Assalamu'alaikum wr. wb. Ada rasanya yang tercekat dikerongkongan membaca posting Tan Bandaro Kayo, tahun lima puluhan, waktu ikut sekolah rakyat dengan berkaki telanjang tanpa sedikitpun merasa rendah diri dengan kawan yang pakai terompah, susu unicef, batu tulis, pena dan tinta semuanya gratis... sehigga mandeh tidak perlu pusing mikirin spp segala, kutatap masa depan sendiri dan negeriku yang cerah......
Sekarang kenyataannya.................. lain sama sekali. > Talempong ditabuh pada prosesi adat atau keramaian seperti pasar malam > dan pacu kuda. Ditabuh dari dulu sampai sekarang. Bunyi tetap sama, > nuansa jauh berbeda. > > Sewaktu saya kecil di kota kelahiranku Padangpanjang lima puluh tahun > silam, irama talempong terdengar begitu ceria. Saat itu masyarakat > Minang berada di puncak kejayaannya sebagai civil socity atau masyarakat > Madani. > > Egaliterianisme (duduk sama rendah, berdiri sama tinggi), demokrasi > (bulat air dek pembuluh, bulat kata dek mufakat; kemenakan menyembah > lahir, mamak menyembah batin), ketaatann pada agama (adat bersandi > syarak, syarak bersandi kitabullah), tercermin dalam kehidupan > sehari-hari. Masyarakat juga cerdas dan arif karena gandrung terhadap > ilmu dan pengetahuan. Selain menuntut ilmu itu perintah agama, > masyarakat Minang juga punya suatu kredo: "alam terkembang dijadikan > guru" > ------ dikuduang----------- > > Tetapi pertanyaan yang menggoda saya, ialah mengapa masyarakat Minang > dengan adat yang kuat---yang katanya "tidak lapuk dek hujan dan tidak > lekang dek panas itu"---serta agama Islam yang dianut 99% mayarakat > Minang itu, tidak mempunya daya tahan terhadap gempuran-gempuran > tersebut. Pertanyaan itu semakin menggoda, sejauh mana Sumatera Barat > siap dengan otonomi daerah. Lebih-lebih Sumatera Barat bukan daerah > dengan kekayaan alam berlimpah. > > Talempong ditabuh dari dulu sampai sekarang. Bunyi tetap sama, nuansa > jauh berbeda ------ dikuduang----------- > Atau barangkali saya yang salah observasi dan salah persepsi? > Tan Bandaro Kayo, angku sama sekali tidak salah persepsi, persepsi angu sudah tepat, hanya mungkin masih sedikit yang melihat dalam persepsi yang sama, bagian terbesar masih melihat dari persepsi myopia. Agak celakanya persepsi masyarakat minang sangat mirip dengan "palestinian myopic", ingin damai, tapi nggak mau berbagi kedamaian, ingin keadilan tapi tak mau berbuat adil. Buku "Surau, pendidikan islam tradisional dalam transisi dan modernisasi", tesis dari doens Azyumardi Azra, terbitan Logos, 2003 saya lihat memotret masalah dasar pertanyaan angku diatas. Dalam persepsi saya, gerakan prri dari segi sosiologis sangat besar kontribusinya melumpuhkan etos civil society urang minang, sekarang masyarakat minang terombang ambing antara adat (yang belum sempat diuprade), semangat wahabi, dan materialisme hedonis. Agak mengkhawatirkan memang pengaruh materialisme hedonis yang sangat marak sekarang ini. Semoga persepsi ini salah. Salam St. Bagindo Nagari RantauNet http://www.rantaunet.com Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/daftar.php ----------------------------------------------- Berhenti menerima RantauNet Mailing List, silahkan ke: http://www.rantaunet.com/unsubscribe.php ===============================================

