Title: Maize
Sumatra Barat
Mendesak, Refungsionalisasi Peran Ninik Mamak

SOLOK, Mimbar � Guna mengatasi krisis budaya dan adat, khususnya menyangkut peran ninik mamak di tengah kaumnya diperlukan refungsionalisasi peran ninik mamak itu sendiri sehingga keberadaannya benar-benar bermanfaat bagi anak kemenakan. Hal itu dikatakan oleh Gusmal Dt. Rajo Lelo, S.E., M.M., Ketua LKAAM Kabupaten Solok yang baru saja terpilih dengan suara mayoritas pada Musyawarah Daerah (Musda) VIII Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) serta Musda V Bundo Kanduang Kabupaten Solok yang digelar Kamis (19/12/2002) lalu.

Kepada Mimbar Minang, Ahad (22/12/2002) Gusmal Dt. Rajo Lelo yang saat ini juga menjabat Kepala Bappeda Kabupaten Solok menyebutkan, organisasi yang dipimpinnya selain akan melakukan konsolidasi sampai ke tingkat kecamatan dan mengintrodusir peningkatan peran KAN, juga akan memprogramkan pelatihan bagi ninik mamak.

Terhadap kepercayaan yang diberikan peserta Musda kepadanya, Gusmal Dt. Rajo Lelo berjanji akan mengemban amanah tersebut dengan mendahulukan asas musyawarah dan kebersamaan. �Tidak yang berat saja yang akan dipikul bersama. Bagi saya, yang ringanpun akan dipikul bersama pula,� ujarnya menegaskan komitmennya untuk mendahulukan musyawarah dan kebersamaan dalam memimpin organisasi tersebut.

Tentang program kerja, Gusmal Dt. Rajo Lelo mengaku akan mengakomodasi semua masukan, terutama berkenaan dengan upaya mengembalikan peran ninik mamak seperti sedia kala. Sehingga jati diri mereka selaku pemimpin informal di tengah kaumnya kembali tercermin dalam setiap kurenah dan perbuatan.

�Tapi saya akui ini adalah tugas berat. Namun jika semua pihak, terutama para ninik mamak mendukung, tentu tak ada yang berat. Semuanya bisa kita lakukan, asal saciok bak ayam, sadancing bak basi,� katanya.

Ninik Ngangak (?)

Sementara itu, sejumlah komentar bermunculan terbukti peran ninik mamak saat ini yang semakin bias dari fungsi hakikinya. Seperti dikatakan Wakil Bupati Solok Elfi Sahlan yang menilai saat indikasinya adalah berkurangnya peran ninik mamak dalam rangka memimpin anak kemenakannya.

�Kemenakan tidak lagi hormat pada mamaknya. Ini terjadi disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain kesenjangan pengetahuan antara mamak dengan kemenakan, gelar pusaka adat diberikan kepada orang yang tidak menetap di kampung halaman, dan status sosial ekonomi ninik mamak itu sendiri,� katanya.

Untuk mengembalikan peran ninik mamak tersebut, menurut Wabup diperlukan upaya semua pihak, terutama LKAAM secara serius sehingga wibawa lembaga ninik mamak dan penghulu kembali seperti sedia kala. �Kita harus mendorong supaya status penghulu kembali tegak seperti semula. Dan kepada para ninik mamak diharapkan mengintrospeksi diri dan kembali ke jati dirinya,� tegas Elfi Sahlan. Pernyataan ini juga disampaikan Wabup saat berbicara di hadapan 300 ratus peserta Musda.

Hal yang sama juga diungkapkan Wakil Ketua DPRD Kabupaten Solok Martius Dt. Nan Basa. Ia di hadapan peserta Musda dengan sarkastis malah menuding ninik mamak sekarang sudah beralih fungsi menjadi �ninik ngangak� (ngangak = bodoh/goblok, red). Selain perannya semakin menipis di tengah masyarakat, perilaku ninik mamak pun tidak lagi mencerminkan sebagai seorang pemimpin.


�Banyak ninik mamak melanggar adat. Perilakunya tidak mencerminkan sebagai seorang penghulu. Bahkan tidak sedikit yang bercelana �hawai� ke luar rumah,� ujar Martius dengan nada tinggi. Tak pelak komentar Martius ini membuat peserta Musda terperangah, tapi tak bisa berbuat apa-apa lantaran (mungkin) dalam hati mereka membenarkan kenyataan itu.
tef




Kirim email ke