On Tuesday, February 11, 2003 9:26 AM: <[EMAIL PROTECTED]> Wrote:

> 
> kapatang awak sempat mahota ringan yo mak Jambek, kecek mak Jambek , nan
> paling mahal dari urang minang adalah harga diri , tak terhitung harga nya.
> Pengorbanan harga diri dan korban perasaan adalah sangat mahal sekali ,
> padahal nabi Ibrahim ( darimana ritual berkorban dimulai ) rela
> mengorbankan miliknya yg berharga , anaknya nan semata wayang.
> 

Well Hendra, kalau rumus diatas adalah betul, jadi mudah memahami mengapa suku Minang 
ini makin nyungsep saja ke tepi jurang. Amboi! Betapa mahalnya harga diri kita, 
terlalu mahal malah sehingga "sayang" untuk di korbankan. Saya tidak mengerti siapa 
pak Jambek yang Hendra maksud, tapi saya berharap kalimat diatas keluar dalam kerangka 
chit-chat pribadi belaka dan bukan sebagai pimpinan sebuah organisasi.Memalukan!! 

Saya ulang kalimat Hendra: "Pengorbanan harga diri dan korban perasaan adalah sangat 
mahal sekali , padahal nabi Ibrahim ( darimana ritual berkorban dimulai ) rela 
mengorbankan miliknya yg berharga , anaknya nan semata wayang." Pengorbanan memang 
mahal Hendra, itu lah sebab mengapa sedikit saja orang yang mampu melakukannya.

--GM--





RantauNet http://www.rantaunet.com
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
==============================================Tanpa mengembalikan KETERANGAN PENDAFTAR 
ketika subscribe,
anda tidak dapat posting ke Palanta RantauNet ini.

Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di: 
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3
==============================================

Kirim email ke