Saya juga membaca tentang partai ini dan terus terang saya sangat interes dengan partai ini, partai ini juga membuat saya beralih dari golput. Ada beberapa hal yang menarik tentang partai :
1. Bagi mereka negara Islam itu tidak penting yang lebih penting adalah bersikap Islam dalam hidup bermasyarakat dan dimulai dari keluarga. 2. Pemimpin partai dilarang mengajukan diri dan harus diajukan orang lain dalam partai tersebut, dan sering kali di dalam partai susah dicari siapa yang mau memegang jabatan karena takut dengan tanggung jawab yang di pikulnya. 3. Rata2 mereka berasal dari kalangan kampus dan mesjid dengan usia 40 tahunan ke bawah. 4. Dalam masalah dana mereka sangat mandiri langsung dari anggota secara sukarela dan punya jaringan yang sangat erat sehingga sangat mudah untuk mengumpulkan massa dan simpatisannya dalam hitungan jam dan hampir tanpa dukungan dana. Dan sangat santun dalam berdemontrasi atau unjuk rasa, sering kita lihat mobilisasi masa sampai jumlah puluhan bahkan ratusan ribu massa tanpa menimbulkan kemacetan berarti, padahal pihak lain hanya dengan puluhan sampai ratusan (gak pake ribuan) jalan Thamrin Jakarta sudah macet total. 5. Mempunyai progam pengabdian masyarakat langsung yang konsisten sampai sekarang yang dikenal dengan PKPU 6. Anggota dewan dari partai ini di mana nyaris tanpa cacat atau terlibat KKN, Terbukti di DPRD SUMBAR satu-satunya fraksi yang menolak RAPBD Sumbar yang bermasalah itu. Saya bicara bukan kampanye atau apa hanya menambhkan yang disampaikan oleh milist sebelumnya karena sampai sekarang saya belum menjadi anggota apalagi jadi pengurus, hanya sekedar simpatisan dan memilih partai dalam Pemilu besok, Insya Allah. Untuk menjadi anggota saya masih takut belum bisa sebaik mereka dalam kehidupan sehari-hari. wassalam YP --- In [EMAIL PROTECTED], Rajo <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > ----- Original Message ----- > From: Berlia Saridanti > To: [EMAIL PROTECTED] > Sent: Friday, July 11, 2003 4:50 PM > Subject: [NanManang] FW: BUKAN DI NEGERI DONGENG > > > > > > Allahu Akbar !!! > > Perjuangan untuk keadilan tidak akan pernah berhenti di jalan Islam..... > > > > Wassalam > > > > > > ps.Kampanye dikit gak pa2 ya.....hihihi..... > > baca yaaaa..... > > ----------------------------- > > > > Assalamu'alaikum wr.wb. > > > > Sebagai wartawan, setiap hari saya menyaksikan pameran pragmatisme hampir > > di semua level kehidupan. Sepertinya semua orang hanya peduli pada dirinya > > sendiri. Ketika disorot, lidahnya sigap menari-nari memberi sejuta > > alasan. > > Hampir tak ada lagi rasa malu, rasa peduli apalagi berfikir jauh ke depan > > tentang nasib bangsa ini. Nyaris tak ada korelasi antara pendidikan yang > > tinggi, harta kekayaan yang melimpah dengan kepedulian dan kearifan. > > > > Kalaupun ada orang yang berseru-seru tentang keadilan, hidup yang bersih > > dst, biasanya orang itu hidup jauh dari realita. Dia bersih, karena > > memang > > tidak pernah menginjakkan kaki ke bumi. Tak heran jika Indonesia tak > > kunjung > > lepas dari krisis. > > > > Suatu malam isteri saya, Helvy Tiana Rosa, meminta saya untuk membaca, > > memberi komentar dan menyunting tulisan-tulisan yang ia kumpulkan tentang > > para kader Partai Keadilan Sejahtera. Ada sekitar 50 judul yang saya > > mesti > > baca. Ketika halaman demi halaman selesai saya baca, yang muncul adalah > > rasa haru, dan takjub. > > > > Kisah-kisah tersebut bagaikan kisah di negeri dongeng. Ada cerita tentang > > anggota dewan di Jawa Tengah yang tidak pernah mengambil seluruh gajinya. > > Ia hanya mengambil secukupnya dan kemudian menyisakannya bagi orang lain, > > siapapun mereka. Ada kisah tentang seorang ustadz yang tiga hari tiga > > malam > > tidak tidur karena begitu banyak urusan umat yang mesti ia urusi. > > > > Bagaimana ia menghapus lelahnya? Bukan dengan aneka suplemen. Ia sholat > > tahajud. Ada seorang ibu yang selalu berupaya menjadi orang pertama yang > > menolong orang lain, tetapi ia justru tak punya uang ketika ia sakit. > > > > Semula isteri saya dipesan untuk membuat cerita tentang para tokoh PKS. > > Alih-alih membuat buku tentang para tokoh ini, isteri saya malah > > mengumpulkan cerita-cerita yang mengesankan (gagasannya seperti Chicken > > Soup of The Soul) dari orang-orang biasa tentang PK, atau kader- kadernya. > > > > Usai membaca, saya mengatakan pada isteri saya, Orang-orang inilah yang > > Indonesia butuhkan. > > > > Bagi saya, orang-orang yang ada dalam buku ini mewakili orang- orang yang > > hendak menegakkan kebaikan, kebenaran sambil berkecimpung dalam lumpur > > kehidupan. Ketika mereka mengatakan hendak menegakkan kehidupan yang > > bersih, mereka berada di garis depan dengan menolak uang tak jelas yang > > disodorkan ke tangan mereka, bukan berada di menara gading, yang bisa > > berkata sesuka hati karena tidak pernah menghadapi realitanya sendiri. > > Mereka dimusuhi, dicela, dan bahkan difitnah karena mempertahankan > > prinsip > > mereka. > > > > Insya Allah, sebentar lagi buku ini akan terbit dengan judul Bukan Di > > Negeri > > Dongeng, Kumpulan Kisah Para Pejuang Keadilan. > > > > Isteri saya dan saya sepakat buku ini tidak akan menyandang > > atribut-atribut > > kepartaian dan sasaran pembacanya adalah masyarakat umum, bukan kader > > partai. Karena isinya adalah kisah-kisah orang yang peduli karena hendak > > memenuhi janji mereka dengan Allah Ta'ala untuk bersikap adil. Kebetulan > > saja mereka bergabung di Partai Keadilan. Saya dan isteri berharap buku > > ini > > bisa memberi inspirasi pada banyak orang untuk mulai bersikap benar, adil > > dan bersih. Apakah mereka lalu bergabung dengan PKS atau tidak, itu urusan > > lain. > > > > Saya tidak ingin mengatakan bahwa dengan demikian kader-kader PKS pasti > > bisa memegang amanah kekuasaan. Belum tentu. Sampai saat ini, baru sekitar > > 200 orang kader PKS yang menjadi anggota parlemen di pusat maupun daerah. > > Tidak ada satupun yang menjadi pejabat negara, walaupun banyak yang > > menjadi > > pegawai negeri. > > > > Sampai saat ini, alhamdulillah, para anggota PKS ini masih mampu menepis > > godaan uang dan wanita. Masih ada ujian tahta, yang belum tentu bisa > > mereka > > atasi. Kita berdoa agar para pejuang keadilan ini tetap tegar. > > > > Saya sertakan kata pengantar isteri saya untuk buku tersebut dan salah > > satu > > tulisan di buku tersebut berjudul Orang yang Pertama. Saya belum bisa > > mengirimkan seluruh artikel, menunggu selesai penerbitannya. Saya juga > > belum tahu bagaimana teman-teman di AS bisa ikut menikmatinya tanpa > > mengganggu pemasaran oleh penerbit. > > > > Maaf jika email ini kepanjangan.. > > Allahu'alam bi sawab > > Wassalam > > Tomi > > _____ > > > > > > Pengantar > > > > Apakah Anda memiliki banyak teman yang mempunyai sifat dan sikap yang > > bagi > > Anda terasa sangat mengesankan dan istimewa? Adakah Anda mengenal orang > > yang memiliki ahlak sangat mulia, misalnya sangat adil, jujur, penuh > > cinta, > > mementingkan orang lain dan sebagainya? Mungkin Anda akan menjawab dengan > > mata berbinar, Ya. Tapi bisa jadi setelah berpikir keras, mengingat-ingat, > > Anda terpaksa mengata-kan, Tidak. Saya nggak punya teman seperti itu, > > atau: > > Orang seperti itu kan hanya ada di jaman dahulu kala, jaman para nabi! > > Sementara diam-diam Anda menyimpan rindu. Begitu mendera-dera. Lantas > > tiba-tiba Anda pun bergumam, Bukan sekadar teman. Bahkan negeri ini > > sangat > > membutuhkan orang-orang seperti itu. Ya, negeri ini! Tapi apa mereka benar > > ada? Di negeri dongeng manakah mereka tinggal? Jangan pesimis dulu. > > Melalui > > buku ini, Anda akan saya ajak untuk berkenalan dan bertemu dengan > > sosok-sosok luar biasa seperti itu. Anda tak percaya? > > > > Tidak, ini bukan cerita fiktif dari negeri dongeng mana pun. Mereka > > memang > > sungguh ada, bahkan tak jauh dari Anda! Ditulis oleh lebih dari 25 orang, > > buku ini memaparkan kisah-kisah keseharian yang mencengangkan dari mereka > > yang kami sebut sebagai 'pejuang keadilan'. > > > > Pernahkah terbayang dalam benak Anda, suatu hari dalam kehidupan Anda, > > da-tang sepasang suami istri sederhana yang belum lama Anda kenal > > tiba-tiba > > menghadiahkan Anda sebuah laptop hanya karena mereka merasa bahwa suatu > > ketika Anda akan menjadi seorang penulis? Padahal saat itu Anda bahkan > > belum menulis apa pun yang berarti? > > > > Pernah bertemu dengan dia yang memiliki prinsip untuk selalu menjadi orang > > pertama yang menolong orang lain meski tak bisa membeli susu bagi anaknya? > > Pernah tahu ada ibu empat anak, pengidap kanker rahim yang sangat > > kekurangan > > secara ekonomi, tetapi selalu terdepan membantu mereka yang terkena > > musibah? > > > > Bisakah Anda bayangkan bila suami Anda yang bertugas di DPR hanya mau > > mengambil gaji secukupnya dan selebihnya dikembalikan pada rakyat? Atau > > kala ia mendapat uang ratusan juta rupiah yang dikatakan sebagai haknya, > > ia > > malah mengembalikannya kepada rakyat di sekitarnya dengan cara yang > > sederhana? > > > > Ba-gaimana segelintir pejabat yang jujur menyelamatkan ratusan milyar > > uang > > negara dalam rapat-rapat yang alot? Bagaimana perasaan Anda, bila > > tiba-tiba > > ada seorang pejabat memilih tidur di sebuah rumah petak beralaskan tikar, > > hanya karena empatinya yang besar terhadap masyarakat? Kenal wakil rakyat > > yang tak mempan suap, yang bertekad membela kebenaran dan keadilan meski > > setiap hari menerima ancaman pembunuhan? Pernah bertemu dengan seorang > > presiden yang secara rutin menyapu dan mem-bakar sampah untuk kenyamanan > > lingkungannya? Punya kenalan pemimpin yang sering membantu istrinya > > belanja > > sayur? Atau ibu pejabat yang berebut melakukan kebajikan? Pernah berdoa > > agar > > ada lelaki tulus yang mau menghabiskan waktunya mendekati para 'sampah > > masyarakat' yang seabreg itu dan mengubah mereka menjadi berarti? > > > > Lalu apa Anda mengetahui, bahwa ada seorang anggota Komisi Pemilihan Umum > > yang ternyata harus 'berjuang' berkali-kali untuk sekadar mengembalikan > > kijang yang dipakainya selama bertugas? Ingin tahu kisah seorang dokter > > yang memban-gun sebuah desa di pedalaman? Lalu kisah para penghuni sebuah > > pondok cinta yang terdiri dari mahasiswi, tuna netra, mbok bakul jamu, dan > > lain-lain yang saling peduli? Tahukah Anda bahwa seorang ustadz muda dari > > negeri ini saat bertemu George Bush, dengan berani dan simpatik > > menasehati > > Presiden Amerika itu? Siapa dia? Bahkan bila Anda ingin punya seribu teman > > atau ingin mengetahui bagaimana menyongsong kematian dengan indah, serta > > hal-hal penting lainnya, semua ada da-lam buku yang sangat menyentuh ini. > > Sungguh, tak berlebihan bila saya katakan bahwa Bukan di Negeri Dongeng > > (BdND) akan mengasah nurani dan meninggalkan sesuatu di batin Anda usai > > membacanya: pencerahan, getaran, rasa takjub, cinta dan dorongan untuk > > berbuat serupa. Syukur tak habis-habisnya pada Illahi dan terimakasih saya > > ucapkan kepada Teman-teman yang sudi berbagi kisah luar biasa ini. Kepada > > mereka yang kisahnya terdapat dalam buku ini: Saya, kami, Indonesia > > mencintai dan membutuhkan kalian. Telah lama negeri ini mual terhadap para > > pemimpin, pejabat atau siapa pun yang berbicara dengan kekuasaan dan harta > > mereka, yang mementingkan diri sendiri, korup, miskin cinta. Telah lama > > negeri ini merindukan sosok yang senantiasa menempuh jalan cinta seperti > > kalian. Terimakasih pada Allah yang membuat kalian ada dan nyata di tengah > > kami. Terimakasih saya haturkan pula kepada para penulis, Pak Razikun, > > adik-adikku di Cyberliq, dan semua pihak yang turut > > repot mengumpulkan bahan tulisan. > > > > Kepada Partai Keadilan Sejahtera (sumber inspirasiku yang tak pernah > > habis). Kepada Izzatul Jannah, kepada Penerbit dan semua pihak yang tak > > dapat saya sebutkan satu persatu, yang membantu terwujudnya buku indah > > ini. > > Hanya Allah SWT yang bisa membalas semua. > > > > Akhirnya, selamat membaca dan nantikan seri BdND berikutnya. Ya, kita > > semua > > pasti mendambakan indahnya keadilan dalam hidup ini. Maka tak ada lagi > > keraguan di hati: Mari bersama menjadi pejuang keadilan! > > > > Wassalam, > > > > Helvy Tiana Rosa > > > > > > _____ > > > > > > Orang yang Pertama > > > > Aku memiliki sahabat seorang ibu muda, bernama Yani, yang memiliki > > seorang > > bayi seusia bayiku. Kami biasa bertemu di acara pengajian rutin di daerah > > Kebay-oran Baru. Dalam pandanganku, ia seorang yang bersemangat dan > > cerdas, > > di antara kesederhanaannya. Ia juga cukup aktif di kepartaian. Suatu hari > > kami berunding untuk melaksanakan sebuah bakti sosial. Semua melontarkan > > ide > > masing-masing. Tapi aku perhatikan sedari tadi ia diam saja. > > > > Kenapa, kok tumben diam saja, Yan? tanyaku heran. Ah, nggak, saya hanya > > ada > > satu pertanyaan. Ini baksosnya kontinyu atau hanya sekali ini saja? Ya, > > sekali ini dulu, sekalian perkenalan partai gitu, kata yang lain. Mengapa > > kita nggak melakukannya dengan kontinyu? Kesulitan mereka kan tidak > > terhapus > > hanya dengan sekali baksos, ujarnya. Yaa, mana kita punya dananya? tukas > > bendahara. > > > > Sahabatku ini terdiam. Lalu katanya, Baiklah, silakan teruskan. Saya > > ikut. > > Alhamdulillah, baksos kami berlangsung sukses. Betapa menyenangkan > > melihat > > kaum dhuafa begitu antusias menerima bingkisan sembako disertai dengan > > bazaar baju murah sekali. Banyak juga pertanyaan masuk seputar PKS (waktu > > itu namanya masih PK). > > > > Beberapa bulan kemudian, kami sudah tak terlalu memikirkan baksos itu > > lagi. > > Hingga suatu saat ibu ketua kelompok pengajianku berkisah, Tadi saya > > ketemu > > dengan Bu Rapiah. Masih ingat? Itu lho, ibu yang anaknya ada tujuh, yang > > waktu kita baksos dia sempat kerepotan dengan tiga balitanya yang rewel. > > Oya. ingat. Gimana kabarnya? tanyaku. Dia mengucapkan terima kasih pada > > kita > > atas beasiswa yang diberikan pada anaknya yang dua orang sekolah di SD > > itu. > > Tapi saya malah bingung, beasiswa yang mana ya? Memangnya kita punya > > program beasiswa? Kayaknya belum deh., ia tampak bingung sendiri. Kami > > juga > > bingung. Mungkin bukan DPRa sini kali? celetuk salah satu temanku. DPRa > > sini > > kok, dia bilang. Lagipula, dia kan tinggalnya di wilayah DPRa sini, jawab > > ibu ketua. > > > > Misteri beasiswa itu sampai sekian lama tak terpecahkan. Suatu hari, Yani > > membagikan sebuah list sumbang-an untuk anak seseorang di wilayah DPW > > lain. > > Anak itu menderita kerusakan syaraf, padahal usianya masih balita. Setelah > > mendengar ini dan itu tentang bayi malang tersebut, kami sepakat > > berinfaq. > > > > Pada saat yang lain aku, selaku administrator mailing list DPRa mendapat > > email dari ketua sebuah DPRa di DPW tempat lain. Isinya sungguh membuat > > kami terharu. Begini bunyinya, Terima kasih atas bantuan saudara sekalian > > untuk biaya operasi dan sekaligus fisioterapi anak seorang warga di DPRa > > kami. Kedua orangtuanya ingin sekali bersi-laturahmi dengan Anda semua. > > Ia > > bilang, saudara sekalian telah berbuat di saat yang tepat. Sebab ada > > seorang temannya yang kaya raya, menjanjikan mau menolong, tapi hingga > > saat > > inipun tidak terwujud. Hal itu tidak lain karena ia tidak ber- hasil > > menghimpun dana dari teman-teman yang kaya raya itu. Alasannya karena > > mereka tidak kenal dengan warga kami tersebut. Subhanallah, ukhuwah > > islamiyah mampu menyatukan hati Saudara sekalian dengan kami semua, dengan > > keluarga yang ditimpa kemalangan tersebut. > > > > Maka, aku mulai menghubungkan peristiwa setelah baksos dengan sahabatku > > Yani. Hingga suatu hari aku bertemu dengan teman dekatnya yang sedang > > mengan-tri di sebuah bank. Sedang nabung ya, Mbak? sapaku setelah bertukar > > salam. Ah, nggak, Mbak. Ini, mau menyetorkan uang sumbangan. > > Alhamdulillah, > > ada tambahan lagi nih. Lalu aku mulai mengoreknya. Subhanallah, ternyata > > Yani dan beberapa temannya membuka sebuah rekening bank khusus. > > Penggunaannya untuk beasiswa dhuafa, anak jalanan, keluarga muslim yang > > sedang ditimpa musibah, hingga daerah-daerah konflik, dan saudara- saudara > > muslim di negeri lain. Yang terakhir ini mereka menyalurkannya melalui > > LSM-LSM seperti PKPU, DSUQ, MER-C, BSMI, dan beberapa yayasan lain, > > termasuk Dompet Dhuafa. > > > > Untuk itu mereka membuat jaringan dengan berbagai kalangan yang mampu dan > > mau berinfaq secara teratur, dengan cara menyisihkan berapa saja bagian > > dari pendapatan mereka. Mbak Yani bilang, kalau bisa jadilah kita orang > > pertama yang menolong mereka. Jangan sampai mereka yang minta, baru kita > > tolong, ujar muslimah berjil-bab itu. > > > > Subhanallah. Getar di hatiku tak terkatakan. Getar itu kian menjadi, saat > > beberapa hari setelah itu aku bertemu Yani yang bersemangat itu sedang > > keluar dari ATM dengan wajah agak murung. Ketika ku-tanya, ia menjawab, > > Ah, > > nggak apa-apa. Gajiku belum ditransfer. Sementara aku perlu beli susu > > untuk > > bayiku. Bagaimana kalau aku pinjami dulu? tanyaku bersimpati. Bayangkan, > > orang yang selalu jadi orang pertama menolong saudaranya ini, ternyata > > sedang kesulitan keuangan untuk membeli sekaleng susu bayinya. Ah, nggak > > usah. Nanti aku telpon kantorku saja, ujarnya ringan. Tak lama kulihat ia > > sibuk dengan hp-nya. Kuamati setelah itu, wajahnya kuyu. > > > > Ia melangkah pergi dengan gontai. Agaknya usahanya tidak berhasil. Hatiku > > bergetar. Teringat kata-katanya, kalau bisa jadilah orang yang pertama > > menolong saudaramu. Jangan tunggu hingga ia meminta. Maka, aku segera > > memburunya. Kutarik tangannya dan setengah kupaksa, kua-jak ia masuk ke > > sebuah supermarket tak jauh dari situ. Kupaksa ia mengambil sekaleng susu > > bagi bayinya. Ia tampak tidak enak.Apalagi di kasir aku memba- yarinya. > > > > Jangan, nanti aku susah menggantinya, aku lagi nggak punya uang, ujarnya > > memelas. Kamu nggak perlu ganti. Ingat, aku saudaramu. Dan aku ingin jadi > > orang yang pertama yang menolong saudaraku.. Beri aku kesempatan berbuat > > sepertimu, yaa? > > > > Kulihat bening di matanya. Bening terima kasih. Bening haru. Hatiku basah. > > Sejuk. Allah, ajari aku untuk selalu berusaha menjadi orang per- tama yang > > menolong saudara-saudaraku, seperti sahabatku Yani.. > > > > (Ifa Avianty) > > > > --------------------------------- > Do you Yahoo!? > SBC Yahoo! DSL - Now only $29.95 per month! RantauNet http://www.rantaunet.com Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/daftar.php ----------------------------------------------- Berhenti menerima RantauNet Mailing List, silahkan ke: http://www.rantaunet.com/unsubscribe.php ===============================================

