======================================================================
                      Alam Takambang Jadi Guru
======================================================================


http://www.kompas.com/kompas-cetak/0303/18/utama/188981.htm




Pedagang Padang Tak Lagi Datang


GANG Sawo, Desa Cipadu, Kabupaten Tangerang, tampak lengang di siang hari. Seperti layaknya kampung-kampung di tepi kota besar, jalan di desa itu agak rusak. Rumah-rumah letaknya berdekatan. Pagarnya terlihat kusam karena terciprat lumpur akibat hujan seharian. Suasana lengang desa itu menyiratkan tengah dirundung masalah.


"Baru ambil kain ya...," sapa seorang pemuda di belokan Gang Sawo kepada rekannya yang tengah membawa dua karung kain sisa dari sebuah pabrik garmen. Karung itu dinaikkan di bagian belakang sepeda motor yang tampak berjalan terseok-seok karena bebannya cukup berat. Ia tengah membawa kain ke sebuah usaha konveksi rumahan yang banyak terdapat di sepanjang Gang Sawo.

Usaha konveksi di Cipadu jumlahnya mencapai 200 perusahaan. Dari yang hanya bermodal satu mesin jahit hingga yang puluhan mesin jahit bertebaran di tempat itu. Tahun lalu melewati jalan di Gang Sawo masih ramai dengan suara mesin jahit yang keluar dari rumah-rumah penduduk.

Kali ini suara mesin jahit hanya terdengar dari satu-dua rumah. Lebih banyak suasana sepi dan suara canda pemuda yang nongkrong di pinggir gang. Kalau toh ada suara mesin jahit, itu pun terdengar hanya siang hari. Tak banyak lagi terdengar suara putaran mesin pada sore hari.

"Sejak Lebaran usaha konveksi di sini sepi. Apalagi setelah Pasar Tanah Abang terbakar, seperti kami ini sudah terpeleset jatuh terus terkena tangga," kata Haji Jamad, salah seorang pengusaha konveksi di Cipadu.

Jamad menceritakan, permintaan kaus-produk yang dominan dari desa itu-sudah menurun setelah Lebaran tahun lalu. Akibatnya, usahanya mengap-mengap hingga 15 karyawan yang berasal dari berbagai daerah seperti Tasikmalaya dan Cianjur terpaksa pulang kampung.

Ditambah lagi kebakaran Pasar Tanah Abang, para pedagang tak lagi datang ke tempat itu untuk membeli barang. Mereka terpaksa menghentikan permintaan ke pengusaha konveksi di Cipadu.

Padahal Jamad bisa memproduksi hingga lebih dari 150 lusin setiap hari dan memasoknya ke para pedagang yang lebih dikenal sebagai pedagang Padang, karena sebagian besar berasal dari Sumatera Barat.

"Giro tidak lagi bisa dicairkan. Namanya juga musibah, kita tidak bisa paksa mereka untuk bayar. Saya masih menunggu mereka bayar barang saya untuk modal usaha," kata Jamad menyebut dampak kebakaran Pasar Tanah Abang terhadap usaha mereka.

Tagihan dalam bentuk giro yang bisa mencapai Rp 15 juta itu terpaksa belum bisa dicairkan karena para pedagang mengalami kesulitan keuangan setelah Pasar Tanah Abang terbakar. Bukan hanya Jamad, sejumlah pedagang lainnya juga mengalami "macet modal" setelah para pedagang Tanah Abang terpaksa belum bisa membayar kaus yang sudah dibeli. Akibatnya mereka tidak memiliki modal cukup untuk menggerakkan usahanya.

"Orang di sini modalnya kecil jadi begitu barang terjual, uang itu langsung untuk modal lagi. Terus berputar seperti itu. Sekali uang terlambat, sulit membeli kain," kata Kurdi, penduduk setempat yang juga berusaha konveksi.

Bagi pedagang yang menerima order dan langsung dibayar tunai, kesulitan juga menghadang. Tidak ada lagi pedagang-pedagang Tanah Abang yang hilir-mudik di tempat itu untuk mencari kaus. Padahal saat permintaan tinggi, Gang Sawo dan sekitarnya selalu dipenuhi mobil boks yang mengangkut kaus berbagai jenis dan ukuran.

"Sepi, tidak seperti biasanya. Para pedagang Padang tidak tampak," kata Mulya, pemuda asal Serang yang baru tiga bulan mengadu nasib berusaha konveksi di tempat itu. Dengan modal lima mesin jahit, dia juga membuat kaus pesanan, baik dari Tanah Abang maupun dari luar kota.

Masih beruntung bagi Mulya karena pesanan dari luar Jakarta masih mengalir sehingga kelima mesin jahitnya masih bisa beroperasi. Akan tetapi, Mulya tidak bisa memperkirakan kemungkinan yang terjadi pada pekan-pekan ke depan bila para pedagang Tanah Abang tidak lagi datang.

"Nasib belum jelas. Rekanrekan saya juga sudah mengeluh karena uang penjualan barang juga belum cair," ujarnya.

Suasana lengang di Cipadu tampaknya tidak akan berakhir pada pekan-pekan ini. Paling tidak bila Pemda DKI Jakarta segera merealisasikan lokasi pengganti Pasar Tanah Abang dalam sebulan ke depan, maka ribuan mesin jahit di Cipadu baru bisa kembali berputar. Itu pun kalau semuanya lancar.

Tak hanya Jamad, Kurdi, dan Mulya saja yang menunggu nasib. Para tukang jahit yang umumnya berasal dari luar kota juga tengah menanti kelanjutan usaha di Cipadu. Mereka yang terpaksa pulang kampung karena order tak ada belum bisa kembali ke Cipadu, mengadu nasib menjual jasa mereka.

Majikan tempat mereka bekerja yang dulu belum juga memberikan tanda-tanda akan bangkit kembali. Kabarnya permintaan sampai saat ini masih lesu dan itu juga terjadi di berbagai sentra tekstil lainnya yang ada di Jawa.

Akankah pemerintah mendiamkan para pengusaha Cipadu yang selama ini terbukti mampu menggerakkan ekonomi. Mereka tidak pernah merengek minta modal dari bank, dan juga rela jatuh bangun dengan modal mencari sendiri. Bank pun tak pernah peduli.(MAR)


_________________________________________________________________
MSN 8 with e-mail virus protection service: 2 months FREE* http://join.msn.com/?page=features/virus



RantauNet http://www.rantaunet.com Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3 =============================================== Tanpa mengembalikan KETERANGAN PENDAFTAR ketika subscribe, anda tidak dapat posting ke Palanta RantauNet ini.

Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di: 
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3
===============================================

Kirim email ke