----- Original Message ----- From: "dutamardin" <[EMAIL PROTECTED]> To: <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]> Sent: Sunday, August 17, 2003 4:22 AM Subject: [RantauNet.Com] Monumen itu yang bernama Masjid
> Assalaamu'alaikum WW., Wa'alaikum salam w.w. > Saya melihat, umumnya masjid saat ini adalah hanya sekedar ?>monumen, > ketimbang pusat kegiatan masyarakat yang mampu memberdayakan >masyarakat sekitarnya. Pak Duta, Saat ini sudah banyak alternatif untuk dijadikan pusat kegiatan masyarakat, jadi situasi zaman saisuak sudah jauh berbeda dengan situasi saat ini. Dahulu surau memang terpaksa dijadikan pusat kegiatan masyarakat karena memang inilah satu-satunya tempat yang memungkinkan. Dahulu surau satu-satunya center of excellence untk mempelajari agama dalam suatu desa, bahkan untuk mempelajari beberapa ilmu keduniawian, seperti silat, keterampilan berpidato dan berda'wah bahkan tempat untuk "rendevouz" bujang jo gadih pada suatu kegiatan kemasyarakatan tertentu. Surau juga, disamping lapau, berfungsi untuk penyebaran informasi bagi penduduk suatu desa. Saat ini masyarakat sudah punya banyak alternatif untuk mendengarkan da'wah, seperti TV dan radio yang sudah masuk sampai ke gubuk-gubuk reyot. Koran lokal memuat banyak sekali artikel keagamaan, bahkan media cetak lain ada yang sudah mengkhususkan dirinya dalam masalah keagamaan. Jadi orang sudah tidak memerlukan surau sebagai satu-satunya sumber pelajaran agama dan informasi umum. Pelajaran agama untuk anak-anak tidak lagi dilakukan di surau karena hampir setiap desa sudah punya tempat khusus yang bernama TPA dan TPSA, bahkan setiap SD juga memberikan pelajaran agama di TPA yang mereka dirikan dengan kegiatan belajar di luar jam belajar sekolah. Bila masalah yang dikemukakan adalah shalat lima waktu berjamaah yang makin sepi, mungkin jawabannya adalah sudah semakin sibuknya warga sekitar mesjid dalam hidupnya. Pegawai negeri dan pekerja luar rumah lainnya sudah harus berangkat sejak subuh dari rumah dan baru pulang ke rumah larut senja dengan badan yang sudah letih yang tidak memungkinkan mereka untuk pergi ke mesjid untuk shalat maghrib dan isya. Setiap kantor, sekolah di atas SD, terminal, pasar dan perusahaan besar seperti PLN di Sumbar biasanya memiliki mushalla, bahkan ada yang memiliki mesjid, jadi pegawainya bisa shalat zuhur dan ashar berjamaah di mushalla kantornya, atau di sekitar lokasi ia berusaha. Jadi Pak Duta tidak perlu heran bila surau/mesjid tidak seramai dulu lagi. Itu bukan satu-satunya indikasi melemahnya hidup keagamaan di Sumbar. mak Sati (66->67) RantauNet http://www.rantaunet.com Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/daftar.php ----------------------------------------------- Berhenti menerima RantauNet Mailing List, silahkan ke: http://www.rantaunet.com/unsubscribe.php ===============================================

