Sanak ka sadonyo,
 
Agak taparangah ambo mambaco tulisan iko.  Sangajo indak dikuduang. Saharusnyo, atau sabaiknyo manuruik ambo, kalaupun awak iyo lah labiah canggiah dari urang Singapura, baa ndak berinisiatif untuk manolong Ladan dan Laleh, yang notabene masih sesama umat Islam. Kini inyo alah berpulang ke pangkuan Illahi, baru awak mangaku / maraso indak kalah jo urang sungaipua / singapura.
 
Semua ilmuwan alah mengakui, kalau pemisahan kembar siam di kapalo ko untuk dewasa memang mengandung resiko lebih besar dari memisahkan kembar siam yang masih bayi atau anak anak.
 
Dokter ahli bedah Perancis pun tidak mengeluarkan komentar seperti i komentar dokter Padmo.
 
Kapado sanak Linda,kalau buliah pinta ambo, labiah bijaksana kalau dipahami dulu makna isi artikel ko.
 
Maaf kalau ado nan tasingguang
 
Salam
 
Rangtabiang (40)
Paris 
 
" Gajah dipalupuak mato indak nampak, tungau di subarang lauik jaleh ujuik nyo".

Linda QA <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
 Kembar Ladan dan Laleh Akhirnya Meninggal


 Jakarta, Kompas - Masyarakat dan Pemerintah
 Republik Islam Iran, Selasa (8/7), berduka. Kembar
 siam dempet kepala (craniopagus) asal Iran, Ladan
 dan Laleh Bijani (29), meninggal dunia akibat
 kegagalan operasi pemisahan mereka berdua di Rumah
 Sakit Raffles, Singapura. Pupus sudah "Operasi
 Harapan" yang mendapat dukungan luas dari masyarakat
 dan Pemerintah Iran itu.

 Operasi semacam ini memang amat berisiko
 menewaskan salah satu atau kedua individu kembar
 siam. Kecanggihan peralatan terbukti bukan segalanya
 karena ketelatenan dokter dan pisau bedahnya serta
 kekompakan tim jauh lebih menentukan.

 Ladan dan Laleh mulai menjalani operasi sejak
 hari Minggu pagi dan malam harinya tulang tengkorak
 baru mulai dibuka. Operasi dilanjutkan hari Senin
 dengan pemisahan selaput luar otak dan pembuluh
 darah yang menempel.

 Menurut website RS Raffles, hingga Selasa
 pukul 13.20 waktu Singapura (atau 12.20 WIB),
 operasi bedah saraf telah mencapai tahap lanjut, dan
 pukul 14.15 WIB Ladan meninggal, sementara Laleh
 dalam kondisi kritis. Pukul 17.00 WIB, Laleh
 akhirnya juga meninggal.

 Secara resmi pihak RS Raffles menyatakan kedua
 kembar siam Iran ini meninggal selama proses
 pemisahan. Jadi, Laleh, yang kepala sebelah kanannya
 masih menempel ke sisi kiri kepala saudarinya yang
 sudah meninggal lebih dahulu, oleh operasi selama
 lebih dari 50 jam belum terpisah sama sekali dari
 saudarinya.

 Dari sejarah pemisahan craniopagus di seluruh
 dunia sejak tahun 1920 hingga saat ini, nyaris tak
 ada yang selamat keduanya. Salah satu perkecualian
 langka adalah kembar siam dempet kepala vertikal
 Pristian Yuliana dan Pristian Yuliani (16) yang
 tanggal 21 Oktober 1987 dapat dipisahkan Prof dr
 Padmosantjojo, ahli bedah saraf Rumah Sakit Cipto
 Mangunkusumo/Fakultas Kedokteran Universitas
 Indonesia (RSCM/FKUI) di RSCM Jakarta. Sayangnya,
 justru para dokter Singapura dan tim dokter dari
 mancanegara lainnya tak ada yang menghubungi Prof
 Padmosantjojo.

 Hingga sekarang, teknik memisahkan
 perlengketan vena (pembuluh darah balik) sinus
 sagitalis di selaput luar otak duramater yang
 dilakukan Prof Padmo tak pernah diikuti oleh para
 pakar bedah saraf dunia lainnya karena para dokter
 luar negeri umumnya tidak cukup telaten. Umumnya
 teknik yang dipilih adalah memberikan seluruh
 pembuluh darah yang seolah menyatu itu ke salah satu
 individu kembar siam, lalu pasangannya akan
 dicangkoki pembuluh darah buatan atau yang diambil
 dari kaki, seperti pada operasi by-pass jantung.
 Alternatif kedua inilah yang dilakukan para dokter
 di Singapura.

 "Saya menduga, inilah kesalahan yang dilakukan
 oleh dokter-dokter bedah saraf itu. Walaupun vena
 sinus sagitalis tampaknya menyatu, pada dua individu
 kembar siam sebenarnya tetap ada dinding pemisahnya.
 Tak mungkin dua individu hanya memiliki satu vena di
 duramater otak mereka. Itu seharusnya terlihat dari
 hasil pemotretan dengan cairan kontras khusus untuk
 vena atau yang disebut phlebogram," tutur Padmo,
 semalam.

 Ia menuturkan, operasi pemisahan Yuliana dan
 Yuliani membutuhkan waktu 10 jam, dan yang paling
 lama adalah memisahkan perlengketan duramater otak
 dan sinus sagitalis setebal 2,5 mm tanpa lecet
 sedikitpun. Semua dilakukannya dengan mata
 telanjang. Tingkat risiko dan trauma operasi pada
 bayi seperti Yuliana dan Yuliani sebenarnya lebih
 tinggi dibandingkan dengan kembar siam dewasa
 seperti Ladan dan Laleh, yang pembuluh darahnya juga
 lebih besar diameternya.

 "Saya bersyukur diberi ketelatenan dan daya
 tahan seperti ketelatenan dan daya tahan orang
 membatik atau bersila selama berjam-jam. Mungkin
 para dokter bedah saraf luar negeri tak memiliki
 tradisi telaten seperti itu. Mereka lebih
 menggantungkan diri pada kecanggihan peralatan,"
 kata Padmo.

 Sejarah keberhasilan

 Operasi pemisahan kembar siam Ladan dan Laleh
 di Singapura dipimpin oleh pakar bedah saraf Dr
 Keith Goh dan Prof Walter Tan, Direktur Medik RS
 Raffles. Goh pernah tergabung dalam tim dokter
 Singapura yang mengoperasi bayi kembar siam dempet
 kepala asal Nepal, Ganga dan Jamuna, tahun lalu.
 Salah satu dari mereka ini kemudian meninggal.

 Tim dokter Singapura kali ini dibantu oleh
 para dokter dari Amerika Serikat, Perancis, Jepang,
 dan Swiss. Menurut website RS Raffles, pakar bedah
 saraf AS yang tergabung dalam tim kali ini adalah Dr
 Benjamin Carson (52), Direktur Bedah Saraf Anak
 Fakultas Kedokteran Universitas Johns Hopkins. Bulan
 Juli 1987, Carson berhasil memisahkan pasangan
 craniopagus di Kota Ulm, Jerman. Namun, menurut Prof
 Padmo, kedua bayi itu beberapa bulan kemudian
 meninggal setelah salah satunya mengalami koma
 berkepanjangan.

 "Karena kematian kedua bayi Jerman itu dan
 mendengar keberhasilan pemisahan Yuliana-Yuliani,
 ahli bedah saraf Dr Mario Brock dari Jerman bulan
 Desember 1987 datang ke Jakarta. Ia mengaku tak
 sanggup dan tak cukup telaten melakukan pemisahan
 duramater dan vena yang menempel di selaput otak,
 seperti yang saya lakukan. Karena itu, saya agak
 heran mengapa dokter Iran mengantar Ladan dan Laleh
 datang berkonsultasi ke Jerman tahun 1996, padahal
 dokter di Jerman tak punya kemampuan memisahkan
 craniopagus," tuturnya.

 Masih menurut website RS Raffles, Carson tahun
 1997 menjadi terkenal karena memimpin tim dokter
 Afrika Selatan melakukan pemisahan pertama kali
 kasus craniopagus vertikal. "Ini juga misleading,
 salah. Operasi di Afrika Selatan itu bukanlah kasus
 craniopagus vertikal pertama di dunia. Yuliana dan
 Yuliani juga craniopagus vertikal," katanya.

 Persaingan bisnis

 Menurut Prof Padmo, di tengah persaingan
 bisnis antar rumah sakit di Singapura, RS Raffles
 coba mencari nama. Para dokternya tidak cukup rendah
 hati untuk mau banyak bertanya, termasuk ke
 dokter-dokter di Indonesia yang mungkin mereka
 pandang lebih rendah. Selain itu, para dokter bedah
 saraf Singapura belum bergabung dalam World
 Federation of Neurosurgery.

 Kesalahan para dokter Singapura lainnya adalah
 dalam pemilihan tongkat komando dalam tim operasi.
 "Seharusnya tak perlu dokter bedah saraf yang jadi
 panglima operasi. Waktu saya memisahkan Yuliana dan
 Yuliani, yang jadi panglima adalah Prof Dr Iskandar
 Wahidiyat, dokter spesialis anak."

 Menurut Prof Padmo, ibarat panglima perang,
 pemimpin tim tak perlu langsung terjun melakukan
 tindakan di ruang operasi. Ia cukup melakukan
 kontrol semua aspek, alat, dan logistik.
 Keberhasilan operasi pemisahan penempelan selaput
 dan pembuluh darah otak dewasa ini juga amat
 ditentukan oleh kemajuan teknologi anestesi, bukan
 melulu oleh keahlian dokter bedah saraf.

 Pemotongan, pembendungan, dan penyambungan
 vena di duramater yang dialami Ladan dan Laleh
 mengakibatkan keduanya mengalami peningkatan tekanan
 darah di otak, dan itu terbukti berakibat fatal.
 Akibat perubahan tekanan darah di otak itulah
 keduanya mengalami gangguan dan bahkan kegagalan
 multi-organ.

 Akan halnya kembar Yuliana dan Yuliani,
 keduanya kini baru saja naik ke kelas dua sekolah
 menengah umum (SMU) di Tanjung Pinang, Riau. "Mereka
 masing-masing peringkat lima dan tujuh di kelasnya.
 Insya Allah, saya akan melaporkan hidup mereka di
 Kongres Dunia Bedah Saraf di Maroko, tahun 2005,"
 kata Prof Padmo. (IJ)

 * Ternyata Singapura tidak lebih hebat dari
 Indonesia *

So, nggak perlu minder apalagi takut2x. Mereka nggak lebih pinter dari kite.




Do You Yahoo!? -- Une adresse @yahoo.fr gratuite et en fran�ais !
Testez le nouveau Yahoo! Mail

Kirim email ke