Pelajaran dari  Tegallinggah, Bali

Melanjutkan laporan perjalanan mudik bulan lalu, saya juga berkesempatan melihat Bali 
dari sisi lain. Sisi bukan dunia wisata. Dua malam bermalam dirumah keluarga almarhum 
Haji Umar di Desa Tegallinggah, Kabupaten Buleleng,  memberikan beberapa pelajaran 
berharga, disamping merasakan kehangatan persaudaraan nyonya rumah dan seisi rumah.

Seperti diketahui Bali adalah identik dengan Hindu yang sangat kental tradisinya. 
Namun Tegallinggah bukanlah sepenuhnya Hindu. Separuh wilayah dan penduduk desa itu 
adalah muslim. Bukan muslim pendatang yang masih memakai bahasa asli daerah mereka. 
Muslim Tegallinggah mengaku Bali-Muslim. Mereka berbahasa Bali sehari-harinya. Bahasa 
Bali adalah bahasa ibu mereka. 

Pelajaran pertama saya lihat adalah kerukunan hidup antar umat beragama, yang 
benar-benar ikhlas, tanpa polesan basa-basi politik. Sampai bom Bali yang terkenal 
itu, tidak menggeser sedikitpun rasa kekeluargaan mereka, walaupun Islam dibawa-bawa. 
Tidak seperti dikota Denpasar atau Singaraja, terjadi pelecehan terhadap umat Islam. 
Di  Tegallinggah azan disetiap waktu sudah hal yang lumrah ditelinga umat Hindu. 
Sementara bunyi semedi sampai larut malam bukanlah juga suatu yang aneh ditelinga umat 
Islam. Malahan azan subuh juga disyukuri umat Hindu, dimana dengannya mereka ikut 
bangun mulai kesawah.

Kerukunan juga melahirkan  konsensus alias kesepakatan bersama. Sejak bergenerasi di 
Tegallinggah itu sudah terjalin konsensus bergantian menjadi kepala desa. Kalau priode 
ini Muslim, maka priode berikutnya adalah Hindu dan seterusnya. Era reformasi sedikit 
mengganggu  konsensus itu, karena demokrasi ala Barat diprakktekkan pula di desa itu, 
yang berakibat, tak pernah lagi Muslim menjadi kepala desa. Lho..kok bisa? Habis, pada 
setiap pemilu desa, umat Islam tak pernah datang dengan calon tunggal. Sementara umat 
Hindu selalu calonnya satu. Ini merupakan pelajaran kedua dari desa itu. Perpecahan 
umat Islam ternyata juga sudah merambah kedesa yang makmur itu. Indahnya,
umat Hindu di desa itu tetap memperlihatkan persaudaraannya dengan  mengangkat orang 
kedua, sekretaris desa dari kalangan Islam. Ini pelajaran berikutnya bagi saya, yaitu 
umat Islam yang susah bersatu dan umat Hindu yang tetap setia dengan konsensusnya. 
Paling kurang didesa Tegallinggah itu.


Wassalam

Dutamardin Umar
Virginia-USA


RantauNet http://www.rantaunet.com
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/daftar.php
-----------------------------------------------

Berhenti menerima RantauNet Mailing List, silahkan ke: 
http://www.rantaunet.com/unsubscribe.php
===============================================

Kirim email ke