banyak kita terima dari
guru kita atau dari lulusan IAIN misalnya ) , maka makna syariat akan
menjadi cenderung sempit sehingga bisa menimbulkan kesalah pahaman pada
mereka yg hati nya tak mendapat cahaya Allah. Bang Imad menambahkan pula
ceritanya ,ketika sempat bertemu dg bung Hatta.

Bung Hatta berkata bahwa bagi nya Islam itu adalah bagaikan gula atau garam
yg dimasukkan ke dalam air yg jernih , warna air tak berubah , tapi terasa
rasa nya. Bukan lah gincu (zat pewarna ) yg dimasukkan ke dalam air bening
tersebut , warna air memang berubah , tapi tak ada perubahan pada rasanya .
Yang penting adalah Esensi / substansial , bukan kulit /simbolik.

sakian mungkin tambahan dari ambo , mohon maaf kalau kurang berkenan

wassalam

Hendra Messa
Pulau Gaduang
---------------------------------------------------------------
Dari Evi From: " -- (*V*) --" <[EMAIL PROTECTED]>

Oh iya ada yang ketinggalan. Rasanya jumlah yang mendambakan agar syariat
islam di tegakan di Indonesia tidak sedikit. Tapi
dari sekian banyak itu saya tidak pernah membaca mereka merumuskan apa yang
di maksud dengan negara syariat islam untuk
negara yang berdiri kokoh di tahun 2002. Kalaupun ada contoh, mereka hanya
mengacu pada negara kota yang didirikan Nabi kurang lebih seribu lima ratus
tahun yang lalu. Jadi, ada warga RN yang mau membuat rumusan2 kecil negara
syariat macam apa yang ada dalam konsep mereka jika itu harus di terapkan
pada kehidupan bernegara dewasa ini? Ima mungkin menyebutnya sebagai Negara
Islam Kontemporer. Kalau ada,  mari kita garab rumus-rumusan tersebut dalam
ajang diskusi RN. Siapa tahu berangkat dari Lapau ini, negara berbasis
syariat islam benar-benar akan lahir di bumi nusantara.Mimpi belum dilarang
to?

--GM--
--------------------------------------------------------------

Assalamualaikum,

Om Arman yang punya semangat berapi-api, apa yang di katakan dinda Yesi itu
sudah betul bahwa syariat Islam itu akan tegak
dengan sendirinya kalau setiap orang Islam mulai dari dirinya sendiri.Mau
menegakan negara atau daerah bersyariat islam tapi
masih tercatat sebagai negara terkorup, pancilok, toleransi terhadap
penderitaan dan kemiskinan orang lain, dan segudang
kelakuan negatif lainnya, ah siapa yang mau percaya. Kalau yang dimaksud
dengan penegakan syariat hanya dengan menyuruh
perempuan menutup kepala, itu mah mainan anak kecil. Permainan anak kecil
emang gampang di kalahkan minoritas yang pandai dan
menggunakan logikanya dengan benar.Jika setiap orang Islam di bumi nusantara
tercinta ini dari sekarang mulai memberi contoh
kecil saja seperti mancilok adalah perbuatan non-islami, saya kira tidak
sulit amat menegakan negara berbasis syariat.

Dan Om Arman mengatakan bahwa sebagai mayoritas 92%  dan sekarang merosot ke
85% (angka2nya dari mana sih?) dan menyuruh
setiap individu Islam wajib bertanya pada sendiri, menurut Om Arman sendiri
apa yang terjadi? Menurut saya, jika peloroton
terjadi karena pindahnya orang Islam pada agama lain, ini terjadi saat
mereka membutuhkan bantuan, saudara2 mereka sendiri
sedang "tidak berada di tempat".
Wassalam,

--GM--
Tidak pakai kerudung tapi tetap merasa alim.
===============================================

SBN
Assalamu'alaikum wr. wb.
Salut dengan sikap "minang" dari sanak yesi, yang telah mencerminkan
kearifan seorang minang. namun begitu akan lebih jelas kalau diteruskan
dengan pengamatan anda seberapa jauh sih erosi yang dialami oleh "adat dan
agama" di minang sekarang ini. saya sependapat dengan banyak konstatasi yang
disampaikan aa gym, namun untuk tataran publik something has to be done,
bagaimana pandangan anda sendiri.
salam

SBN
------------------------------------------------------
-----Original Message-----
From: Yesi Elsandra

saya bukannya tidak suka dengan wacana syariat islam. setelah kran otda
dibuka banyak daerah-daerah yang latah ingin menerapkan syariah islam di
derahnya masing2. padahal kalo kita sigi banyak pejabat pemerintah dan juga
masyarakat yang belum siap alias kagak "ngeh" dengan syariat islam itu
sendiri bagaimana aplikatifnya.
penegakkan syariah islam tidak saja di minangkabau tapi diseluruh bumi ini
adalah suatu cita-cita mendasar yang wajib dimiliki setiap muslim. Apalagi
secara kultural minang kabau merupakan suku yang religius dan telah
dibuktikan oleh representatif tokoh2nya terdahulu seperti buya hamka,
natsir, agus salim dll.
erosi terhadap kereligiusan itu termasuk adat sudah sangat deras dalam
tatanan masayarakat minang kabau. (saya termasuk yang menyaksikan sendiri
dengan mata kepala saya erosi itu, asli saya "terkesima". dalam hati saya
bilang, "mendingan gue deh yang gede di minang kabau tapi kelakuan gue nggak
kayak gitu")
dulu, ibu saya suka bilang gini, "ndak buliah takah itu doh, awak urang
minang"  jarang sekali ibu saya bilang, "ndak buliah takah itu doh, berang
Allah awak beko" sekarang2 ini setelah saya sedikit belajar islam, setelah
pemahaman islam itu tumbuh dan banyak sedikit orang tua terkontaminasi
dengan perubahan itu, ibu saya sekarang sering bilang, "agama awak ndak
mambuliahan takah itu" ha ha...
so, bagi saya, apapun adat kita, apakah minang, sunda, batak, yang penting
itu bukan perda yang dibuat manusia, tapi hukum Allah itu sendiri yang harus
kita aplikasikan pada diri, keluarga, lingkungan kita masing2....
kecek Aa gym mulailah dari diri kita.... setelah itu, syariah islam tidal
lagi sebagai sebuah wacana, it must.....
walahualam
yesi
--------------------------------------------------
Rahima:


--------------------------------------------------
Sanak lain


---------------------------------------------------
Sanak lain


----------------------------------------------------







RantauNet http://www.rantaunet.com
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
===============================================
Tanpa mengembalikan KETERANGAN PENDAFTAR ketika subscribe,
anda tidak dapat posting ke Palanta RantauNet ini.

Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di: 
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3
===============================================

Kirim email ke