Assalaamu'alaikum WW., Tarimokasih sanak ambo Zul Amry atas tambahan infonyo. Memang sayang bana awak indak basuo. Insya Allah lain waktu. Ma tahu di Washington...
Wassalam duta --- "amry1948" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Ajo Duta Yth ; Assalamualikum Wr.wb : Senang sekali membaca tulisan Ajo mengenai muhibah ke Bali beberapa waktu yang lalu , dan sayang sekali kita tidak bisa berjumpa , tapi suaro ajo sajo yang bisa ambo dangakan melaui hp , untuk melengkapi tulisan ajo ado baiknyo ambo tambahkan bahwa disampiang tegallinggah , ado duo lai tampek komunitas islam nan terkenal di bali , satunyo adolah desa kepaon di denpasar , daerah ko aslinyo dulu adolah pemberian atau hadiah dari rajo Badung (denpasar) yang disebut juga rajo pemecutan , karano rajo ko lagi ado masalah dengan rajo lainnyo , mako rajo baduangko dibantu dek lasykar islam yang barasa dari bugis , sehingga dapat memenangkan perang , sehingga sebagai hadiah diagiah sebidang lahan sebagai tempat pemukiman yang kini menjadi desa kepaon tu . Satu lagi adolah desa Pagayaman didaerah Singaraja juo , dan didesa ko umat islam malah buliah dikatokan mayoritas , namun identitas hindu alun hilang samo sakali tarutamo dalam penggunaan namo , mereka mengkombinasikan namo - namo hindu dan islam , mako tak heran disitu urang bali nan banamo I Wayan Syamsul Bahri , I Ketut Dimyati ataupun I Made Syahroni dlsb .Salamek ambo sampaikan ka Ajo Duta lah babaliak ka Amrik . Wassalam : zul amry (55 + ) di kuta bali --- In [EMAIL PROTECTED], dutamardin <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Pelajaran dari Tegallinggah, Bali > > Melanjutkan laporan perjalanan mudik bulan lalu, saya juga berkesempatan melihat Bali dari sisi lain. Sisi bukan dunia wisata. Dua malam bermalam dirumah keluarga almarhum Haji Umar di Desa Tegallinggah, Kabupaten Buleleng, memberikan beberapa pelajaran berharga, disamping merasakan kehangatan persaudaraan nyonya rumah dan seisi rumah. > > Seperti diketahui Bali adalah identik dengan Hindu yang sangat kental tradisinya. Namun Tegallinggah bukanlah sepenuhnya Hindu. Separuh wilayah dan penduduk desa itu adalah muslim. Bukan muslim pendatang yang masih memakai bahasa asli daerah mereka. Muslim Tegallinggah mengaku Bali-Muslim. Mereka berbahasa Bali sehari- harinya. Bahasa Bali adalah bahasa ibu mereka. > > Pelajaran pertama saya lihat adalah kerukunan hidup antar umat beragama, yang benar-benar ikhlas, tanpa polesan basa-basi politik. Sampai bom Bali yang terkenal itu, tidak menggeser sedikitpun rasa kekeluargaan mereka, walaupun Islam dibawa-bawa. Tidak seperti dikota Denpasar atau Singaraja, terjadi pelecehan terhadap umat Islam. > Di Tegallinggah azan disetiap waktu sudah hal yang lumrah ditelinga umat Hindu. Sementara bunyi semedi sampai larut malam bukanlah juga suatu yang aneh ditelinga umat Islam. Malahan azan subuh juga disyukuri umat Hindu, dimana dengannya mereka ikut bangun mulai kesawah. > > Kerukunan juga melahirkan konsensus alias kesepakatan bersama. Sejak bergenerasi di Tegallinggah itu sudah terjalin konsensus bergantian menjadi kepala desa. Kalau priode ini Muslim, maka priode berikutnya adalah Hindu dan seterusnya. Era reformasi sedikit mengganggu konsensus itu, karena demokrasi ala Barat diprakktekkan pula di desa itu, yang berakibat, tak pernah lagi Muslim menjadi kepala desa. Lho..kok bisa? Habis, pada setiap pemilu desa, umat Islam tak pernah datang dengan calon tunggal. Sementara umat Hindu selalu calonnya satu. Ini merupakan pelajaran kedua dari desa itu. Perpecahan umat Islam ternyata juga sudah merambah kedesa yang makmur itu. Indahnya, > umat Hindu di desa itu tetap memperlihatkan persaudaraannya dengan mengangkat orang kedua, sekretaris desa dari kalangan Islam. Ini pelajaran berikutnya bagi saya, yaitu umat Islam yang susah bersatu dan umat Hindu yang tetap setia dengan konsensusnya. Paling kurang didesa Tegallinggah itu. > > > Wassalam > > Dutamardin Umar > Virginia-USA RantauNet http://www.rantaunet.com Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/daftar.php ----------------------------------------------- Berhenti menerima RantauNet Mailing List, silahkan ke: http://www.rantaunet.com/unsubscribe.php =============================================== RantauNet http://www.rantaunet.com Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/daftar.php ----------------------------------------------- Berhenti menerima RantauNet Mailing List, silahkan ke: http://www.rantaunet.com/unsubscribe.php ===============================================

