Assalamu'alaikum wr. wb.
Tadi pagi jam 10.00 ada ceramah dari Prof Tariq Ramadan di Gedung Perpustakaan Nasional di Salemba Raya.
Dalam diskusi itu beliau mengemukakan beberapa hal yang menyangkut Muslim yang tinggal dinegeri yang relatif sekuler, dan bagaimana seorang Muslim menyesuaikan diri dalam beberapa aspek kehidupan disana. Antara lain beberapa wacana publik yang meliputi privacy of individual, rationality, freedom, progree dan democracy. Dalam prakteknya hampir tidak ada hambatan bagi seorang Muslim dalam mengimplementasikan wacana itu dalam keseharian. Suatu hal yang bertolak belakang dengan kita yang berdomisili di negeri tercinta ini. Sebuah badingan yang bagus untuk posting Novenri St. Mudo kemarin; Renaissance Minang? yang sisusun oleh dunsanak Refdi N.
Salam
 
St.Bagindo Nagari (55) 
 
 

Prof. Tariq Ramadan

Pengalaman Seorang Mulim Eropa

Seiring dengan pertumbuhan penduduk Muslim di Barat, pertanyaan “apa artinya menjadi seorang Muslim di Barat” jadi kian penting, baik bagi Islam maupun bagi Barat. Pertanyaan itu pula yang menjadi pemikiran Prof. Tariq Ramadan sebagai salah seorang pemikir terkemuka Eropa, sekaligus pemilik suara inovatif dari kalangan Islam.

Sementara media hanya berkutat pada persoalan Islam radikal, menurut Prof. Ramadan, sebuah revolusi diam-diam terjadi di kalangan masyarakat Islam Barat, yaitu ketika Muslim berusaha hidup sesuai dengan keimanan mereka di dalam konteks Barat. Warga Muslim Perancis, Inggris, Jerman, dan Amerika, wanita maupun pria, berusaha memperoleh bentuk baru agama mereka dengan cara tetap setia pada ajaran Islam, sambil secara mantap menanamkan akar jati dirinya di dalam masyarakat Barat.

Tujuan Prof. Ramadan adalah menciptakan masyarakat Islam Barat yang independen, yang bertumpu bukan pada tradisi negara-negara Islam, tetapi pada realitas budaya Barat.  Dia memulainya  dengan menawarkan cara baru pembacaan sumber-sumber Islam, menginterpretasikannya untuk konteks Barat, dan menunjukkan betapa pemahaman baru terhadap prinsip-prinsip Islam yang universal dapat membuka pintu integrasi dengan masyarakat Barat. Dia kemudian menunjukkan bagaiman prinsip-prinsip tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Prof. Ramadan yakin bahwa umat Islam dapat, dan sesungguhnyalah memang harus, tetap setia pada ajaran Islam, sekaligus berpartisipasi secara penuh dalam kehidupan sebagai warga negara masyarakat Barat yang sekular. Dengan asas intelektualitas, Muslim Barat dan masa depan Islam menawarkan sebuah visi yang akan melahirkan sebuah identitas Muslim yang baru, yang menolak untuk selamanya gagasan bahwa Islam selalu bertentangan dengan Barat.

Lahir di Swiss, 26 Agusuts 1962 sebagai putra pertama pasangan Dr. Saiid Ramadan dan Wafa al-Banna ( putri sulung pendiri Ikhwanul Muslimin, Hassan al-Banna), Prof. Tarig Ramadan meraih gelar master dalam filsafat dan sastra Prancis sekaligus doktor di bidang studi Islam dari Geneva University. Beberapa buku sudah ditulisnya, salah satunya To be an European Muslim yang telah diterbitkan Mizan dengan judul Dialog Islam-Barat, Pergumulan Seorang Muslim Eropa.

Sebelum terlibat dalam pemikiran menyangkut masyarakat Muslim di Barat, ayah empat anak ini giat mencurahkan waktunya untuk solidaritas Dunia Ketiga. Dia banyak terlibat, antara lain dalam kegiatan Worker Priest di Amerika Selatan, serta dalam sejumlah proyek pembangunan di Benua Afrika, juga di Tibet, Asia. Prof. Ramadan juga pendiri dan presiden dari asosiasi ‘sikap mengajar penuh solidaritas” (solidarity teaching atittude).  Pada periode 1988-1992, dia diangkat sebagai dekan di Geneva College. Prof Ramadan menyatakan, “Pendidikan dasar inilah, yang dikombinasikan dengan studi ilmu-ilmu klasik, merupakan faktor yang banyak memberikan kontribusi dalam pemikiran saya saat ini menyangkut keberadaan Muslim di Eropa.”

Dalam kurun waktu 1992-1993, Prof Ramadan sejenak melepaskan diri dari tugas rutinnya dan bermukim di Kairo. Di ibukota Mesir itulah dia mempelajari Islam secara intesif, secara pribadi dan langsung dengan sejumlah syaikh di Universitas Al-Azhar. Menghabiskan waktu sepuluh hingga dua belas jam sehari dari subuh hingga maghrib, selama dua tahun, Prof Ramadan dapat menyelesaikan program studi yang seharusnya ditempuh dalam empat tahun. Di Kairo itu pula dia secara intensif berhubungan dengan sejumlah cendekiawan Islam terkemuka.

Kini Prof. Ramadan mengajar filsafat di Geneva College dan mengajar ilmu-ilmu Islam di Universitas Fribourg, dan aktif ambil bagian dalam arus pemikiran mengenai Islam di Eropa dan di seluruh penjuru dunia. Sejak 1997, dia memberikan kuliah bulanan di Belgia dan Prancis megenai keberadaan Muslim di Eropa. Dia sangat aktif dalam komunitas Eropa maupun komunitas Muslim, juga sebagai staf ahli beberapa komisi Parlemen Eropa di Brussel. Selain itu Prof. Ramadan adalah anggota beberapa lembaga yang concern terhadap perkembangan Islam Eropa dan di seluruh dunia, seperti Deutsches Orient Institut, British Council, Vienna Piece Summit, Barcelona 2004 dan Komisi Liga Pendidikan Prancis “Laicite et Islam”.

 

 

Kirim email ke