Kampung om nopen ternyata dulunya ada bunga raflesia. Sekarang kok nggak ada lagi? Apa ini gara-gara om nopen kerjasama sama mas karebet, juragan kayu muara labuh itu?
Beberapa hari yang lalu saya nonton TV, menyiarkan bahwa bunga ini berhasil mekar di Newyork (?). Kapan kita bisa melihat tumbuhan ini mekar lagi di mualab? Daripada ngurusin kabupaten solok selatan, mendingan kita ngurusin sarang walet dan Bunga Bangkai. :) Eh, mong-omong, om nopen mau saya calonin jadi bupati? See you next week. ~rarach Dari http://www.changjaya-abadi.com/natural_12.htm ============================================ Rafflesia Hasselti Raffjesia hasselti Suringar pertama kali ditemukan di Muara Labuh dan Lampatan Anjang. Sumatera Barat pada tahun 1918. Setelah itu, bunga yang tidak mempunyai butir-butir klorofil ini seakan menghilang. Spesies hasselti memang tumbuh endemic (hanya di daerah tertentu saja), yakni di Pulau Sumatera. Ia ditemukan pada ketinggian 1.500 meter dpl di petak nomor 386 areal HPH Pt Serestra II, kurang lebih empat meter dari tepi anak sungai Sengak, Jambi. Bercak putih pada bunga ini cukup dominant. Inilah, salah satu hal yang membedakan rafflesia ini dengan spesies yang lain. Pada spesies rafflesia lainnya, bercak putih tampak kusam dan berupa titik- titik kecil. Kelopak bunganya berdiameter 60 cm dan berwarna merah bata. Bunga yang tergolong unik, karena tidak mempunyai batang dan daun ini hanya mampu bertahan hidup selama tujuh hari. Padahal sampai terbentuk bunga yang sempurna, tanaman tersebut memerlukan waktu lamanya 20 bulan. Di habitatnya, rafflesia ini tumbuh di perakaran tumbuhan Tetratigma sp, karena ia merupakan holoparasit. Artinya, refflesia bergantung sepenuhnya kepada tumbuhan lain untuk kebutuhan makannya. Diukur dari permukaan perakaran Tetrastigma ini tinggi rafflesia hanya 25 cm. Diareal HPH itu ditemukan dua tanaman rafflesia tergolong tanaman berumah dua. Yakni bunga jantan dan betina terdapat pada tanaman yang berbeda. Bau seperti daging busuk pada bunga ini berguna untuk mengundang serangga melakukan penyerbuhan. Tumbuhan yang termasuk famili Refflesiaceae ini, keberadaannya mulai terancam. Hutan hujan tropis sebagai habitatnya mengalami kerusakan, dan berubah sedikit demi sedikit menjadi lahan pemukiman penduduk dan fungsi lainnya di luar kehutanan. Di samping itu, penduduk yang memburu refflesia untuk dijadikan campuran obat-obatan turut mengancam kelestarian rafflesia, yakni terancamnya populasi, habitat dan ekosistem mikronya rusak. Di Indonesia jenis tumbuhan yang tergolong langka ini dilindungi undang-undang. Status kelangkaan refflesia sp. Adalah vulearable (rawan), endangered (genting), dan untuk beberapa jenis dapat dikategorikan ke dalam kelangkaan indeterminate (terkikis). Status kelangkaan vulnerable rafflesia termasuk ketegori jenis yang terancam punah, terdapat dalam jumlah yang sangat sedikit dan eksploitasinya terus berlangsung sehingga perlu dilindungi. Pelestarian bunga rafflesia melalui penangkaran hingga saat ini belum berhasil. Pelestarian yang mungkin dilakukan adalah dengan konservasi insitu, yaitu melindungi habitat asli dari kerusakan dan eksploitasi hutan. Di samping itu upaya pelestarian tanaman yang hanya dijumpai di sebelah barat Garis Wallace ini. RantauNet http://www.rantaunet.com Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/daftar.php ----------------------------------------------- Berhenti menerima RantauNet Mailing List, silahkan ke: http://www.rantaunet.com/unsubscribe.php ===============================================

