"Halawatul Iman"

Hari itu sangat panas. Matahari berada diatas kepala, menyengat. Bilal
memejamkan mata, lirih berdzikir : "ahad...ahad". Dengan kedua tangan
terikat ketat, kaki telanjang menancap di tanah panas berpasir, Bilal
disiksa. Cambukan bertubi-tubi Abu Sufyan, tuannya, tak sedikitpun
mengendurkan hati Bilal. Sebagai budak, Bilal memperoleh tidak sedikit
perlakuan kejam. Setiap kali dicambuk, bibir Bilal menyebut nama Tuhan yang
Esa, ahad.ahad.

Sebagai budak Abu Sufyan, orang terpandang dan kelompok elit Mekkah, Bilal
tidak bisa leluasa meluapkan panggilan hati untuk bertauhid. Keimanan dan
keteguhan jiwanya diuji. Semangat ketauhidan yang selama ini disimpan tak
bisa lagi disembunyikan. Sang tuan mengetahui pemihakan sang budak terhadap
agama baru yang sangat dibencinya karena mengajarkan kesetaraan manusia.
Menurut agama baru ini, Islam, orang hitam dan putih dipandang sama.
Mengajarkan untuk memperlakukan budak dengan tidak semena-mena. Semua
manusia satu lini dalam pengabdian dan penyembahan kepada Tuhan yang
Tunggal, sama dalam ketundukan dan kepasrahan dihadapan Tuhan yang Satu.

Kebangkitan Islam, di mata Abu Sufyan, tidak saja meruntuhkan posisi
kekuasaannya di lingkungan Arab jahiliyah, namun menggoncang tatanan
kemapanan yang telah dinikmatinya selama ini berkat keturunan pada dirinya.
Hal demikian menggerakkan Abu Sufyan untuk gencar menentang penyebaran
Islam. Masuknya Bilal dalam pangkuan kelompok Rasullullah (saw), menjadikan
Abu Sufyan seakan ditohok dari pusat jantung.

Bilal, dengan kemantapan iman dan keyakinan kuat terhadap ketauhidan Allah,
sama sekali tidak membuatnya bergeming untuk selalu memegangi erat Islam
kendati siksaan dan perlakuan tidak manusiawi sang Tuan tidak berkurang.  Ia
menikmati iman dan kelezatannya dengan penuh kesadaran. Lezat iman menutupi
siksa badani. Lapar dan haus, bagi Bilal, bukan bandingan untuk kelezatan
dan ketenangan batin yang dipenuhi dengan aliran iman. Siksaan dan tetesan
darah tidak mengalahkan kedamaian hati tempat besemayam Iman kepada Allah.
Iman adalah segalanya, pemberi makna hidup, pengisi jiwa dan pendamai hati.

Di beberapa daerah tropis kita dapati tidak sedikit kegemaran penduduk
setempat dalam mengkonsumsi makanan serba pedas, cabai dan sambal. Mereka
tidak memperdulikan waktu dan cuaca. Terkadang terik matahari tidak
mengurangi kegemaran ini, bahkan makanan masih panas yang baru diangkat dari
tungku sama sekali tidak  menghalangi. Muka merah, mata berair, hidung
beringus, peluh dan keringat menetes deras, dan tak henti-hentinya mulut
menganga menahan rasa pedas, dilihat oleh orang lain sebagai sebuah
penderitaan, kesakitan dan kesengsaraan. Namun bagi orang pertama, semua
kesan tadi tidaklah begitu. Menurutnya adalah sebaliknya : bahagia, puas,
tenang batin. Kecintaannya pada yang serba pedas menepis semua kesan-kesan
kesakitan. Ia bahagia dalam penderitaan.

Bagi Bilal, mengenggam iman adalah menggenggam kebahagian yang bisa menepis
semua kesan penderitaan dan kesengsaraan. Bahagia batin terasa lebih nikmat
daripada tubuh. Siksaan Abu Sufyan bukanlah penghalang untuk tumbuhnya iman
dan pengakuan kebenaran ajaran universal Islam. Bilal bahagia dalam
penderitaan.

***
Namun, mengenggam iman tidak menjamin secara otomatis datangnya ketentraman
optimal dan kebahagian utuh tanpa dengan disertai syarat : selalu mengingat
Allah swt. Nama Allah yang Maha Suci akan mendatangkan ketentraman dan
ketenangan jiwa. Firmannya :
"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah (dzikrullah) hati menjadi tentram."
(Q.S. Arra'd : 28).
Dari riwayat Abu Musa r.a, Rasullullah bersabda :
"Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Tuhannya dengan orang yang tidak
berdzikir kepada Tuhannya, adalah seperti orang yang hidup dengan orang
 mati".

"Maka ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu. Dan
bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku". (Q.S. Al
Baqarah : 152)

Dzikir dan Iman adalah satu rangkaian yang memungkinkan setiap Muslim
menerima siraman kebahagian. Dengan Iman, seorang Muslim bisa tegar, sabar
dan kuat dalam mengarungi kehidupan. Ia bahagia dalam cobaan hidup yang
penuh penderitaan, kesengsaraan dan kesakitan. Dengan iman di hati, ia
bersikap tawakal. Allah berfirman : "Sesungguhnya orang-orang beriman itu
ialah orang-orang yang apabila disebut (nama) Allah, gemetar hati mereka,
dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, maka bertambah iman
mereka karenanya. Dan kepada Tuhanlah mereka bertawakal". (Q.S. Al Anfal :
2)

Wallahu a'lam bisshowab.






RantauNet http://www.rantaunet.com
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/daftar.php
-----------------------------------------------

Berhenti menerima RantauNet Mailing List, silahkan ke: 
http://www.rantaunet.com/unsubscribe.php
===============================================

Kirim email ke