----- Original Message ----- From: "Nofendri T. Lare" <[EMAIL PROTECTED]> To: "Palanta" <[EMAIL PROTECTED]> Sent: Tuesday, July 22, 2003 11:19 AM Subject: [RantauNet.Com] Renaissance Minangkabau?
> > ----- Original Message ----- > From: Nofendri T. Lare <[EMAIL PROTECTED]> > To: Palanta <[EMAIL PROTECTED]>; MinangNet > <[EMAIL PROTECTED]>; KaSuRau <[EMAIL PROTECTED]>; Urang Awak > <[EMAIL PROTECTED]> > Sent: Monday, July 21, 2003 6:02 PM > Subject: [Urang Awak] Renaissance Minangkabau? > > > > Renaissance Minangkabau? > > Oleh Refdi N. El Hasan > > Pengurus Keluarga Mahasiswa Minangkabau (KMM) > > By padangekspres > > Kamis, 17-Juli-2003, 03:32:50 WIB > > > > Akhir-akhir ini ada fenomena baru dan cukup menarik untuk > dicermati yang tengah terjadi di banyak komunitas etnis Minang dan di tengah > masyarakat ranah Minang sendiri. Selain itu, sorotan kritis terhadap budaya > Minang dari para tokoh-tokoh Minang di rantau atau kampung, ranah Minang, > pun dalam beberapa dekade terakhir ini kian terasa marak dan tegas sekaligus > bersemangat. > > > > Azyumardi Azra, umpamanya-salah seorang tokoh Minang yang sedang > naik daun itu-dalam suatu kesempatan pernah mengatakan bahwa Orang > Minangkabau sekarang sedang mengalami krisis identitas yang sangat kritis. > Adaik basandi Syara'. Syara' basandi Kitabullah (ABS, SBK) yang menjadi > paradigma identitas orang Minangkabau, tinggal hanya sebatas retorika, > romantisme, jargon, dan tameng belaka yang tidak menguntungkan. > > > > Krisis identitas sebenarnya bukanlah persoalan baru yang dialami > orang Minang manapun saat ini. Jauh dalam periode yang lalu, sudah ada > kekuatiran atau kecemasan tentang realitas dan perkembangan adat dan budaya > Minang. Adaik indak dipaciek arek, agamo indak dipagang tagueh, demikian > adagium klasik adat mengatakan. > > > > Lalai terhadap adat dan agama inilah yang menimbulkan banyak > permasalahan yang kini menjadi sorotan kritis banyak kalangan elit > Minangkabau itu. kemudian dirumuskan dalam dua kata yang cukup padat, > sederhana sekaligus tajam itu: Krisis Identitas. > > > > Ada beberapa hal yang banyak direnungkan dan sedang > diperhatikan--untuk tidak menyebut, dibenahi--menyangkut identitas Minang > yang kini tengah mengalami krisis atau pergeseran yang cukup hebat dan > merambah sisi paling mendasar dari bagian-bagian adat dan budaya Minangkabau > yang masuk kategori adat sabana adat atau adat nan teradatkan itu. > > > > Pertama, sistem religi. Islam adalah agama yang telah mendarah > daging dan diterima sebagai agama tunggal, kini tidak sekokoh dahulu dalam > memberikan efek atau bekas kepada kehidupan orang Minang. Artinya, > kemorosotan pendidikan, pengamalan, dan pendalaman ajaran Islam di dalam > masyarakat Minang adalah kausasi terpenting kenapa hal itu sampai terjadi. > > > > Bagi orang Minang, adat dan syara' adalah dua pranata nilai yang > saling melengkapi (bapilin suo); ia adalah dua anasir dan komponen utama, > meminjam Muchtar Naim, yang menjadikan Minangkabau itu Minangkabau. Selain > itu, ia juga hanyalah sebagian dari sistem nilai yang ikut bermain dan > menentukan wacana dari kehidupan yang multideminsional dan multikompleks > itu. (Kompas, 11/1/2002). > > > > Prinsip ABS, SBK pulalah sebenarnya, sehari-hari, orang-orang Minang > aktivitasnya ter(di)bangun semacam dialektika dan dinamika kehidupan yang > cukup cantik. Dengan ini pula construct budaya Minangkabau memproyeksi > generasinya yang produktif, kritis, egaliter, toleran dan demokratis. Namun, > in facto generasi Minang kontemporer kini tidak lagi memiliki hal ini. > Jebretan-jebretan yang disorotkan menghasilkan gambar yang sangat tidak > mengembirakan. Gambar itu jelek, buram, dan sangat memalukan. > > > > Sebagai contoh, setahun yang lalu, pada 6 Juni 2002, kasus > pembubaran sebuah seminar, seperti yang dituturkan Indra J. Piliang (yang > juga salah satu pembicara untuk acara Seminar tersebut) pada sebuah forum, > oleh sekelompok Mahasiswa dan para anggota Pemuda Pancasila yang meneror > dengan yel-yel yang tidak sehat. > > > > Menurutnya, ini sangat memalukan karena citra Minangkabau di matanya > dan beberapa temannya, yang juga ikut sebagai pembicara, selama ini cukup > demokratis. Selain itu, Minangkabau juga dikenal sebagai motor demokrasi di > Indonesia. Orang Minang tidak punya kesombongan dan semangat chaufinistik > semacam itu, sesalnya. Ini adalah satu contoh dari sekian banyak contoh yang > terjadi di daerah ini dan banyak yang tidak ter(di)ekspose. > > > > Contoh lain adalah maraknya wanita-wanita remaja Minang yang > 'menjual' dirinya. Bukan untuk sesuap nasi, tapi untuk gengsi agar disebut > modern, ikut zaman, dan supaya tidak disebut ketinggalan zaman, kuno, kata > Amir M.S, pakar adat yang tinggal di Jakarta. Dalam pengamatan Amir, > majalah, tabloid, dan koran kuning (porno) di Padang, tak kalah menariknya > dengan yang ada di Jakarta. Memamerkan payudara gadis-gadis cantik jelita, > dibumbui dengan kata-kata yang berbunyi 'Gaya wanita-wanita yang kepingin > disentuh', katanya sedih. > > > > Ini sangat kontras dengan prinsip adat yang mengatakan Bundo > kanduang limpapeh dalam nagari, sumarak dalam nagari, amban puruak pagangan > kunci, pusek jalo kumpulan ikan, sumarak dalam nagari, hiasan dalam > kampuang, nan gadang basa batuah. Kalau Bundo Kanduang sebagai salah satu > komponen yang mengkonstruk budaya Minang, maka ia juga sangat menentukan > stabilisasi dan integrasinya pula. Rumah kuek karano sandi, rusak sandi > rumah binaso, urang rancak karano budi, rusak budi urang binaso,demikian > adat memperingatkan. > > > > Kedua, sistem sako indu (matrilineal) dibiarkan tidak berfungsi dan > merana. Hal ini bisa dilihat dari realitas yang menguatkan tesis ini, yaitu > lahirnya anak-anak tak bersuku dari perkawinan pria Minangkabau dengan > wanita non-Minang yang tak pernah dibicarakan oleh institusi masyarakat > adat, merosotnya peran mamak, penghulu dalam masyarakat adat yang komunal > sebagai akibat lahirnya urang sumando gadang malendo dan berisiko pada > kemungkinan runtuhnya struktur masyarakat adat. > > > > Dalam locus perantauan, umpamanya, prinsip matrilineal--yang membuat > Minang tipikal dan unik dari yang lain-sudah tidak dijalankan lagi dalam > kehidupan sosial masyarakat Minang. Di antaranya pria dewasa, mamak yang seh > arusnya mempunyai otoritas terhadap wanita dan anak-anak di Jakarta sudah > diganti oleh urang sumando, bapak (keluarga Batih). Di ranah Minang dikenal > bahwa bapak hanyalah 'ayah biologis'. Sementara 'ayah sosial' adalah mamak. > Di Jakarta, 'ayah biologis' sekaligus 'ayah sosial'. Bagaimana dengan di > Kampuang sendiri, daerah ini? Seperti yang banyak didengar dari berbagai > forum diskusi keminangkabauan, tidak jauh berbeda, sudah tidak berjalan > lagi, alias mengalami semacam kematian (?). > > > > Perlu ditegaskan pula, dalam sistem matrilineal Minangkabau, > penghulu merupakan figur sentral dan merupakan pimpinan formal kesukuan yang > ada, sebagai pemegang kato putuih, biang tabuik. Ironisnya, hampir sebagian > besar penghulu, ninik-mamak, tidak tahu fungsinya. Sementara anak kemenakan, > terutama generasi muda, tidak mengetahui apa suku dan siapa pimpinan adat > (penghulu) nya. > > > > Dalam kaitan ini juga, pendidikan rata-rata penghulu juga sangat > memprihatinkan atau malah memalukan dibanding pendidikan anak kemenakannya > yang terus meningkat. Mungkinkah ini yang menjadi penyebab yang mempengaruhi > kredibilitas penghulu di hadapan kemenakannya? Semoga saja tidak. > > > > Ketiga, posisi Pusaka Tinggi. Dalam beberapa dasawarsa terakhir ini, > sertifikat tanah Pusaka Tinggi telah meningkatkan sengketa tanah (perdata) > di dalam masyarakat. Harta Pusaka Tinggi adalah milik komunal, social fund, > dana abadi kaum. Dalam bahasa adatnya, ganggam bauntuak, hak bapunyo, miliek > ba masiang. Singkatnya, harta Pusaka Tinggi tidak boleh dijual. > > > > Realitanya, harta Pusaka Tinggi telah dipaksakan menjadi seperti > milik pribadi indivdual supaya dapat digunakan dan dijual, dengan dalih demi > kepentingan umum (common interest) dan pembangunan (developmental interest). > Tanah ulayat Nagari, dalam beberapa kasus yang terjadi, telah dijadikan > milik negara. Ini terjadi sudah dipastikan karena tingkat pengetahuan > masyarakat Minang sekarang sangat minim pada prinsip-prinsip mendasar > tentang Harta Pusaka, tanah ulayat, atau soko. > > > > Ada pernyataan yang harus ditanggapi menyangkut hal ini yang harus > disikapi, umpamanya Kalau harta Pusaka Tinggi dihapuskan dan dibiarkan > dijual-jual, bisa dipastikan adat Minangkabau akan segera runtuh. > Sebaliknya, kalau dilestarikan dan dikembangkan, adat Minangkabau akan > bertambah kokoh. > > > > Ketiga poin inilah yang banyak dianggap orang Minang sebagai sangat > krusial dan determinan bagi kontinuitas adat dan budaya Minangkabau serta > menempatkannya pada locus yang begitu unik dan dielu-elukan, di samping, > tentunya, sistem pemerintahan Nagarinya yang, konon, mirip konsep demokrasi > itu (secara serampangan sering disamakan dengan city-state-nya Yunani). > > > > Kehidupan orang masyarakat di ranah Minang, menurut ceritannya, > terdiri dari kumpulan Nagari-Nagari yang berkuasa penuh mengelola rumah > tangganya sendiri. Kini, daerah-daerah di Sumbar mencoba mengembalikan > sistem pemerintahan semacam itu dengan semangat yang menggebu-gebu. > > > > Kadang-kadang juga terkesan dengan berjangkitnya semacam > Nagari-mania yang bingung dan kemabukan. Sekalipun masih banyak bermasalah > dan di sana-sini perlu pembenahan dan pembaruan. > > > > Sementara menyangkut mekanisme pemilihan juga menjadi masalah yang > harus segera diperhatikan, umpamanya apakah yang terbaik melalui prosedur > pemilihan tidak langsung berdasarkan senioritas (keluarga tertua) atau > pemilihan langsung, laiknya sistem demokrasi sekarang. Sistem pertama, > mungkin akan menimbulkan gejolak masyarakat bisa dieleminir, sementara lewat > prosedur pemilihan langsung akan menimbulkan keretakan relasi (hubungan) > mamak-kemenakan, ipar besan, sanak keluarga yang berkepanjangan dalam > masyarakat adat. > > > > Kebagkitan Kembali Minangkabau? > > > > Era reformasi yang digulirkan lima tahun yang lalu itu ternyata > membawa virus romantisisme yang cukup ganas dan, sekaligus, menghentakkan > kesadaran atas pengalaman historis atau eksistensi masa lalu yang dikesankan > hebat dan gagah; gambar masa lalu itu dipatrikan dan ditancapkan oleh > jebretan-jebretan tambo, cerita, sejarah dari berbagai penelitian akademik > atau bebas, dan sebagainya ke dalam ruang imaji setiap orang Minang dengan > hasil cetak dan cuci yang mempesona dan menyihir. > > > > Kita juga punya semacam tradisi kepercayaan messianisme di mana > warisan masa lalu itu kelihatan indah dan bersemangat kembali padanya ketika > realitas yang ada sekarang terasa menyesakkan dan tidak memuaskan serta > perannya pun dirasakan dieksloitasi, dikebiri, dimanipulasi, didistorsi atau > mungkin sangat memalukan. Akhirnya, meminjam Hassan Hanafi (cendikiawan > ternama Mesir), revitalisasi tradisi atau warisan masa lalu pun menjadi > jawabannya. > > > > Selain masa lalu itu dielukan, masa lalu yang baru saja dilewati pun > menjadi sasaran amukan kemarahan dan menuduhnya biang dari semua kehancuran > masa lalu. Terhapusnya orang kritis dan keras dari balantika nasional, > peristiwa PRRI adalah menjadi sorotan teratas yang dianggap sebagai > 'kecelakaan' sejarah; hancurnya sitem religi, sistem budaya dan sosial > matrilineal (soko indu), dan tanah Pusaka Tinggi termasuk sistem > terdemokratis pertama di Nusantara, pemerintah Nagari, modernisasi dengan > rezim pembangunanisme-nya pun menjadi otak intelektualnya. > > > > Sadar akan kehebatan dan kegagahan adat dan budaya yang dimiliki, > kesempatan yang ada dan tengah dinikmati tidak mau dibiarkan lewat begitu > saja. Di mana-mana ada semacam semangat, meminjam Fasli Djalal (Ketua Umum > Gebu Minang), ber-Minang-minang. Di berbagai daerah di Indonesia hingga > manca-negara, menurut Fasli, kian banyak bemunculan pusaran-pusaran dan > komunitas-komunitas baru yang begitu rajin mengusung wacana dan giat > menggelar keminangkabauan (Padang Ekspres, Edisi Rantau, 15-21/6/2003). > > > > Arus globalisasi ternyata tidak hanya telah menyeret orang Minang > secara terpaksa--atau mungkin secara tak sadar--mengalami semacam > keterkikisan, kekaburan, dan krisis identitas, tapi juga, akhirnya, > menumbuhkan dan menaburkan kesadaran-lewat angin kencang Reformasi-pada > richness and highness budaya dan adat. > > > > Bahkan dengannya pula coba menegaskan sikap diri dan pandangan > dunia, weltanschauung, untuk mengglobalkan, globalisasi, (budaya dan adat) > Minangkabau. Inikah pertanda apa yang disebut sebagai renaissance > (kebangkitan kembali) Minangkabau itu? > > > > Wallahua'lambishshawab. > > Ciputat, 8 Juli 2003 > > > RantauNet http://www.rantaunet.com > Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/daftar.php > ----------------------------------------------- > > Berhenti menerima RantauNet Mailing List, silahkan ke: > http://www.rantaunet.com/unsubscribe.php > =============================================== > RantauNet http://www.rantaunet.com Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/daftar.php ----------------------------------------------- Berhenti menerima RantauNet Mailing List, silahkan ke: http://www.rantaunet.com/unsubscribe.php ===============================================

