Kembar Ladan dan Laleh Akhirnya Meninggal
Jakarta, Kompas - Masyarakat dan Pemerintah
Republik Islam Iran, Selasa (8/7), berduka. Kembar
siam dempet kepala (craniopagus) asal Iran, Ladan
dan Laleh Bijani (29), meninggal dunia akibat
kegagalan operasi pemisahan mereka berdua di Rumah
Sakit Raffles, Singapura. Pupus sudah "Operasi
Harapan" yang mendapat dukungan luas dari masyarakat
dan Pemerintah Iran itu.
Operasi semacam ini memang amat berisiko
menewaskan salah satu atau kedua individu kembar
siam. Kecanggihan peralatan terbukti bukan segalanya
karena ketelatenan dokter dan pisau bedahnya serta
kekompakan tim jauh lebih menentukan.
Ladan dan Laleh mulai menjalani operasi sejak
hari Minggu pagi dan malam harinya tulang tengkorak
baru mulai dibuka. Operasi dilanjutkan hari Senin
dengan pemisahan selaput luar otak dan pembuluh
darah yang menempel.
Menurut website RS Raffles, hingga Selasa
pukul 13.20 waktu Singapura (atau 12.20 WIB),
operasi bedah saraf telah mencapai tahap lanjut, dan
pukul 14.15 WIB Ladan meninggal, sementara Laleh
dalam kondisi kritis. Pukul 17.00 WIB, Laleh
akhirnya juga meninggal.
Secara resmi pihak RS Raffles menyatakan kedua
kembar siam Iran ini meninggal selama proses
pemisahan. Jadi, Laleh, yang kepala sebelah kanannya
masih menempel ke sisi kiri kepala saudarinya yang
sudah meninggal lebih dahulu, oleh operasi selama
lebih dari 50 jam belum terpisah sama sekali dari
saudarinya.
Dari sejarah pemisahan craniopagus di seluruh
dunia sejak tahun 1920 hingga saat ini, nyaris tak
ada yang selamat keduanya. Salah satu perkecualian
langka adalah kembar siam dempet kepala vertikal
Pristian Yuliana dan Pristian Yuliani (16) yang
tanggal 21 Oktober 1987 dapat dipisahkan Prof dr
Padmosantjojo, ahli bedah saraf Rumah Sakit Cipto
Mangunkusumo/Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia (RSCM/FKUI) di RSCM Jakarta. Sayangnya,
justru para dokter Singapura dan tim dokter dari
mancanegara lainnya tak ada yang menghubungi Prof
Padmosantjojo.
Hingga sekarang, teknik memisahkan
perlengketan vena (pembuluh darah balik) sinus
sagitalis di selaput luar otak duramater yang
dilakukan Prof Padmo tak pernah diikuti oleh para
pakar bedah saraf dunia lainnya karena para dokter
luar negeri umumnya tidak cukup telaten. Umumnya
teknik yang dipilih adalah memberikan seluruh
pembuluh darah yang seolah menyatu itu ke salah satu
individu kembar siam, lalu pasangannya akan
dicangkoki pembuluh darah buatan atau yang diambil
dari kaki, seperti pada operasi by-pass jantung.
Alternatif kedua inilah yang dilakukan para dokter
di Singapura.
"Saya menduga, inilah kesalahan yang dilakukan
oleh dokter-dokter bedah saraf itu. Walaupun vena
sinus sagitalis tampaknya menyatu, pada dua individu
kembar siam sebenarnya tetap ada dinding pemisahnya.
Tak mungkin dua individu hanya memiliki satu vena di
duramater otak mereka. Itu seharusnya terlihat dari
hasil pemotretan dengan cairan kontras khusus untuk
vena atau yang disebut phlebogram," tutur Padmo,
semalam.
Ia menuturkan, operasi pemisahan Yuliana dan
Yuliani membutuhkan waktu 10 jam, dan yang paling
lama adalah memisahkan perlengketan duramater otak
dan sinus sagitalis setebal 2,5 mm tanpa lecet
sedikitpun. Semua dilakukannya dengan mata
telanjang. Tingkat risiko dan trauma operasi pada
bayi seperti Yuliana dan Yuliani sebenarnya lebih
tinggi dibandingkan dengan kembar siam dewasa
seperti Ladan dan Laleh, yang pembuluh darahnya juga
lebih besar diameternya.
"Saya bersyukur diberi ketelatenan dan daya
tahan seperti ketelatenan dan daya tahan orang
membatik atau bersila selama berjam-jam. Mungkin
para dokter bedah saraf luar negeri tak memiliki
tradisi telaten seperti itu. Mereka lebih
menggantungkan diri pada kecanggihan peralatan,"
kata Padmo.
Sejarah keberhasilan
Operasi pemisahan kembar siam Ladan dan Laleh
di Singapura dipimpin oleh pakar bedah saraf Dr
Keith Goh dan Prof Walter Tan, Direktur Medik RS
Raffles. Goh pernah tergabung dalam tim dokter
Singapura yang mengoperasi bayi kembar siam dempet
kepala asal Nepal, Ganga dan Jamuna, tahun lalu.
Salah satu dari mereka ini kemudian meninggal.
Tim dokter Singapura kali ini dibantu oleh
para dokter dari Amerika Serikat, Perancis, Jepang,
dan Swiss. Menurut website RS Raffles, pakar bedah
saraf AS yang tergabung dalam tim kali ini adalah Dr
Benjamin Carson (52), Direktur Bedah Saraf Anak
Fakultas Kedokteran Universitas Johns Hopkins. Bulan
Juli 1987, Carson berhasil memisahkan pasangan
craniopagus di Kota Ulm, Jerman. Namun, menurut Prof
Padmo, kedua bayi itu beberapa bulan kemudian
meninggal setelah salah satunya mengalami koma
berkepanjangan.
"Karena kematian kedua bayi Jerman itu dan
mendengar keberhasilan pemisahan Yuliana-Yuliani,
ahli bedah saraf Dr Mario Brock dari Jerman bulan
Desember 1987 datang ke Jakarta. Ia mengaku tak
sanggup dan tak cukup telaten melakukan pemisahan
duramater dan vena yang menempel di selaput otak,
seperti yang saya lakukan. Karena itu, saya agak
heran mengapa dokter Iran mengantar Ladan dan Laleh
datang berkonsultasi ke Jerman tahun 1996, padahal
dokter di Jerman tak punya kemampuan memisahkan
craniopagus," tuturnya.
Masih menurut website RS Raffles, Carson tahun
1997 menjadi terkenal karena memimpin tim dokter
Afrika Selatan melakukan pemisahan pertama kali
kasus craniopagus vertikal. "Ini juga misleading,
salah. Operasi di Afrika Selatan itu bukanlah kasus
craniopagus vertikal pertama di dunia. Yuliana dan
Yuliani juga craniopagus vertikal," katanya.
Persaingan bisnis
Menurut Prof Padmo, di tengah persaingan
bisnis antar rumah sakit di Singapura, RS Raffles
coba mencari nama. Para dokternya tidak cukup rendah
hati untuk mau banyak bertanya, termasuk ke
dokter-dokter di Indonesia yang mungkin mereka
pandang lebih rendah. Selain itu, para dokter bedah
saraf Singapura belum bergabung dalam World
Federation of Neurosurgery.
Kesalahan para dokter Singapura lainnya adalah
dalam pemilihan tongkat komando dalam tim operasi.
"Seharusnya tak perlu dokter bedah saraf yang jadi
panglima operasi. Waktu saya memisahkan Yuliana dan
Yuliani, yang jadi panglima adalah Prof Dr Iskandar
Wahidiyat, dokter spesialis anak."
Menurut Prof Padmo, ibarat panglima perang,
pemimpin tim tak perlu langsung terjun melakukan
tindakan di ruang operasi. Ia cukup melakukan
kontrol semua aspek, alat, dan logistik.
Keberhasilan operasi pemisahan penempelan selaput
dan pembuluh darah otak dewasa ini juga amat
ditentukan oleh kemajuan teknologi anestesi, bukan
melulu oleh keahlian dokter bedah saraf.
Pemotongan, pembendungan, dan penyambungan
vena di duramater yang dialami Ladan dan Laleh
mengakibatkan keduanya mengalami peningkatan tekanan
darah di otak, dan itu terbukti berakibat fatal.
Akibat perubahan tekanan darah di otak itulah
keduanya mengalami gangguan dan bahkan kegagalan
multi-organ.
Akan halnya kembar Yuliana dan Yuliani,
keduanya kini baru saja naik ke kelas dua sekolah
menengah umum (SMU) di Tanjung Pinang, Riau. "Mereka
masing-masing peringkat lima dan tujuh di kelasnya.
Insya Allah, saya akan melaporkan hidup mereka di
Kongres Dunia Bedah Saraf di Maroko, tahun 2005,"
kata Prof Padmo. (IJ)
* Ternyata Singapura tidak lebih hebat dari
Indonesia *
So, nggak perlu minder
apalagi takut2x. Mereka nggak lebih pinter dari kite.

