Pendatang Itu Jadi Kemenakan Penghulu Nan 20...

Kompas/yurnaldi

GENDANG ditabuh bertalu-talu, dan sesekali ditingkahi bunyi puput serunai
yang mendayu-dayu. Tak lama kemudian, dara-dara rancak berpakaian khas
Minangkabau melenggang-lenggok menyambut tamu. Sungguh menarik. Mereka
membawakan tari gelombang dengan siriah di carano, sebagai sambutan selamat
datang. Gerakannya lemah gemulai, lincah, energik, dan tegas, menyatu dalam
kemeriahan suasana.
Demikian gambaran sekilas sebuah prosesi, awal bulan lalu yang mungkin baru
pertama kalinya terjadi, yakni penerimaan 242 jiwa (70 kepala keluarga)
warga pendatang etnis Jawa, Aceh, Sumatera Selatan, dan Tapanuli-sejak tahun
1994 bermukim di unit pelaksana teknis (UPT) Inderapura sebagai warga
transmigran-menjadi anak kemenakan Penghulu Nan 20.

Dengan singkat kata, mereka diterima secara baik oleh orang Minangkabau dan
kini "dikukuhkan" menjadi anak kemenakan Penghulu Nan 20 di Kanagarian
Inderapura, Pesisir Selatan, Sumatera Barat.

Menurut data, terdapat 10.064 kepala keluarga atau 18.600 jiwa warga
transmigrasi dari berbagai etnis, tersebar di daerah yang mencanangkan
lahirnya sebuah lembaga yang melambangkan Tali Tigo Sapilin, Tungku Tigo
Sajarangan, mulai dari tingkat kabupaten hingga nagari. Di mana seluruh
komponen masyarakat diharapkan mampu memberdayakan diri, sehingga dapat
lebih aktif berperan serta dalam pembangunan daerah Pesisir Selatan.

Ketika di daerah lain ancaman disintegrasi semakin menguat, menyusul
pertikaian antar-etnis-etnis pendatang dengan penduduk asli, bahkan dengan
cara saling bakar, melukai dan saling bunuh, di Ranah Minangkabau terjadi
sebaliknya. Keinginan untuk tetap menyatu-padu, semakin menguat, etnis
pendatang melakukan tabang manumpu, inggok mancakam (terbang menumpu,
hinggap menerkam) pada Penghulu Nan 20 di Kanagarian Inderapura.

Orang Minangkabau ternyata sangat toleran dan terbuka terhadap etnis lain.
Tentunya, sejauh kaum pendatang itu mengamalkan petatah-petitih; di ma bumi
dipijak di sinan langit dijunjuang (di mana bumi dipijak, di situ langit
dijunjung).

Bahkan, ketika terjadi kerusuhan Mei 1998 dan ancaman kerusuhan
pascaperistiwa itu di era reformasi, diam-diam ribuan orang etnis Tionghoa
di Jakarta, Medan, Sumatera Selatan, dan dari daerah lainnya,
"menyelamatkan" diri ke Sumatera Barat. Waktu itu, memang tak ada ekspos
besar-besaran. Pemerintah daerah menyediakan lokasi penampungan sementara
buat mereka, termasuk tempat evakuasi dalam situasi darurat, kalau itu
terjadi.

Ternyata, Sumatera Barat yang dikenal sebagai Ranah Minangkabau ini memang
aman-aman saja, dan hingga sekarang tetap tenang-tenang saja. Tidak ada
gejolak antar-etnis.

Ketika etnis lain aman berada di Sumatera Barat, etnis Minang yang merantau
ke daerah lain pun aman tinggal dan berusaha. Yang terakhir ini telah
berlangsung berabad-abad. Adalah suatu kebanggaan di rantau bukan hanya
sebagai seseorang, tetapi seseorang yang berasal dari Minangkabau.




RantauNet http://www.rantaunet.com
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/daftar.php
-----------------------------------------------

Berhenti menerima RantauNet Mailing List, silahkan ke: 
http://www.rantaunet.com/unsubscribe.php
===============================================

Kirim email ke