----- Original Message -----
From: Berlia Saridanti
To: [EMAIL PROTECTED]
Sent: Friday, July 11, 2003 4:50 PM
Subject: [NanManang] FW: BUKAN DI NEGERI DONGENG


> Allahu Akbar !!!
> Perjuangan untuk keadilan tidak akan pernah berhenti di jalan Islam.....

> Wassalam

>
> ps.Kampanye dikit gak pa2 ya.....hihihi.....
> baca yaaaa.....
> -----------------------------

> Assalamu'alaikum wr.wb.
>
> Sebagai wartawan, setiap hari saya menyaksikan pameran pragmatisme  hampir
> di semua level kehidupan. Sepertinya semua orang hanya peduli pada dirinya
> sendiri. Ketika disorot, lidahnya sigap menari-nari memberi sejuta
> alasan.
> Hampir tak ada lagi rasa malu, rasa peduli apalagi berfikir jauh ke  depan
> tentang nasib bangsa ini. Nyaris tak ada korelasi antara pendidikan  yang
> tinggi, harta kekayaan yang melimpah dengan kepedulian dan kearifan.
>
> Kalaupun ada orang yang berseru-seru tentang keadilan, hidup yang  bersih
> dst, biasanya orang itu hidup jauh dari realita. Dia bersih, karena
> memang
> tidak pernah menginjakkan kaki ke bumi. Tak heran jika Indonesia tak
> kunjung
> lepas dari krisis.
>
> Suatu malam isteri saya, Helvy Tiana Rosa, meminta saya untuk membaca,
> memberi komentar dan menyunting tulisan-tulisan yang ia kumpulkan  tentang
> para kader Partai Keadilan Sejahtera. Ada sekitar 50 judul yang saya
> mesti
> baca. Ketika halaman demi halaman selesai saya baca, yang muncul adalah
> rasa haru, dan takjub.
>
> Kisah-kisah tersebut bagaikan kisah di negeri dongeng. Ada cerita  tentang
> anggota dewan di Jawa Tengah yang tidak pernah mengambil seluruh  gajinya.
> Ia hanya mengambil secukupnya dan kemudian menyisakannya bagi orang lain,
> siapapun mereka. Ada kisah tentang seorang ustadz yang tiga hari tiga
> malam
> tidak tidur karena begitu banyak urusan umat yang mesti ia urusi.
>
> Bagaimana ia menghapus lelahnya? Bukan dengan aneka suplemen. Ia sholat
> tahajud.  Ada seorang ibu yang selalu berupaya menjadi orang pertama yang
> menolong orang lain, tetapi ia justru tak punya uang ketika ia sakit.
>
> Semula isteri saya dipesan untuk membuat cerita tentang para tokoh PKS.
> Alih-alih membuat buku tentang para tokoh ini, isteri saya malah
> mengumpulkan cerita-cerita yang mengesankan (gagasannya seperti Chicken
> Soup of The Soul) dari orang-orang biasa tentang PK, atau kader-kadernya.
>
> Usai membaca, saya mengatakan pada isteri saya, Orang-orang inilah  yang
> Indonesia butuhkan.
>
> Bagi saya, orang-orang yang ada dalam buku ini mewakili orang-orang  yang
> hendak menegakkan kebaikan, kebenaran sambil berkecimpung dalam lumpur
> kehidupan. Ketika mereka mengatakan hendak menegakkan kehidupan yang
> bersih, mereka berada di garis depan dengan menolak uang tak jelas yang
> disodorkan ke tangan mereka, bukan berada di menara gading, yang bisa
> berkata  sesuka hati karena tidak pernah menghadapi realitanya sendiri.
> Mereka  dimusuhi, dicela, dan bahkan difitnah karena mempertahankan
> prinsip
> mereka.
>
> Insya Allah, sebentar lagi buku ini akan terbit dengan judul Bukan Di
> Negeri
> Dongeng, Kumpulan Kisah Para Pejuang Keadilan.
>
> Isteri saya dan saya sepakat buku ini tidak akan menyandang
> atribut-atribut
> kepartaian dan sasaran pembacanya adalah masyarakat umum, bukan kader
> partai. Karena isinya adalah kisah-kisah orang yang peduli karena  hendak
> memenuhi janji mereka dengan Allah Ta'ala untuk bersikap adil.  Kebetulan
> saja mereka bergabung di Partai Keadilan. Saya dan isteri berharap buku
> ini
> bisa memberi inspirasi pada banyak orang untuk mulai bersikap benar,  adil
> dan bersih. Apakah mereka lalu bergabung dengan PKS atau tidak, itu urusan
> lain.
>
> Saya tidak ingin mengatakan bahwa dengan demikian kader-kader PKS pasti
> bisa memegang amanah kekuasaan. Belum tentu. Sampai saat ini, baru sekitar
> 200 orang kader PKS yang menjadi anggota parlemen di pusat maupun daerah.
> Tidak ada satupun yang menjadi pejabat negara, walaupun banyak yang
> menjadi
> pegawai negeri.
>
> Sampai saat ini, alhamdulillah, para anggota PKS ini masih mampu  menepis
> godaan uang dan wanita. Masih ada ujian tahta, yang belum tentu bisa
> mereka
> atasi. Kita berdoa agar para pejuang keadilan ini tetap tegar.
>
> Saya sertakan kata pengantar isteri saya untuk buku tersebut dan salah
> satu
> tulisan di buku tersebut berjudul Orang yang Pertama. Saya belum bisa
> mengirimkan seluruh artikel, menunggu selesai penerbitannya. Saya juga
> belum tahu bagaimana teman-teman di AS bisa ikut menikmatinya tanpa
> mengganggu pemasaran oleh penerbit.
>
> Maaf jika email ini kepanjangan..
> Allahu'alam bi sawab
> Wassalam
> Tomi
>   _____ 
>
>
> Pengantar
>
> Apakah Anda memiliki banyak teman yang mempunyai sifat dan sikap yang
> bagi
> Anda terasa sangat mengesankan dan istimewa? Adakah Anda mengenal orang
> yang memiliki ahlak sangat mulia, misalnya sangat adil, jujur, penuh
> cinta,
> mementingkan orang lain dan sebagainya? Mungkin Anda akan menjawab dengan
> mata berbinar, Ya. Tapi bisa jadi setelah berpikir keras, mengingat-ingat,
> Anda terpaksa mengata-kan, Tidak. Saya nggak punya teman seperti itu,
> atau:
> Orang seperti itu kan hanya ada di jaman dahulu kala, jaman para nabi!
> Sementara diam-diam Anda menyimpan rindu. Begitu mendera-dera. Lantas
> tiba-tiba Anda pun bergumam, Bukan sekadar teman. Bahkan  negeri ini
> sangat
> membutuhkan orang-orang seperti itu. Ya, negeri ini! Tapi apa mereka benar
> ada? Di negeri dongeng manakah mereka tinggal? Jangan pesimis dulu.
> Melalui
> buku ini, Anda akan saya ajak untuk  berkenalan dan bertemu dengan
> sosok-sosok luar biasa seperti itu. Anda tak  percaya?
>
> Tidak, ini bukan cerita fiktif dari negeri dongeng mana pun. Mereka
> memang
> sungguh ada, bahkan tak jauh dari Anda! Ditulis oleh lebih dari 25 orang,
> buku ini memaparkan kisah-kisah  keseharian yang mencengangkan dari mereka
> yang kami sebut sebagai 'pejuang keadilan'.
>
> Pernahkah terbayang dalam benak Anda, suatu hari dalam kehidupan Anda,
> da-tang sepasang suami istri sederhana yang belum lama Anda kenal
> tiba-tiba
> menghadiahkan Anda sebuah laptop hanya karena mereka merasa bahwa suatu
> ketika Anda akan menjadi seorang penulis? Padahal saat itu Anda bahkan
> belum menulis apa pun yang berarti?
>
> Pernah bertemu dengan dia yang memiliki prinsip untuk selalu menjadi orang
> pertama yang menolong orang lain meski tak bisa membeli susu bagi anaknya?
> Pernah tahu ada ibu empat anak, pengidap kanker rahim yang sangat
> kekurangan
> secara ekonomi, tetapi selalu terdepan membantu mereka yang terkena
> musibah?
>
> Bisakah Anda bayangkan bila suami Anda yang bertugas di DPR hanya mau
> mengambil gaji secukupnya dan selebihnya dikembalikan pada rakyat? Atau
> kala ia mendapat uang ratusan juta rupiah yang dikatakan sebagai haknya,
> ia
> malah mengembalikannya kepada rakyat di sekitarnya dengan cara yang
> sederhana?
>
> Ba-gaimana segelintir pejabat yang jujur menyelamatkan ratusan milyar
> uang
> negara dalam rapat-rapat yang alot? Bagaimana perasaan Anda, bila
> tiba-tiba
> ada seorang pejabat memilih  tidur di sebuah rumah petak beralaskan tikar,
> hanya karena empatinya yang besar terhadap masyarakat? Kenal wakil rakyat
> yang tak mempan suap, yang  bertekad membela kebenaran dan keadilan meski
> setiap hari menerima ancaman pembunuhan? Pernah bertemu dengan seorang
> presiden yang secara rutin menyapu dan mem-bakar sampah untuk kenyamanan
> lingkungannya? Punya kenalan pemimpin  yang sering membantu istrinya
> belanja
> sayur? Atau ibu pejabat yang berebut melakukan kebajikan? Pernah berdoa
> agar
> ada lelaki tulus yang mau menghabiskan waktunya mendekati para 'sampah
> masyarakat' yang seabreg  itu dan mengubah mereka menjadi berarti?
>
> Lalu apa Anda mengetahui, bahwa ada seorang anggota Komisi Pemilihan  Umum
> yang ternyata harus 'berjuang' berkali-kali untuk sekadar mengembalikan
> kijang yang dipakainya selama bertugas? Ingin tahu kisah seorang dokter
> yang memban-gun sebuah desa di pedalaman? Lalu kisah para penghuni sebuah
> pondok cinta yang terdiri dari mahasiswi, tuna netra, mbok bakul jamu, dan
> lain-lain yang saling peduli? Tahukah Anda bahwa seorang ustadz muda  dari
> negeri ini saat bertemu George Bush, dengan berani dan simpatik
> menasehati
> Presiden Amerika itu? Siapa dia? Bahkan bila Anda ingin punya seribu teman
> atau ingin mengetahui bagaimana menyongsong kematian dengan indah, serta
> hal-hal penting lainnya, semua  ada da-lam buku yang sangat menyentuh ini.
> Sungguh, tak berlebihan bila saya katakan bahwa Bukan di Negeri Dongeng
> (BdND) akan mengasah nurani dan meninggalkan sesuatu di batin Anda usai
> membacanya: pencerahan,  getaran, rasa takjub, cinta dan dorongan untuk
> berbuat serupa. Syukur tak habis-habisnya pada Illahi dan terimakasih saya
> ucapkan  kepada Teman-teman yang sudi berbagi kisah luar biasa ini. Kepada
> mereka yang kisahnya terdapat dalam buku ini: Saya, kami, Indonesia
> mencintai dan membutuhkan kalian. Telah lama negeri ini mual terhadap para
> pemimpin, pejabat atau siapa pun yang berbicara dengan kekuasaan dan harta
> mereka, yang mementingkan diri sendiri, korup, miskin cinta. Telah lama
> negeri  ini merindukan sosok yang senantiasa menempuh jalan cinta seperti
> kalian. Terimakasih pada Allah yang membuat kalian ada dan nyata di tengah
> kami. Terimakasih saya haturkan pula kepada para penulis, Pak Razikun,
> adik-adikku di Cyberliq, dan semua pihak yang turut
> repot mengumpulkan bahan  tulisan.
>
> Kepada Partai Keadilan Sejahtera (sumber inspirasiku yang tak pernah
> habis). Kepada Izzatul Jannah, kepada Penerbit dan semua pihak yang tak
> dapat  saya sebutkan satu persatu, yang membantu terwujudnya buku indah
> ini.
> Hanya  Allah SWT yang bisa membalas semua.
>
> Akhirnya, selamat membaca dan nantikan seri BdND berikutnya. Ya, kita
> semua
> pasti mendambakan indahnya keadilan dalam hidup ini.  Maka tak ada lagi
> keraguan di hati: Mari bersama menjadi pejuang keadilan!
>
> Wassalam,
>
> Helvy Tiana Rosa
>
>
>   _____ 
>
>
> Orang yang Pertama
>
> Aku memiliki sahabat seorang ibu muda, bernama Yani, yang memiliki
> seorang
> bayi seusia bayiku. Kami biasa bertemu di acara pengajian rutin di  daerah
> Kebay-oran Baru. Dalam pandanganku, ia seorang yang bersemangat dan
> cerdas,
> di antara kesederhanaannya. Ia juga cukup aktif di kepartaian. Suatu hari
> kami berunding untuk melaksanakan sebuah bakti sosial. Semua melontarkan
> ide
> masing-masing. Tapi aku perhatikan sedari tadi ia diam  saja.
>
> Kenapa, kok tumben diam saja, Yan? tanyaku heran. Ah, nggak, saya hanya
> ada
> satu pertanyaan. Ini baksosnya kontinyu atau hanya sekali ini saja? Ya,
> sekali ini dulu, sekalian perkenalan partai gitu, kata yang lain. Mengapa
> kita nggak melakukannya dengan kontinyu? Kesulitan mereka kan tidak
> terhapus
> hanya dengan sekali baksos, ujarnya. Yaa, mana kita punya dananya? tukas
> bendahara.
>
> Sahabatku ini terdiam. Lalu katanya, Baiklah, silakan teruskan. Saya
> ikut.
> Alhamdulillah, baksos kami berlangsung sukses. Betapa menyenangkan
> melihat
> kaum dhuafa begitu antusias menerima bingkisan sembako disertai dengan
> bazaar baju murah sekali. Banyak juga pertanyaan masuk seputar PKS  (waktu
> itu namanya masih PK).
>
> Beberapa bulan kemudian, kami sudah tak terlalu memikirkan baksos itu
> lagi.
> Hingga suatu saat ibu ketua kelompok pengajianku berkisah, Tadi saya
> ketemu
> dengan Bu Rapiah. Masih ingat? Itu lho, ibu yang anaknya ada tujuh,  yang
> waktu kita baksos dia sempat kerepotan dengan tiga balitanya yang  rewel.
> Oya. ingat. Gimana kabarnya? tanyaku. Dia mengucapkan terima kasih pada
> kita
> atas beasiswa yang diberikan pada anaknya yang dua orang sekolah di SD
> itu.
> Tapi saya malah bingung,  beasiswa yang mana ya? Memangnya kita punya
> program beasiswa? Kayaknya belum  deh., ia tampak bingung sendiri. Kami
> juga
> bingung. Mungkin bukan DPRa sini kali? celetuk salah satu temanku. DPRa
> sini
> kok, dia bilang. Lagipula, dia kan tinggalnya di wilayah  DPRa sini, jawab
> ibu ketua.
>
> Misteri beasiswa itu sampai sekian lama tak terpecahkan. Suatu hari, Yani
> membagikan sebuah list sumbang-an untuk anak seseorang  di wilayah DPW
> lain.
> Anak itu menderita kerusakan syaraf, padahal usianya masih balita. Setelah
> mendengar ini dan itu tentang bayi malang tersebut,  kami sepakat
> berinfaq.
>
> Pada saat yang lain aku, selaku administrator mailing list DPRa  mendapat
> email dari ketua sebuah DPRa di DPW tempat lain. Isinya sungguh membuat
> kami terharu. Begini bunyinya, Terima kasih atas bantuan saudara sekalian
> untuk biaya operasi dan sekaligus fisioterapi anak seorang warga di DPRa
> kami. Kedua  orangtuanya ingin sekali bersi-laturahmi dengan Anda semua.
> Ia
> bilang, saudara  sekalian telah berbuat di saat yang tepat. Sebab ada
> seorang temannya yang kaya  raya, menjanjikan mau menolong, tapi hingga
> saat
> inipun tidak terwujud. Hal  itu tidak lain karena ia tidak ber-hasil
> menghimpun dana dari teman-teman  yang kaya raya itu. Alasannya karena
> mereka tidak kenal dengan warga kami tersebut. Subhanallah, ukhuwah
> islamiyah mampu menyatukan hati Saudara sekalian dengan kami semua, dengan
> keluarga yang ditimpa kemalangan tersebut.
>
> Maka, aku mulai menghubungkan peristiwa setelah baksos dengan sahabatku
> Yani. Hingga suatu hari aku bertemu dengan teman dekatnya yang sedang
> mengan-tri di sebuah bank. Sedang nabung ya, Mbak? sapaku setelah bertukar
> salam. Ah, nggak, Mbak. Ini, mau menyetorkan uang sumbangan.
> Alhamdulillah,
> ada tambahan lagi nih. Lalu aku mulai mengoreknya. Subhanallah, ternyata
> Yani dan beberapa temannya membuka sebuah  rekening bank khusus.
> Penggunaannya untuk beasiswa dhuafa, anak jalanan,  keluarga muslim yang
> sedang ditimpa musibah, hingga daerah-daerah konflik, dan saudara-saudara
> muslim di negeri lain. Yang terakhir ini mereka menyalurkannya melalui
> LSM-LSM seperti PKPU, DSUQ, MER-C, BSMI, dan  beberapa yayasan lain,
> termasuk Dompet Dhuafa.
>
> Untuk itu mereka membuat jaringan dengan berbagai kalangan yang mampu  dan
> mau berinfaq secara teratur, dengan cara menyisihkan berapa saja bagian
> dari pendapatan mereka. Mbak Yani bilang, kalau bisa jadilah kita orang
> pertama yang menolong mereka. Jangan sampai mereka yang minta, baru kita
> tolong, ujar  muslimah berjil-bab itu.
>
> Subhanallah. Getar di hatiku tak terkatakan. Getar itu kian menjadi, saat
> beberapa hari setelah itu aku bertemu Yani  yang bersemangat itu sedang
> keluar dari ATM dengan wajah agak murung. Ketika ku-tanya, ia menjawab,
> Ah,
> nggak apa-apa. Gajiku belum ditransfer. Sementara aku perlu beli susu
> untuk
> bayiku. Bagaimana kalau aku pinjami dulu? tanyaku bersimpati. Bayangkan,
> orang yang selalu jadi orang pertama menolong saudaranya ini, ternyata
> sedang kesulitan keuangan untuk membeli sekaleng susu bayinya. Ah, nggak
> usah. Nanti aku telpon kantorku saja, ujarnya ringan. Tak lama kulihat ia
> sibuk dengan hp-nya. Kuamati setelah itu, wajahnya  kuyu.
>
> Ia melangkah pergi dengan gontai. Agaknya usahanya tidak berhasil. Hatiku
> bergetar. Teringat kata-katanya, kalau bisa jadilah orang yang pertama
> menolong saudaramu. Jangan tunggu hingga ia meminta. Maka, aku segera
> memburunya. Kutarik tangannya dan setengah kupaksa,  kua-jak ia masuk ke
> sebuah supermarket tak jauh dari situ. Kupaksa ia mengambil sekaleng susu
> bagi bayinya. Ia tampak tidak enak.Apalagi di kasir aku memba-yarinya.
>
> Jangan, nanti aku susah menggantinya, aku lagi nggak punya uang,  ujarnya
> memelas. Kamu nggak perlu ganti. Ingat, aku saudaramu. Dan aku ingin jadi
> orang  yang pertama yang menolong saudaraku.. Beri aku kesempatan berbuat
> sepertimu, yaa?
>
> Kulihat bening di matanya. Bening terima kasih. Bening haru. Hatiku basah.
> Sejuk. Allah, ajari aku untuk selalu berusaha menjadi  orang per-tama yang
> menolong saudara-saudaraku, seperti sahabatku Yani..
>
> (Ifa Avianty)


Do you Yahoo!?
SBC Yahoo! DSL - Now only $29.95 per month!

Kirim email ke