Assalamualaikum Linda kalo buliah batanyo ambo dulu pernah raso nyo kenal samo linda , giko selah dulu Lin sikola dima ambo pernah tau namo Linda tamatan Sakma Padang, kalo salah maafin sajao yo Salam Ely
-----Original Message----- From: Linda QA [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: Thursday, July 10, 2003 5:54 PM To: [EMAIL PROTECTED] Subject: [RantauNet.Com] Ternyata Singapore tidak lebih hebat dari Indonesia Kembar Ladan dan Laleh Akhirnya Meninggal Jakarta, Kompas - Masyarakat dan Pemerintah Republik Islam Iran, Selasa (8/7), berduka. Kembar siam dempet kepala (craniopagus) asal Iran, Ladan dan Laleh Bijani (29), meninggal dunia akibat kegagalan operasi pemisahan mereka berdua di Rumah Sakit Raffles, Singapura. Pupus sudah "Operasi Harapan" yang mendapat dukungan luas dari masyarakat dan Pemerintah Iran itu. Operasi semacam ini memang amat berisiko menewaskan salah satu atau kedua individu kembar siam. Kecanggihan peralatan terbukti bukan segalanya karena ketelatenan dokter dan pisau bedahnya serta kekompakan tim jauh lebih menentukan. Ladan dan Laleh mulai menjalani operasi sejak hari Minggu pagi dan malam harinya tulang tengkorak baru mulai dibuka. Operasi dilanjutkan hari Senin dengan pemisahan selaput luar otak dan pembuluh darah yang menempel. Menurut website RS Raffles, hingga Selasa pukul 13.20 waktu Singapura (atau 12.20 WIB), operasi bedah saraf telah mencapai tahap lanjut, dan pukul 14.15 WIB Ladan meninggal, sementara Laleh dalam kondisi kritis. Pukul 17.00 WIB, Laleh akhirnya juga meninggal. Secara resmi pihak RS Raffles menyatakan kedua kembar siam Iran ini meninggal selama proses pemisahan. Jadi, Laleh, yang kepala sebelah kanannya masih menempel ke sisi kiri kepala saudarinya yang sudah meninggal lebih dahulu, oleh operasi selama lebih dari 50 jam belum terpisah sama sekali dari saudarinya. Dari sejarah pemisahan craniopagus di seluruh dunia sejak tahun 1920 hingga saat ini, nyaris tak ada yang selamat keduanya. Salah satu perkecualian langka adalah kembar siam dempet kepala vertikal Pristian Yuliana dan Pristian Yuliani (16) yang tanggal 21 Oktober 1987 dapat dipisahkan Prof dr Padmosantjojo, ahli bedah saraf Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo/Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (RSCM/FKUI) di RSCM Jakarta. Sayangnya, justru para dokter Singapura dan tim dokter dari mancanegara lainnya tak ada yang menghubungi Prof Padmosantjojo. Hingga sekarang, teknik memisahkan perlengketan vena (pembuluh darah balik) sinus sagitalis di selaput luar otak duramater yang dilakukan Prof Padmo tak pernah diikuti oleh para pakar bedah saraf dunia lainnya karena para dokter luar negeri umumnya tidak cukup telaten. Umumnya teknik yang dipilih adalah memberikan seluruh pembuluh darah yang seolah menyatu itu ke salah satu individu kembar siam, lalu pasangannya akan dicangkoki pembuluh darah buatan atau yang diambil dari kaki, seperti pada operasi by-pass jantung. Alternatif kedua inilah yang dilakukan para dokter di Singapura. "Saya menduga, inilah kesalahan yang dilakukan oleh dokter-dokter bedah saraf itu. Walaupun vena sinus sagitalis tampaknya menyatu, pada dua individu kembar siam sebenarnya tetap ada dinding pemisahnya. Tak mungkin dua individu hanya memiliki satu vena di duramater otak mereka. Itu seharusnya terlihat dari hasil pemotretan dengan cairan kontras khusus untuk vena atau yang disebut phlebogram," tutur Padmo, semalam. Ia menuturkan, operasi pemisahan Yuliana dan Yuliani membutuhkan waktu 10 jam, dan yang paling lama adalah memisahkan perlengketan duramater otak dan sinus sagitalis setebal 2,5 mm tanpa lecet sedikitpun. Semua dilakukannya dengan mata telanjang. Tingkat risiko dan trauma operasi pada bayi seperti Yuliana dan Yuliani sebenarnya lebih tinggi dibandingkan dengan kembar siam dewasa seperti Ladan dan Laleh, yang pembuluh darahnya juga lebih besar diameternya. "Saya bersyukur diberi ketelatenan dan daya tahan seperti ketelatenan dan daya tahan orang membatik atau bersila selama berjam-jam. Mungkin para dokter bedah saraf luar negeri tak memiliki tradisi telaten seperti itu. Mereka lebih menggantungkan diri pada kecanggihan peralatan," kata Padmo. Sejarah keberhasilan Operasi pemisahan kembar siam Ladan dan Laleh di Singapura dipimpin oleh pakar bedah saraf Dr Keith Goh dan Prof Walter Tan, Direktur Medik RS Raffles. Goh pernah tergabung dalam tim dokter Singapura yang mengoperasi bayi kembar siam dempet kepala asal Nepal, Ganga dan Jamuna, tahun lalu. Salah satu dari mereka ini kemudian meninggal. Tim dokter Singapura kali ini dibantu oleh para dokter dari Amerika Serikat, Perancis, Jepang, dan Swiss. Menurut website RS Raffles, pakar bedah saraf AS yang tergabung dalam tim kali ini adalah Dr Benjamin Carson (52), Direktur Bedah Saraf Anak Fakultas Kedokteran Universitas Johns Hopkins. Bulan Juli 1987, Carson berhasil memisahkan pasangan craniopagus di Kota Ulm, Jerman. Namun, menurut Prof Padmo, kedua bayi itu beberapa bulan kemudian meninggal setelah salah satunya mengalami koma berkepanjangan. "Karena kematian kedua bayi Jerman itu dan mendengar keberhasilan pemisahan Yuliana-Yuliani, ahli bedah saraf Dr Mario Brock dari Jerman bulan Desember 1987 datang ke Jakarta. Ia mengaku tak sanggup dan tak cukup telaten melakukan pemisahan duramater dan vena yang menempel di selaput otak, seperti yang saya lakukan. Karena itu, saya agak heran mengapa dokter Iran mengantar Ladan dan Laleh datang berkonsultasi ke Jerman tahun 1996, padahal dokter di Jerman tak punya kemampuan memisahkan craniopagus," tuturnya. Masih menurut website RS Raffles, Carson tahun 1997 menjadi terkenal karena memimpin tim dokter Afrika Selatan melakukan pemisahan pertama kali kasus craniopagus vertikal. "Ini juga misleading, salah. Operasi di Afrika Selatan itu bukanlah kasus craniopagus vertikal pertama di dunia. Yuliana dan Yuliani juga craniopagus vertikal," katanya. Persaingan bisnis Menurut Prof Padmo, di tengah persaingan bisnis antar rumah sakit di Singapura, RS Raffles coba mencari nama. Para dokternya tidak cukup rendah hati untuk mau banyak bertanya, termasuk ke dokter-dokter di Indonesia yang mungkin mereka pandang lebih rendah. Selain itu, para dokter bedah saraf Singapura belum bergabung dalam World Federation of Neurosurgery. Kesalahan para dokter Singapura lainnya adalah dalam pemilihan tongkat komando dalam tim operasi. "Seharusnya tak perlu dokter bedah saraf yang jadi panglima operasi. Waktu saya memisahkan Yuliana dan Yuliani, yang jadi panglima adalah Prof Dr Iskandar Wahidiyat, dokter spesialis anak." Menurut Prof Padmo, ibarat panglima perang, pemimpin tim tak perlu langsung terjun melakukan tindakan di ruang operasi. Ia cukup melakukan kontrol semua aspek, alat, dan logistik. Keberhasilan operasi pemisahan penempelan selaput dan pembuluh darah otak dewasa ini juga amat ditentukan oleh kemajuan teknologi anestesi, bukan melulu oleh keahlian dokter bedah saraf. Pemotongan, pembendungan, dan penyambungan vena di duramater yang dialami Ladan dan Laleh mengakibatkan keduanya mengalami peningkatan tekanan darah di otak, dan itu terbukti berakibat fatal. Akibat perubahan tekanan darah di otak itulah keduanya mengalami gangguan dan bahkan kegagalan multi-organ. Akan halnya kembar Yuliana dan Yuliani, keduanya kini baru saja naik ke kelas dua sekolah menengah umum (SMU) di Tanjung Pinang, Riau. "Mereka masing-masing peringkat lima dan tujuh di kelasnya. Insya Allah, saya akan melaporkan hidup mereka di Kongres Dunia Bedah Saraf di Maroko, tahun 2005," kata Prof Padmo. (IJ) * Ternyata Singapura tidak lebih hebat dari Indonesia * So, nggak perlu minder apalagi takut2x. Mereka nggak lebih pinter dari kite. RantauNet http://www.rantaunet.com Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/daftar.php ----------------------------------------------- Berhenti menerima RantauNet Mailing List, silahkan ke: http://www.rantaunet.com/unsubscribe.php ===============================================

